Connect with us

Berita

WALHI Sebut Penyempitan Aliran Sungai Dapat Meningkatkan Risiko Banjir

WALHI kritik proyek penyempitan Kali Cikumpa, Depok, karena tingkatkan risiko banjir, rusak ekosistem sungai, dan turunkan kualitas air secara signifikan.

Logompn

Published

on

Walhi sebut penyempitan aliran sungai dapat meningkatkan risiko banjir
WALHI Sebut Penyempitan Aliran Sungai Dapat Meningkatkan Risiko Banjir. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 3 Mei 2025 - Penyempitan aliran sungai akibat proyek pembangunan, seperti proyek turap di Kali Cikumpa, Depok, menjadi perhatian serius bagi pemerhati lingkungan.

WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) menegaskan bahwa praktik tersebut dapat memperbesar risiko banjir dan bencana alam di wilayah terdampak maupun daerah sekitarnya.

Dampak Penyempitan Sungai terhadap Risiko Banjir

Manajer Kampanye Tata Ruang dan Infrastruktur WALHI Nasional, Dwi Sawung, menjelaskan bahwa penyempitan aliran sungai berdampak langsung pada peningkatan muka air sungai.

Hal ini menyebabkan kapasitas sungai dalam menampung air hujan berkurang secara signifikan, sehingga memperbesar risiko banjir di area hulu dan hilir.

Selain itu, penyempitan juga dapat menyebabkan genangan air di lokasi yang sebelumnya tidak rawan banjir.

“Proyek penyempitan aliran sungai, seperti yang terjadi di Kali Cikumpa, akan memperburuk risiko banjir dan kerusakan lingkungan. Bukan hanya di lokasi proyek, tetapi dampaknya bisa meluas ke daerah sekitarnya. Sungai yang sempit tidak lagi memiliki kapasitas untuk menampung air hujan, yang akan meningkatkan potensi bencana di masa depan,” ujar Dwi Sawung kepada MPN Indonesia dalam pesan singkat, pada Jumat (2/5).

Kerusakan Ekosistem Sungai

Dalam jangka pendek, menurut Dwi Sawung, penyempitan sungai menyebabkan terganggunya ekosistem sungai.

Keanekaragaman hayati yang bergantung pada habitat alami sungai menjadi terancam.

Banyak organisme air kehilangan tempat hidup, yang berdampak pada rantai makanan di kawasan tersebut.

Sementara itu, dampak jangka panjang lebih serius. Sungai yang telah kehilangan sebagian besar kapasitasnya tidak lagi mampu menjalankan fungsi alami sebagai penahan banjir dan penyaring pencemaran air.

Baca Juga:  Gempa M 6,0 Guncang Afghanistan, 250 Orang Tewas

“Jangka pendek ekosistem sungai jadi hilang/terganggu, jangka panjang sungainya kehilangan fungsi dan banjir semakin tinggi dan berbahaya,” terang Dwi Sawung.

Dampak Terhadap Kualitas Air dan Pencemaran Lingkungan

Penyempitan sungai juga memengaruhi kemampuannya dalam menetralkan pencemaran.

Kapasitas sungai yang berkurang menyebabkan air yang tercemar tidak dapat diproses secara alami.

Limbah yang masuk ke dalam sungai menjadi sulit diurai, sehingga kualitas air menurun drastis.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ekosistem tetapi juga pada masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

“Risiko banjir jadi semakin tinggi karena sungai yang tadinya bisa menampung air jadi berkurang kemampuannya dan muka airnya jadi meninggi juga karena sungainya jadi menyempit. Kalau dalam hal pencemaran, kemampuan sungai untuk menetralkan/memulihkan juga jadi semakin kecil karena penyempitan badan sungai,” jelas Dwi Sawung.

Rekomendasi WALHI untuk Pembangunan Berkelanjutan

Sebagai langkah mitigasi, Dwi Sawung memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan pengembang perumahan agar setiap pembangunan memperhatikan kapasitas daya tampung dan daya dukung lingkungan.

“Kami selalu menyarankan mengikuti daya tampung dan daya dukung lingkungan, tidak membangun melebihi daya dukung dan daya tampung lingkungan,” tegas Dwi Sawung.

Pemerintah dan pengembang diimbau untuk memastikan bahwa proyek pembangunan yang melibatkan perubahan besar pada aliran sungai atau ekosistem sekitarnya dilakukan dengan prinsip berwawasan lingkungan.

Pembangunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan dapat menambah masalah baru, termasuk bencana alam dan banjir yang lebih sering serta kerusakan ekosistem yang sulit dipulihkan.

Penyeimbangan Pembangunan dan Kelestarian Alam

Dwi Sawung menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.

Setiap proyek pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan sungai dan sumber daya alam lainnya, harus dirancang dengan pertimbangan matang terhadap dampak lingkungan.

Baca Juga:  Pilu! Tangis Peternak Aceh saat Temukan Kambingnya Tewas Terendam Banjir

“Memperhatikan keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam adalah kunci untuk menghindari bencana alam yang semakin sering terjadi,” tutup Dwi Sawung.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending