Internasional
AS-Iran Memanas, Armada Perang Trump Telah Tiba di Timur Tengah
Armada perang AS yang dipimpin USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
MPN Indonesia 28 Januari 2026 - Armada perang Amerika Serikat yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln resmi tiba di kawasan Timur Tengah sejak Senin (25/1).
Kapal induk ini disertai tiga kapal perusak berpeluru kendali, beberapa skuadron jet tempur F-35 Lightning II dan F/A-18 Super Hornet, serta dukungan jet tempur F-15E Strike Eagle.
“Kelompok penyerang tersebut saat ini dikerahkan ke Timur Tengah untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional,” Komando Pusat AS dalam keterangannya di media sosial, dikutip MPN Indonesia pada Rabu (28/1) melalui AP News.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa pengerahan armada ini bertujuan “hanya untuk berjaga-jaga,” sambil tetap membuka opsi militer terhadap Iran.
Trump mengancam akan melakukan tindakan militer jika Iran melanjutkan eksekusi terhadap demonstran yang ditahan selama aksi protes sejak akhir Desember.
Menurut data aktivis, sedikitnya 5.973 orang telah tewas dan lebih dari 41.800 ditahan. Namun, angka resmi dari pemerintah Iran mencatat 3.117 korban jiwa.
Ketegangan meningkat seiring peringatan dari kelompok bersenjata pendukung Iran, seperti Hizbullah dan Kataib Hizbullah di Irak, yang menyatakan siap terlibat dalam konflik jika Teheran diserang.
“Kami akan memilih pada saat itu bagaimana harus bertindak… tetapi kami tidak netral,” ujar Pemimpin Hizbulla, Naim Qassem, dikutip MPN Indonesia pada Rabu (28/1) melalui Al Arabiya.
Eskalasi Politik Internasional di Tengah Krisis
Kehadiran kapal induk AS dan kapal perusak di kawasan Teluk serta Laut Mediterania memperkuat posisi militer Amerika Serikat, memungkinkan serangan ke Iran tanpa memerlukan izin dari negara pihak ketiga.
Menurut laporan, langkah ini terjadi setelah sebelumnya USS Gerald R. Ford dikerahkan ke Karibia, meninggalkan Timur Tengah tanpa kehadiran kapal induk sejak Oktober.
Di sisi lain, Iran menolak tegas setiap bentuk intervensi asing.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran “memantau dengan cermat setiap pergerakan” dan memperingatkan bahwa pengerahan militer AS bertentangan dengan prinsip sistem internasional.
Sementara itu, Trump menyampaikan bahwa tekanan militer telah mencegah eksekusi terhadap 800 tahanan di Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh otoritas Iran.
Jaksa penuntut umum Iran menyebut pernyataan Trump sama sekali tidak benar.
Respons Regional dan Potensi Perang Luas
Dukungan untuk Iran juga datang dari kelompok Kataib Hizbullah di Irak.
Pemimpinnya, Abu Hussein al-Hamidawi, memperingatkan bahwa perang terhadap Iran “tidak akan menjadi jalan-jalan santai” dan menyebut Iran sebagai “benteng dan kebanggaan umat Muslim”.
“Kalian akan merasakan bentuk kematian yang paling pahit, dan tidak akan ada yang tersisa dari kalian di kawasan kami,” tegas al-Hamidawi, dikutip MPN Indonesia melalui Al Jazeera pada Rabu (28/1).
Kondisi ini berbeda dengan serangan pada Juni 2025, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke tiga situs nuklir Iran, namun kelompok pendukung Iran tidak turut serta secara langsung.
Kini, al-Hamidawi menyatakan kesiapan untuk membantu Iran dengan “cara apa pun yang mereka bisa”.
Di sisi lain, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding bahwa Amerika Serikat mencoba menghancurkan kohesi sosial Iran sebelum melancarkan serangan militer.
“Taktik AS adalah memecah kohesi publik terlebih dahulu, baru kemudian melakukan serangan militer,” ujarnya Larijani, dikutip MPN Indonesia melalui The Guardian pada Rabu (28/1).
Upaya Diplomatik dan Penolakan Iran
Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan pembicaraan.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu. Mereka telah menelepon berkali-kali,” ujar Trump, dikutip MPN Indonesia melalui Gulf News pada Rabu (28/1).
Akan tetapi, Iran membantah adanya kontak dengan utusan AS Steve Witkoff.
Baghaei menegaskan bahwa laporan tersebut tidak benar, dan menolak tuntutan baru dari AS seperti pengembalian inspektur senjata PBB dan pembatasan program rudal.
Iran juga menegaskan bahwa kedatangan kapal perang AS tidak memengaruhi sikap dan tekad negara itu.
“Kedatangan kapal perang semacam itu tidak akan memengaruhi tekad dan keseriusan Iran untuk membela bangsa Iran,” ujar Baghaei.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
