Connect with us

Internasional

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Ini Dampak Terbesarnya bagi Dunia!

Iran mengancam tutup Selat Hormuz, jalur 20% minyak dunia. Negara Asia dan pasar global terancam krisis energi dan lonjakan harga minyak.

Logompn

Published

on

Iran ancam tutup selat hormuz, ini dampak terbesarnya bagi dunia!
Ilustrasi Bendera Iran. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 26 Juni 2025 - Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklirnya.

Selat strategis ini merupakan jalur utama bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.

Jika ditutup, dampaknya akan terasa luas, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari wilayah Teluk seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

“Saya mendorong pemerintah China di Beijing untuk menghubungi mereka [Iran] tentang hal ini, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk kebutuhan minyak mereka,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam sebuah wawancara dengan Fox News, dikutip MPN Indonesia dari laman BBC, Kamis (26/6).

Negara-Negara Asia Terancam Krisis Energi

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat bahwa pada 2022, sekitar 82% ekspor minyak dari Selat Hormuz dikirim ke Asia.

China menjadi pembeli terbesar dengan hampir 90% ekspor minyak Iran menuju negara tersebut.

India dan Korea Selatan juga sangat tergantung, dengan sekitar setengah hingga 60% pasokan minyak mereka melalui jalur ini.

“Ini akan memberikan dampak langsung pada pasar dunia, karena Anda akan melihat lonjakan harga minyak, dan pasar saham akan bereaksi dengan sangat gugup terhadap situasi ini,” ucap Bader Al-Saif, Asisten Profesor di Universitas Kuwait.

Selat Hormuz dan Posisi Strategis Energi Global

Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, merupakan jalur pengiriman minyak paling penting di dunia.

Pada 2023, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur ini, setara dengan nilai hampir USD 600 miliar per tahun.

Baca Juga:  Hizbullah Blokir Jalan ke Bandara Beirut Lebanon usai Pesawat Iran Dilarang Mendarat

Minyak ini berasal dari Iran, Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Arab Saudi menjadi eksportir terbesar melalui selat ini, yakni sekitar 6 juta barel per hari.

Potensi Strategi Militer Iran

Para ahli menyebut bahwa Iran memiliki kemampuan militer untuk menutup Selat Hormuz, termasuk penggunaan ranjau laut, kapal cepat bersenjata rudal, dan kapal selam semi-submersible.

Namun, jika Iran benar-benar menutup selat tersebut, AS dan sekutunya diperkirakan akan merespons dengan tindakan militer untuk membukanya kembali.

Situasi ini mengingatkan pada konflik internasional di Teluk pada akhir 1980-an saat AS melakukan operasi pengawalan besar untuk melindungi kapal tanker.

Ketergantungan Regional dan Jalur Ekspor Alternatif

Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz bukanlah yang pertama kali dilontarkan.

Meskipun belum pernah benar-benar terjadi, ketegangan tetap meningkat seiring situasi geopolitik yang memanas.

Iran sendiri masih menunggu keputusan akhir dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang berada di bawah otoritas Pemimpin Tertinggi Iran.

Sementara itu, negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) telah mengantisipasi risiko penutupan selat dengan membangun jalur ekspor alternatif.

Arab Saudi, misalnya, mengoperasikan pipa East-West yang mampu mengalirkan hingga 5 juta barel minyak per hari ke Laut Merah.

UEA juga memiliki jalur pipa yang menghubungkan ladang minyak mereka ke pelabuhan Fujairah di Teluk Oman dengan kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari.

Iran sendiri membangun pipa Goreh–Jask yang dapat menyalurkan sekitar 350.000 barel per hari ke Teluk Oman, meski kapasitas optimalnya masih belum tercapai.

Risiko Global Jika Selat Hormuz Ditutup

Ancaman Iran ini mendapat perhatian besar dunia internasional karena potensi dampaknya terhadap ekonomi global.

Baca Juga:  Konflik dengan AS, Iran Nego ke FIFA agar Piala Dunia Pindah ke Meksiko

“Menutup selat ini jelas akan menjadi masalah ekonomi besar mengingat dampaknya terhadap harga minyak,” ungkap Sir Alex Younger, mantan Kepala MI6 Inggris.

“Iran berisiko mengubah tetangganya di Teluk yang juga produsen minyak dan gas menjadi musuh, serta membahayakan hubungannya dengan pasar utama mereka, China, dengan mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz,” jelas analis energi Vandana Hari.

Penutupan Selat Hormuz tak hanya memukul pasokan energi dunia, tapi juga memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan biaya distribusi global.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending