Connect with us

Internasional

Sekjen PBB Sebut Islamofobia di Dunia Meningkat

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa Islamofobia semakin meningkat di berbagai belahan dunia.

Pexels photo

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 03 17t091711.710
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres | Gambar: AFP

MPN Indonesia 17 Maret 2025 - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan bahwa Islamofobia semakin meningkat di berbagai belahan dunia.

Dikutip MPN Indonesia dari Reuters, pernyataan ini disampaikan Gutteres melalui pesan video menjelang peringatan Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia.

Dalam pernyataannya, Guterres menyoroti maraknya ujaran kebencian serta diskriminasi terhadap umat Muslim.

Ia juga mendesak platform digital untuk mengambil langkah dalam membatasi penyebaran ujaran kebencian dan pelecehan berbasis daring.

Peningkatan Islamofobia Pascakonflik di Gaza

Menurut PBB dan berbagai organisasi hak asasi manusia, Islamofobia, bias terhadap Arab, serta antisemitisme semakin meningkat sejak eskalasi konflik di Gaza.

“Kita sedang menyaksikan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kebencian terhadap Muslim,” ujar Gutteres.

“Mulai dari profiling rasial dan kebijakan diskriminatif yang melanggar hak asasi manusia serta martabat, hingga kekerasan terang-terangan terhadap individu dan tempat ibadah,” imbuhnya. 

Ia juga menekankan perlunya tindakan untuk membatasi penyebaran ujaran kebencian.

“Platform daring harus menekan ujaran kebencian dan pelecehan. Kita semua harus bersuara menentang kefanatikan, xenofobia, dan diskriminasi,” pungkasnya.

Dampak Islamofobia terhadap Masyarakat Muslim

Islamofobia adalah tindakan permusuhan, ketakutan, dan kebencian yang tidak rasional terhadap Muslim serta budaya Islam.

Diskriminasi terhadap individu atau kelompok Muslim sering terjadi di berbagai sektor kehidupan, baik dalam kebijakan negara maupun dalam interaksi sosial.

Aktivis hak asasi manusia telah lama menyuarakan keprihatinan terhadap stigma yang dihadapi umat Muslim dan komunitas Arab.

Mereka menyoroti pandangan keliru yang menghubungkan Islam dengan kelompok militan, yang memperburuk bias dan prasangka negatif terhadap Muslim.

Baca Juga:  Viral! Delegasi Masyarakat Adat RI Ditegur Keamanan PBB usai Diduga Provokasi Indonesia

Di negara-negara Barat, beberapa aktivis pro-Palestina mengungkapkan kekhawatiran bahwa advokasi mereka sering disalahartikan sebagai dukungan terhadap Hamas.

Hal ini semakin memperumit situasi bagi mereka yang memperjuangkan hak-hak Palestina.

Lonjakan Kasus Islamofobia di Beberapa Negara

Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai lembaga pemantau hak asasi manusia merilis data mengenai peningkatan tajam insiden kebencian terhadap Muslim di beberapa negara.

Inggris, Amerika Serikat, dan India mencatat rekor tertinggi terkait ujaran kebencian serta serangan terhadap individu Muslim dan tempat ibadah mereka.

Pemerintah dari negara-negara tersebut telah menyatakan komitmen mereka untuk memerangi segala bentuk diskriminasi.

Namun, tantangan masih ada dalam menerapkan kebijakan yang efektif untuk melindungi komunitas Muslim dari ancaman Islamofobia.

Kasus Pelecahan terhadap Agama Islam

Selain ujaran kebencian dan diskriminasi sosial, aksi pelecehan terhadap Islam juga meningkat dalam bentuk pembakaran kitab suci Al-Quran.

Pada pertengahan 2023, sejumlah insiden pembakaran dan perobekan Al-Quran terjadi di beberapa negara Eropa, seperti Swedia, Denmark, dan Belanda.

Kasus terbaru terjadi pada September 2023, ketika aksi pembakaran Al-Quran berlangsung di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag, Belanda.

Insiden semacam ini terus memicu kecaman dari berbagai pihak dan memperkuat seruan untuk menghentikan tindakan intoleran terhadap umat Muslim.

(ADN/NID/RAD)

Trending