Connect with us

Politik

Soal Dedi Mulyadi Kirim Anak ke Barak, Menteri Pigai: Bukan Pelanggaran HAM

MenHAM Natalius Pigai komentari kebijakan barak TNI yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 07t172851.582
MenHAM Natalius Pigai saat konferensi pers di Gedung Komnas HAM, Selasa (6/5) | Gambar: MPN Indonesia/Jihan

MPN Indonesia 7 Mei 2025 - Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM) Natalius Pigai memberi pernyataan tegas terkait kebijakan barak TNI yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Pigai menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak melanggar hak asasi manusia (HAM). Justru, kata Pigai, hal itu bisa jadi pendidikan karakter bagi siswa bermasalah.

“Yang dilakukan oleh Gubernur Dedi Mulyadi adalah pembinaan karakter tanpa kekerasan fisik berlebihan, maka itu bukan pelanggaran HAM,” ujar Natalius Pigai kepada awak media di Gedung Komnas HAM, Selasa (6/5).

Ciptakan Generasi Bertanggung Jawab

Pigai menjelaskan meskipun hukuman fisik atau corporal punishment bertentangan dengan prinsip HAM, namun konsep barak yang berfokus pada pembentukan karakter tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Lebih lanjut, Pigai menegaskan bahwa kebijakan ini penting untuk menciptakan masyarakat yang berdisiplin dan berkarakter.

“Pendidikan yang mengutamakan pembentukan mental dan karakter pada anak-anak, seperti yang dicontohkan di negara-negara maju, sangat sesuai dengan prinsip-prinsip HAM,” tambahnya.

Menurut Pigai, pendekatan ini akan menghasilkan generasi muda yang bertanggung jawab dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Butuh Transparansi

Menanggapi kekhawatiran masyarakat tentang dampak psikologis terhadap siswa yang mengikuti program barak TNI, Pigai menekankan pentingnya transparansi dan pengawasan yang ketat.

“Kita harus memastikan bahwa program ini dilakukan dengan pendampingan yang tepat dan kontrol yang ketat. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman atau kekhawatiran yang tidak berdasar,” jelasnya.

Pigai menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah untuk membangun disiplin dan mentalitas yang lebih baik, bukan menciptakan trauma bagi peserta.

Ia menyampaikan bahwa keberhasilan program tergantung pada pelaksanaan yang hati-hati dan penuh pertimbangan.

Baca Juga:  Tangsel akan Bangun PSEL, Walhi: Kelola TPA Sederhana Saja Tak Sanggup

“Jika dilaksanakan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan, pendidikan karakter seperti ini dapat menjadi alat yang sangat efektif,” ujarnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending