Connect with us

Teknologi

Dampak Ekonomi Digital dan PayLater terhadap Konsumtivitas Masyarakat Indonesia

Penggunaan paylater di Indonesia didominasi kebutuhan konsumtif, picu risiko utang dan ketergantungan finansial.

Logompn

Published

on

Dampak ekonomi digital dan paylater terhadap konsumtivitas masyarakat indonesia
Ekonomi digital mempercepat konsumtivitas masyarakat lewat layanan paylater. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 19 April 2025 - Ekonomi digital yang terus berkembang di Indonesia telah membawa perubahan signifikan terhadap perilaku konsumsi masyarakat. Salah satu fenomena yang mencolok adalah meningkatnya penggunaan layanan paylater, yang mayoritas dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif. 

Data sepanjang tahun 2024 menunjukkan bahwa sektor produktif hanya menyumbang kurang dari 40% dari total pinjaman daring, sementara sektor konsumtif mengalami pertumbuhan yang jauh lebih pesat.

Pertumbuhan Pinjaman untuk Kebutuhan Konsumtif

Menurut Jaya, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) ada tren pemanfaatan paylater di Indonesia lebih banyak diarahkan pada tujuan konsumtif dibandingkan produktif.

“Biasanya masyarakat menggunakan pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari tetapi juga untuk pemenuhan gaya hidup seperti gadget dan fashion, termasuk belakangan digunakan untuk judi online. Jadi memang ekonomi digital dan paylater meningkatkan konsumtivitas masyarakat Indonesia, bukan untuk tujuan produktif seperti berusaha,” ujar Jaya kepada MPN Indonesia pada Jumat (18/4).

Pernyataan tersebut diperkuat dengan data yang menunjukkan dominasi penggunaan pinjaman digital untuk keperluan konsumsi pribadi. 

Masyarakat Indonesia kini lebih sering menggunakan fasilitas tersebut untuk memenuhi gaya hidup dibandingkan mengalokasikannya untuk investasi atau pengembangan usaha.

Risiko Sosial dan Ketergantungan Finansial

Dominasi penggunaan paylater untuk keperluan konsumtif turut menimbulkan berbagai risiko sosial dan ekonomi. Salah satunya adalah potensi peningkatan jumlah utang yang tidak terkelola dengan baik, terutama di kalangan generasi muda yang tingkat literasi keuangan-nya masih rendah. 

Ketergantungan terhadap pinjaman digital juga dapat memicu ketidakseimbangan dalam pengelolaan pengeluaran rumah tangga, sehingga berdampak pada kestabilan ekonomi individu.

Baca Juga:  Fico Fachriza Jual Rumah Rp425 Juta untuk Lunasi Utang ke Teman dan Pinjol

Beberapa pengamat menyampaikan kekhawatiran bahwa tren ini berpotensi memperparah ketimpangan sosial-ekonomi jika tidak segera diatasi melalui pendekatan kebijakan dan edukasi publik.

Pentingnya Literasi Keuangan dan Regulasi

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, peningkatan literasi keuangan menjadi langkah strategis yang perlu diambil. Edukasi mengenai pengelolaan utang dan penggunaan paylater secara bijak harus disosialisasikan secara luas agar masyarakat tidak terjebak dalam pola konsumsi yang tidak produktif. 

Pemerintah dan industri keuangan digital juga diharapkan menetapkan regulasi yang lebih ketat guna mengawasi penggunaan layanan ini.

Menurut Jaya, penting bagi pemangku kepentingan untuk mendorong penggunaan layanan pinjaman digital ke arah yang lebih produktif dan bermanfaat bagi pembangunan ekonomi jangka panjang.

“Ekonomi digital harus diarahkan untuk mendukung kegiatan produktif, bukan sekadar konsumsi yang bisa menjerumuskan masyarakat dalam jeratan utang,” ungkap Jaya.

Peran Kolaboratif dalam Mengelola Dampak Ekonomi Digital

Keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, hingga masyarakat umum sangat dibutuhkan untuk menciptakan sistem ekonomi digital yang seimbang. 

Dengan pendekatan kolaboratif dan regulasi yang tepat, diharapkan layanan seperti paylater dapat menjadi alat bantu keuangan yang bermanfaat, bukan beban dalam jangka panjang.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending