Teknologi
Google Sebut 90 Persen Pegawai Teknologi Pakai AI untuk Kerja Sehari-hari
Hasil riset dari divisi DORA milik Google menunjukkan sebanyak 90 persen pekerja di industri teknologi kini menggunakan AI dalam aktivitas kerja sehari-hari.
MPN Indonesia 26 September 2025 - Hasil riset dari divisi DORA milik Google menunjukkan sebanyak 90 persen pekerja di industri teknologi kini menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Riset ini dilakukan terhadap 5.000 profesional teknologi di berbagai negara. Dan hasilnya menunjukkan, AI paling banyak dimanfaatkan untuk kegiatan teknis seperti menulis dan memodifikasi kode.
Google merupakan salah satu perusahaan teknologi yang mendorong penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak. Perusahaan ini menyediakan beragam alat bantu bertenaga AI, mulai dari versi gratis hingga berbayar seharga US$45 per bulan.
Tak heran, Kepala Divisi Pengembangan Alat Pemrograman di Google, Ryan J. Salva mengungkapkan bahwa sebagian besar tim internal perusahaan telah mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja harian.
“Kalau Anda adalah insinyur di Google, hampir tidak mungkin Anda tidak memakai AI dalam pekerjaan harian,” ujar Salva, dikutip MPN Indonesia dari CNN pada Jumat (26/9).
Cuma 20% Responden yang Yakin dengan Hasil AI
Meskipun penggunaan AI meluas, tidak semua profesional teknologi merasa sepenuhnya percaya pada hasil yang dihasilkan oleh AI. Berdasarkan survei, 46 persen responden mengaku“agak” mempercayai kualitas kode yang dihasilkan AI.
Sementara itu, 23 persen hanya mempercayainya “sedikit”, dan 20 persen sisanya merasa “sangat” mempercayai hasil AI.
Dari sisi peningkatan kualitas kode, 31 persen responden menyatakan AI hanya “sedikit meningkatkan” hasil kerja, sementara 30 persen menyebut tidak ada dampak sama sekali.
Adopsi AI dan Kekhawatiran terhadap Ancaman Pekerjaan
Riset Google ini muncul di tengah meningkatnya perdebatan soal dampak AI terhadap lapangan kerja. Beberapa tokoh industri, termasuk CEO Anthropic Dario Amodei, pernah mengutarakan kekhawatiran bahwa AI dapat menyebabkan lonjakan pengangguran.
Mengutip informasi dari CNN, data dari The New York Fed menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan untuk insinyur perangkat lunak di platform Indeed tercatat menurun sebesar 71 persen dalam periode Februari 2022 hingga Agustus 2025.
Namun, Salva menilai tidak semua aspek dalam pengembangan perangkat lunak dapat diotomatisasi dengan AI. Ia berpendapat, teknologi tersebut berguna untuk menyederhanakan tugas-tugas yang bersifat repetitif atau membosankan.
Meskipun begitu, Salva tak menampik bahwa sebagian dari peningkatan adopsi AI kemungkinan berasal dari hype atas teknologi ini.
“Pengembangan perangkat lunak itu seperti industri fesyen. Kita semua berlomba mengejar gaya celana jeans terbaru. Dan ketika pembicaraan soal ini begitu ramai, semua orang jadi antusias mencoba hal baru,” pungkasnya.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
