Connect with us

Teknologi

Konsultasi Pernikahan Lewat ChatGPT, Suami Istri Ini Berakhir Cerai

Pasangan bercerai setelah 15 tahun menikah, sang suami menuding penggunaan ChatGPT untuk konsultasi pernikahan jadi pemicu utama.

Logompn

Published

on

Konsultasi pernikahan lewat chatgpt, suami istri ini berakhir cerai
Ilustrasi ChatGPT. Gambar: Unsplash/Dima Solomin

MPN Indonesia 20 September 2025 - Pasangan suami istri yang telah membina rumah tangga selama hampir 15 tahun akhirnya memutuskan bercerai.

Sang suami menyatakan penyebab utama perceraian mereka adalah penggunaan ChatGPT oleh sang istri sebagai sarana konsultasi pernikahan tanpa sepengetahuannya.

Masalah bermula ketika istrinya menggunakan kecerdasan buatan itu untuk menganalisis hubungan mereka secara mendalam.

Menurut penuturan sang suami, rumah tangga mereka sempat mengalami pasang surut, namun berhasil melewati masa-masa sulit di tahun 2023.

Mereka sempat hampir berpisah, tetapi kemudian kembali bersama dan menjalani dua tahun yang menurutnya berjalan baik.

Namun, situasi berubah saat istrinya memanfaatkan ChatGPT untuk menggali kembali konflik lama mereka.

“Yang terjadi, tanpa sepengetahuan saya saat itu, dia menggali semua hal sebelumnya dan memasukkannya ke dalam ChatGPT,” jelasnya, dikutip MPN Indonesia dari Futurism.

ChatGPT Dinilai Tak Objektif

Penggunaan ChatGPT sebagai sarana curhat dan analisis pernikahan oleh sang istri dinilai sang suami sebagai pemicu utama perceraian.

Ia menilai AI tersebut tidak memberikan analisis objektif dan justru menggambarkannya sebagai pihak yang bersalah.

“AI tak memberikan analisis objektif. Keluarga saya terpecah belah dan saya sangat yakin fenomena AI ini adalah inti dari masalahnya,” ujarnya.

ChatGPT Makin Marak Digunakan untuk Konsultasi Pribadi

Fenomena ini tidak hanya dialami satu pasangan saja. Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer peraih Nobel yang juga dikenal sebagai bapak AI, menyatakan bahwa kekasihnya memutuskan hubungan dengannya menggunakan ChatGPT.

“Dia minta ChatGPT untuk memberi tahu saya betapa buruknya saya, dia meminta chatbot untuk menjelaskan betapa buruknya perilaku saya,” kata Hinton dalam wawancara dengan The Financial Times.

Kini semakin banyak orang menggunakan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT untuk membahas kehidupan pribadi, termasuk masalah kesehatan mental dan hubungan.

Baca Juga:  ChatGPT dan Copilot Bakal Angkat Kaki dari WhatsApp, Ini Aturan Baru Meta

Beberapa dari mereka menjadikan AI sebagai alternatif terapi tradisional.

Namun, para ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa chatbot tidak dirancang untuk memberikan dukungan terapeutik yang memadai.

AI Tak Mampu Memberikan Feedback yang Kritis

Dr. Anna Lembke, profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, menjelaskan bahwa AI dirancang untuk mengoptimalkan empati dan validasi, tetapi tidak mampu memberikan jenis umpan balik yang kritis.

“Empati dan validasi merupakan komponen penting dari segala jenis perawatan kesehatan mental atau intervensi kesehatan mental, tetapi tidak bisa berhenti hanya pada empati dan validasi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa peran terapis seharusnya membantu klien memahami kontribusi mereka terhadap konflik, melihat perspektif orang lain, dan mencari solusi dengan komunikasi yang efektif.

“Tetapi bukan itu yang terjadi dengan AI, karena AI sebenarnya tidak dirancang untuk bersifat terapeutik. AI sebenarnya dirancang untuk membuat orang merasa lebih baik dalam jangka pendek,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara individu memanfaatkan teknologi, khususnya dalam bidang yang bersifat emosional dan personal.

Meskipun kecerdasan buatan seperti ChatGPT dapat memberikan rasa nyaman sesaat, para ahli menekankan bahwa penggunaan AI untuk terapi sebaiknya dilakukan dengan sangat hati-hati.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending