Connect with us

Internasional

2 Korban Banjir Bandang Nepal Selamat usai 9 Hari Terjebak di Terowongan

Dua pekerja PLTA Trishuli 3A di Nepal berhasil diselamatkan setelah sembilan hari terjebak di terowongan akibat banjir bandang.

Logompn

Published

on

2 Korban Banjir Bandang Nepal Selamat usai 9 Hari Terjebak di Terowongan
2 Korban Banjir Bandang Nepal Selamat usai 9 Hari Terjebak di Terowongan. Gambar: Dok. APNEWS

MPN Indonesia 6 September 2026 - Dua korban berhasil diselamatkan setelah terjebak selama sembilan hari dalam bencana banjir bandang yang melanda Nepal pada 26 Agustus.

Dua korban tersebut merupakan pekerja proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Trishuli 3A berhasil dievakuasi hidup-hidup pada Jumat (4/9) dari terowongan yang tertutup lumpur dan puing.

Operasi dilakukan tim SAR setelah mendengar suara dari dalam terowongan.

“Sedang menunggu penyelamatan semakin banyak orang,” tulis Menteri Komunikasi Nepal Bikram Timilsina melalui akun Facebook miliknya dikutip MPN Indonesia dari APNEWS, Minggu (6/9).

Kedua korban yang berhasil diselamatkan diidentifikasi sebagai Sanjaya Shah dan Kabir Maharjan.

Keduanya bekerja sebagai mandor mekanik dan pengawas mekanik di proyek PLTA Trishuli 3A.

Setelah dievakuasi, keduanya diterbangkan menggunakan helikopter ke rumah sakit di Kathmandu.

Otoritas menyatakan kondisi keduanya stabil, meski salah satu laporan menyebut salah seorang korban sempat berada dalam kondisi kritis.

Operasi Penyelamatan Masih Berlangsung

Keberhasilan penyelamatan tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam operasi pencarian korban lain yang masih berada di dalam terowongan.

Petugas meyakini masih terdapat penyintas yang bertahan di area proyek pembangkit listrik tersebut.

Suresh Raut dari Otoritas Kelistrikan Nepal mengatakan masih ada puluhan orang yang diperkirakan berada di dalam terowongan dan perlu diselamatkan.

Namun, ia belum dapat memastikan berapa banyak yang masih hidup.

Selama operasi berlangsung, tim SAR memompa udara ke dalam terowongan agar para korban yang masih bertahan dapat bernapas sambil proses pembukaan jalur terus dilakukan.

Sejumlah anggota tim penyelamat mengaku mulai menemukan titik terang setelah mendengar suara dari dalam terowongan.

Baca Juga:  Gempa Magnitudo 7,4 Guncang Rusia, Picu Peringatan Tsunami

“Jangan panik, kami di sini untuk menyelamatkanmu,” ujar tim SAR.

Dari dalam terowongan terdengar jawaban singkat

“Oke,” ujar korban.

Proses Evakuasi pakai Bahan Peledak

Pakar pembangunan terowongan Arnold Dix menjelaskan proses pencarian berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit karena pintu masuk terowongan tertimbun longsoran akibat bencana alam tersebut.

Setelah menemukan pintu masuk, tim masih harus menggali terowongan yang dipenuhi lumpur, batu berukuran besar, dan genangan air.

Tim menggunakan bahan peledak untuk membuka jalur dengan pengendalian yang sangat ketat.

“Kami harus menggunakan bahan peledak yang biasanya tidak pernah kami lakukan karena risiko meledakkan orang-orang [yang terjebak di dalam terowongan] dan juga membahayakan diri kami sendiri,” ujar Arnold Dix.

Selain menggali, petugas juga membuat saluran pembuangan air dari dalam terowongan menuju sungai agar genangan dapat berkurang.

Pada tahap akhir, tim membuat lorong kecil melalui bagian atas puing-puing sehingga jalur evakuasi dapat digunakan untuk menjangkau para korban.

Pengakuan Penyintas Setelah Berhasil Dievakuasi

Sanjaya Shah menjadi korban pertama yang berhasil dikeluarkan dari dalam terowongan.

Saat berbicara dengan petugas, pertanyaan pertama yang ia sampaikan adalah:

“Hari apa ini?,” ujarnya.

Shah kemudian menceritakan dirinya berada di ruang kendali ketika banjir terjadi.

“Biasanya hanya ada lima atau enam orang di sana, tetapi saat itu pasti ada sekitar 40 hingga 45 orang di dalam,” ujarnya.

Ia mengatakan tetap berusaha memperingatkan seluruh orang yang berada di lokasi sebelum akhirnya ikut terjebak.

“Karena saya berada di ruang kendali, tanggung jawab saya adalah menyelamatkan nyawa semua orang,” ujarnya.

Selama berada di dalam terowongan, Shah mengaku menghabiskan waktu dengan melafalkan mantra dan hanya dapat berkomunikasi dengan beberapa orang di sekitarnya.

Baca Juga:  BNPB Sebut Karhutla di Kalteng, Kalsel, dan Kalbar Capai 11 Ribu Hektare

Data Korban dan Pekerja yang Masih Hilang

Hingga operasi penyelamatan berlangsung, data yang disampaikan pihak berwenang menunjukkan masih banyak korban yang belum ditemukan.

Selain itu, operasi juga difokuskan ke proyek Rasuwagadhi. Otoritas Nepal meyakini masih terdapat 46 pekerja yang terjebak di ruang bawah tanah fasilitas tersebut.

Sementara itu, badan penanggulangan bencana mencatat sedikitnya 1.259 orang meninggal dunia dan lebih dari 5.000 orang masih hilang akibat bencana alam yang terjadi sejak 26 Agustus.

Di wilayah Tibet yang berbatasan dengan Nepal, pemerintah China juga melaporkan korban jiwa dan orang hilang akibat kejadian yang sama.

Operasi pencarian masih berlangsung di sejumlah lokasi proyek pembangkit listrik tenaga air.

 (RAD/NID/RAD)

Trending