Connect with us

Ekonomi

Neraca Perdagangan RI Surplus 58 Bulan Berturut-Turut, Februari Capai USD 3,12 Miliar

Indonesia catat surplus perdagangan USD 3,12 miliar pada Februari 2025, melanjutkan tren positif 58 bulan. Ekspor nonmigas meningkat, didukung kebijakan ekonomi pemerintah.

Arthur

Published

on

Neraca perdagangan ri surplus 58 bulan berturut turut, februari capai usd 3,12 miliar
Neraca Perdagangan RI Surplus 58 Bulan Berturut-Turut, Februari Capai USD 3,12 Miliar. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 22 Maret 2025 - Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan pada Februari 2025 dengan nilai mencapai USD 3,12 miliar.

Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan dengan surplus Januari 2025 yang sebesar USD 3,49 miliar, tren positif ini telah berlangsung selama 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa surplus perdagangan kali ini didukung oleh kinerja sektor nonmigas yang mencatatkan surplus USD 4,84 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit sebesar USD 1,72 miliar.

“Surplus perdagangan Indonesia pada februari 2025 melanjutkan tren surplus untuk 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Secara kumulatif, surplus Januari-Februari 2025 mencatatkan USD 6,61 miliar. Surplus kumulatif tersebut naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 2,83 miliar,” ujar Budi Santoso, dikutip MPN Indonesia dari siaran pers Kementerian Perdagangan, pada Sabtu (22/3).

Kinerja Ekspor Nonmigas Meningkat

Total nilai ekspor Indonesia pada Februari 2025 mencapai USD 21,98 miliar, naik 2,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan Februari 2024, ekspor meningkat 14,05 persen. Kenaikan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 2,29 persen serta ekspor migas yang meningkat 8,25 persen.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa sektor industri memberikan kontribusi terbesar terhadap ekspor nonmigas, mencapai 84,69 persen dari total ekspor nonmigas, meningkat dari 83,97 persen pada Januari 2025.

Sektor pertambangan menyumbang 12,60 persen, sementara sektor pertanian berkontribusi sebesar 2,71 persen.

Berdasarkan siaran pers Kementerian Perdagangan yang dikutip MPN Indonesia, berikut ini beberapa produk unggulan yang mengalami kenaikan ekspor tertinggi:

  • Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) naik 37,85 persen.
  • Lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) meningkat 37,04 persen.
  • Makanan olahan (HS 21) tumbuh 20,30 persen.
  • Perhiasan dan logam mulia (HS 71) naik 16,45 persen.
  • Barang dari kulit samak (HS 42) naik 15,66 persen.
Baca Juga:  Maruarar Sirait Minta SLIK OJK Dihapus, Biang Kerok Rakyat Gagal KPR Subsidi

Mitra Dagang Utama dan Pertumbuhan Ekspor

Beberapa negara mitra dagang utama yang berkontribusi terhadap surplus nonmigas Indonesia antara lain:

  • Amerika Serikat dengan surplus USD 1,57 miliar.
  • India sebesar USD 1,27 miliar.
  • Filipina mencapai USD 0,75 miliar.
  • Vietnam sebesar USD 0,50 miliar.
  • Malaysia dengan USD 0,49 miliar.

Dari sisi tujuan ekspor, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi pasar utama Indonesia dengan total nilai ekspor mencapai USD 8,29 miliar, berkontribusi sebesar 39,79 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional.

Selain itu, beberapa negara mencatatkan pertumbuhan ekspor tertinggi secara bulanan, di antaranya:

  • Pakistan naik 69,09 persen.
  • Spanyol meningkat 67,98 persen.
  • Kanada tumbuh 48,78 persen.
  • Australia naik 46,73 persen.
  • India meningkat 35,05 persen.

Berdasarkan kawasan, ekspor ke Afrika Tengah mencatatkan kenaikan terbesar sebesar 84,50 persen, diikuti oleh Australia (46,73 persen), Asia Selatan (35,93 persen), Eropa Selatan (24,59 persen), dan Oseania lainnya (19,91 persen).

Implikasi Kebijakan Pemerintah Terhadap Kinerja Perdagangan

Keberlanjutan surplus neraca perdagangan Indonesia selama 58 bulan berturut-turut menunjukkan efektivitas kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah.

Peningkatan ekspor terutama didukung oleh industri manufaktur yang semakin kompetitif di pasar global.

Kebijakan pemerintah yang memperkuat daya saing industri, meningkatkan nilai tambah produk ekspor, serta mengendalikan impor berperan besar dalam menjaga stabilitas neraca perdagangan.

Selain itu, langkah-langkah pengawasan perdagangan, seperti pemantauan kebijakan ekspor dan impor serta dukungan terhadap industri strategis, turut berkontribusi terhadap capaian positif ini.

Pemerintah juga terus memperluas pasar ekspor melalui kerja sama perdagangan internasional dan pemanfaatan perjanjian dagang untuk meningkatkan akses produk Indonesia ke berbagai negara.

(AKM/NID/RAD)

Trending