Connect with us

Lifestyle

Benarkah Keringat Dingin Itu Tanda Serangan Jantung?

Keringat dingin sering kali dianggap sebagai tanda awal serangan jantung. Namun, benarkah demikian?

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 15t170512.194
Benarkah Keringat Dingin Itu Tanda Serangan Jantung? | Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 17 Mei 2025 - Keringat dingin sering kali dianggap sebagai tanda awal serangan jantung. Namun, benarkah demikian?

Menurut dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi alias dokter Tirta, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Penyebab Keringat Dingin

Dalam salah satu video di kanal YouTube-nya Tirta PengPengPeng, dokter Tirta menjelaskan bahwa keringat dingin sebenarnya merupakan respon tubuh akibat meningkatnya aktivitas saraf simpatis.

“Keringat dingin itu bukan karena tubuh mengandung es batu. Tapi karena aktivitas saraf simpatis meningkat,” ujar Tirta, dikutip MPN Indonesia pada Sabtu (17/5).

Ia menambahkan bahwa kondisi ini umum terjadi saat seseorang merasa gugup, panik, atau cemas, seperti saat hendak berbicara di depan umum atau ketika mengalami keterlambatan makan yang memicu asam lambung naik.

Selain itu, konsumsi kafein seperti kopi juga bisa memicu keluarnya keringat dingin karena efek stimulasi terhadap sistem saraf tersebut. Bahkan, kondisi seperti hipotermia juga bisa menyebabkan reaksi serupa.

Apakah Keringat Dingin Pertanda Penyakit Jantung?

Namun, apakah keringat dingin yang berlebihan bisa menjadi tanda serangan jantung? Tirta menegaskan bahwa tidak semua keringat dingin mengarah ke kondisi tersebut.

“Untuk menyebutnya sebagai gejala serangan jantung, harus disertai nyeri dada hebat yang menjalar ke punggung dan tangan, serta disertai rasa berat hingga bisa menyebabkan pingsan,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa keluhan seperti heartburn atau refluks asam lambung juga bisa menimbulkan gejala nyeri dada dan keringat dingin, namun berbeda dari serangan jantung secara medis.

Tirta juga menyoroti kondisi hiperhidrosis, yaitu keluarnya keringat berlebih akibat aktivitas simpatis yang tinggi, yang masih termasuk kondisi fisiologis.

Baca Juga:  Hati-Hati! Sering Konsumsi 10 Makanan Ini Bisa Bikin Sistem Imun jadi Lemah

Namun jika keringat berlebihan sampai mengganggu aktivitas, misalnya tangan sampai basah dan menetes, sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis kulit atau saraf.

“Jangan buru-buru mendiagnosis diri sendiri. Lebih baik periksakan ke tenaga medis,” imbau Tirta.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending