Connect with us

Lifestyle

Kenapa Banyak Dokter yang Obesitas?

Fenomena dokter yang mengalami obesitas menjadi masalah tersendiri yang kerap disorot di dunia medis.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 13t133322.268
Kenapa Banyak Dokter yang Overweight? | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 13 Juni 2025 - Fenomena dokter yang mengalami obesitas menjadi masalah tersendiri yang kerap disorot di dunia medis.

Di satu sisi, mereka adalah garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat tentang gaya hidup sehat.

Namun di sisi lain, tak sedikit dari mereka justru bergulat dengan masalah berat badan berlebih.

Hal ini menjadi topik diskusi menarik dalam kanal YouTube dr. Tirta bersama dr. Agi Ramadhani, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.

Perihal Pola Makan

Saat dr. Tirta menanyakan langsung kenapa banyak dokter yang obesitas, dr. Agi menjawab dengan pendekatan sistematis: sebelum melihat profesi, ia mengajak melihat akar masalah dari obesitas secara umum, yakni surplus kalori.

“Kenapa seseorang bisa obes? Surplus kalori,” ujar dr. Agi, dilihat MPN Indonesia dari YouTube Tirta Peng Peng Peng, Jumat (13/6).

Namun ketika dikaitkan dengan profesi dokter, ada satu kondisi dominan yang menyebabkan kelebihan kalori ini terjadi, yaitu overwork.

“Dokter-dokter yang mostly dia overwork sehingga makan itu dalam artian sesempatnya. Apa yang ada di hadapan kita makan,” jelasnya.

Ia pun mengelompokkan pola makan menjadi tiga tingkatan, di antaranya yaitu:

  1. Apa Saja Dimakan: Intinya, apa pun dimakan asal perut tidak kosong. Hal ini erat kaitannya dengan keterbatasan waktu dan ekonomi.
  2. Makan Sesuai Selera: Bila ada waktu luang dan kemampuan finansial lebih, seseorang bisa memilih makan sesuai keinginannya.
  3. Makan Sesuai Kebutuhan Tubuh: Tahap ini adalah bentuk kesadaran tinggi terhadap tubuh sendiri. Misalnya, seseorang ingin membentuk otot dan tahu bahwa ia perlu mengonsumsi 2 gram protein per kilogram berat badan per hari.
Baca Juga:  Buah Apa Saja yang Baik untuk Sahur?

Sayangnya, mayoritas dokter berada pada level pertama karena tuntutan kerja yang tinggi dan waktu makan yang terbatas.

Obesitas Tak Selalu soal Makanan

Diskusi pun berkembang ke faktor lain yang kerap diabaikan dalam pengelolaan berat badan: kualitas tidur.

Dr. Agi menyebut adanya teori yang menyatakan bahwa tidur tidak teratur dapat memengaruhi lemak di perut.

 “Jadi ada yang bilang proses tidur yang teratur itu juga mempengaruhi terhadap ketebalan lemak di perut kita,” kata dr. Agi.

Kombinasi Overwork-Pola Makan-Pola Tidur

Oleh sebab itu, ketika seseorang, dalam hal ini dokter, menghadapi tekanan kerja tinggi, makan sembarangan, dan tidak cukup tidur, risiko obesitas meningkat drastis.

Bahkan pola makan sehat pun bisa jadi tidak cukup jika tidak diimbangi dengan pola tidur yang baik.

“Kalau dia sudah hobi begadang karena kerja, nah dikonsul terus tiap malam. Dokter overwork ditambah apapun yang ada dimakan di depan. Resiko obesnya gede sekali,” jelas dr. Tirta.

(ADN/NID/RAD)

Trending