Connect with us

Lifestyle

Minum Teh Setelah Makan, Sehat atau Merugikan? Ini Penjelasan dr Tirta

Minum teh setelah makan bisa hambat penyerapan zat besi dari sayur. dr Tirta sarankan jeda waktu minum agar manfaat teh tetap optimal bagi kesehatan.

Logompn

Published

on

Minum teh setelah makan, sehat atau merugikan ini penjelasan dr tirta
Ilustrasi Wanita Minum Teh Setelah Makan. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 Juni 2025 - Minum teh setelah makan sudah menjadi kebiasaan umum bagi banyak orang, terutama di Indonesia.

Teh dianggap sebagai pelengkap yang menyegarkan setelah menyantap makanan berat.

Namun, kebiasaan ini ternyata menyimpan risiko kesehatan fisik yang tidak banyak diketahui.

Melalui kanal YouTube pribadinya pada (14/2), dr Tirta memberikan penjelasan ilmiah mengenai dampak minum teh setelah makan terhadap penyerapan zat gizi dalam tubuh, khususnya zat besi.

“Minum teh langsung setelah makan memang mengganggu penyerapan beberapa mikronutrien, terutama zat besi non-heme dari sayur-sayuran. Teh mengandung tanin yang bisa mengikat zat besi dan mencegah tubuh menyerapnya,” ujar dr Tirta, seperti dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube Tirta PengPengPeng pada Kamis (12/6).

Teh Hambat Penyerapan Zat Besi dari Sayuran

Zat besi non-heme adalah jenis zat besi yang berasal dari bahan nabati, seperti sayuran hijau.

Dr Tirta menyebut bahwa senyawa tanin dalam teh dapat mengikat zat besi ini sehingga tubuh kesulitan menyerapnya secara optimal.

“Jadi teh itu mengandung banyak zat, salah satunya adalah tanin. Tanin ini dapat mengikat zat besi non-heme, terutama yang pada tumbuhan, sehingga membuat tubuh sulit menyerap zat besi tersebut,” tuturnya.

Ia memperkirakan bahwa sekitar 50% hingga 60% zat besi non-heme bisa terhambat penyerapannya bila teh diminum tepat setelah makan.

Waktu Minum Teh yang Tepat

Meskipun dapat menghambat penyerapan zat besi, bukan berarti teh harus dihindari sepenuhnya.

Baca Juga:  9 Tips yang Mudah untuk Mengurangi Konsumsi Gula

Dr Tirta justru menekankan pentingnya mengatur waktu konsumsi teh agar manfaatnya tetap bisa dirasakan tanpa mengganggu penyerapan nutrisi.

“Kalau mau dapat manfaat optimal dari teh, minum di jeda antar makan, jangan langsung habis makan. Teh juga sebaiknya tanpa gula, supaya manfaat antioksidan dan polifenolnya maksimal,” kata dr Tirta.

Teh hijau dan teh oolong, contohnya, dikenal kaya antioksidan seperti polifenol dan EGCG (epigallocatechin gallate) yang bermanfaat untuk kesehatan.

“Teh hijau itu mengandung antioksidan untuk melawan stres oksidatif dari polifenolnya, kalau diminum di jeda antar makan,” tambahnya.

Bukan Hanya Tanin, Ada Juga Asam Oksalat

Selain tanin, teh juga mengandung asam oksalat yang turut memengaruhi penyerapan mineral lain seperti magnesium dan seng. Namun, pengaruh terbesar tetap terjadi pada zat besi non-heme.

Sebaliknya, zat besi heme yang berasal dari daging dan protein hewani tidak terlalu terpengaruh oleh konsumsi teh.

“Kalau yang zat besi dari heme itu, yang dari daging atau protein hewani, tidak terlalu terganggu,” jelas dr Tirta.

Dengan demikian, konsumsi teh setelah makan berbasis tumbuhan lebih berisiko mengganggu penyerapan zat besi dibandingkan jika makanan utama berasal dari hewani.

Teh Tetap Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Di luar dampaknya terhadap penyerapan zat besi, teh tetap merupakan minuman yang menyehatkan jika dikonsumsi dengan cara yang tepat.

Dr Tirta menyebut beberapa manfaat penting dari teh, terutama teh hijau dan oolong.

“Teh hijau dan teh oolong itu juga mengandung katekin dan berfungsi sebagai katalisator penggunaan lemak sebagai energi,” pungkasnya.

Selain membantu proses metabolisme, teh juga mengandung L-theanine yang berfungsi untuk meredakan stres dan meningkatkan relaksasi. Bahkan, teh juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung.

Baca Juga:  Waspada! Ini 6 Dampak Negatif Penggunaan Gadget Berlebihan bagi Kesehatan dan Kehidupan Sosial

“Manfaat teh sangat banyak seperti antioksidan tinggi, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, dan mengurangi stres,” tuturnya.

Edukasi Kesehatan Harus Berdasarkan Ilmu

Diakhir penjelasannya, dr Tirta menegaskan pentingnya edukasi kesehatan berbasis ilmu pengetahuan.

Ia berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam menyerap informasi kesehatan dengan mempertanyakan dasar ilmiahnya.

“Jadi dokter atau influencer kesehatan enggak cukup bilang iya atau tidak, harus ada penjelasan ilmiah dan alasan di baliknya, supaya masyarakat bisa kritis dan benar-benar paham,” tutupnya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending