Lifestyle
Simak! Ini 10 Makanan yang Diklaim Sehat Padahal Tak Sehat
MPN Indonesia 1 Agustus 2025 - Tahukah kamu bahwa sejumlah makanan yang dipasarkan dengan klaim sehat ternyata justru mengandung kadar gula tambahan, lemak tidak sehat, dan bahan olahan tinggi yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan fisik, lho!
Berdasarkan informasi dari Healthline, beberapa makanan ini kerap dianggap mendukung pola makan sehat, padahal tidak sepenuhnya mencerminkan nilai gizi yang seimbang.
Pernyataan pada label seperti bebas lemak, rendah kalori, atau tinggi protein justru menyesatkan konsumen karena belum tentu memberikan manfaat nyata bagi tubuh, apalagi bila mengandung kadar gula yang tinggi dan zat tambahan lainnya.
Beberapa produk bahkan justru meningkatkan risiko gangguan kesehatan jika dikonsumsi secara rutin. Berikut adalah 10 jenis makanan yang tak sesehat klaim di pasaran.
1. Granola
Granola dan granola bar sudah lama dianggap sebagai camilan sehat. Tapi, kenyataannya tidak selalu begitu. Beberapa granola mungkin memang mengandung bahan bergizi seperti oats dan kacang-kacangan, tapi banyak juga yang justru tinggi gula tambahan dan kalori.
Padahal, Food and Drug Administration (FDA) menyarankan batas konsumsi gula tambahan yang disarankan per hari adalah 50 gram untuk orang dewasa dengan kebutuhan 2.000 kalori per hari.
Supaya lebih sehat dan tetap bisa menikmati granola, kamu bisa buat granola di rumah dengan menggunakan bahan-bahan bernutrisi seperti oat, kacang-kacangan, dan biji-bijian dan menambahkan potongan buah kering sebagai pemanis alami.
2. Yogurt Berperisa
Yogurt sering jadi pilihan makanan sehat karena kaya protein dan probiotik yang baik untuk pencernaan. Tapi, kalau mau benar-benar sehat, sebaiknya pilih yogurt tanpa pemanis tambahan alias plain yogurt.
Karena banyak yogurt berperisa yang ternyata mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi, meski porsinya kecil. Daripada pilih yogurt manis siap saji, kamu bisa coba mix yogurt polos dengan potongan buah segar.
3. Protein Bar dan Minuman Protein
Banyak orang mengira kalau makanan atau minuman tinggi protein itu sudah pasti sehat. Padahal, belum tentu!
Makanan yang secara alami tinggi protein seperti ikan, telur, dan kacang-kacangan memang pilihan yang baik buat kesehatan. Tapi lain cerita kalau kita bicara soal protein bar atau protein shake.
Produk-produk ini sering dianggap sehat, padahal nggak selalu karena mengandung tambahan gula, pemanis buatan, atau bahan aditif lainnya yang nggak selalu ramah tubuh.
Daripada mengandalkan minuman atau snack protein kemasan, lebih baik cari sumber protein alami dari makanan sehari-hari seperti tempe, tahu, telur, ayam, atau bahkan yogurt plain yang tinggi protein.
4. Minuman Olahraga dan Energi
Minuman olahraga (sports drinks) dan minuman energi sering disebut sebagai cara untuk menambah tenaga dan meningkatkan performa fisik.
Sayangnya, minuman-minuman ini biasanya mengandung bahan-bahan, seperti gula tambahan dalam jumlah tinggi, pewarna buatan, bahkan stimulan seperti kafein dalam dosis besar.
Menurut Healthline, minuman olahraga sebenarnya hanya dibutuhkan dalam kondisi tertentu, bukan buat dikonsumsi harian. Dan minuman energi? Selain tinggi gula, kafeinnya juga bisa bikin jantung berdebar atau susah tidur kalau diminum sembarangan.
5. Produk Berlabel Gluten Free
Buat orang yang punya gangguan terkait gluten, menghindari makanan yang bebas gluten itu wajib hukumnya. Tapi, buat kamu yang tak ada masalah dengan gluten, memilih makanan gluten-free belum tentu bikin pola makanmu jadi lebih sehat.
Menurut sebuah penelitian yang dipublikasi National Library of Medicine, makanan kemasan bebas gluten cenderung punya kadar protein, serat, serta vitamin dan mineral yang lebih rendah dibanding makanan sejenis yang mengandung gluten.
Jadi kalau kamu tidak butuh menghindari gluten karena alasan medis, kamu tak perlu buru-buru pindah ke diet bebas gluten hanya karena terlihat sehat.
6. Produk Berlabel Rendah Lemak atau Bebas Lemak
Lemak sebenarnya adalah salah satu makronutrien penting yang dibutuhkan tubuh yang bisa membantu kita merasa kenyang lebih lama dan bikin makanan terasa lebih nikmat.
Menurut Healthline, lemak yang sehat seperti lemak dari alpukat, ikan berlemak, kacang-kacangan, dan minyak zaitun justru punya banyak manfaat mulai dari mendukung fungsi otak hingga menjaga kesehatan jantung.
Jadi, jangan buru-buru menghindari lemak. Yang penting adalah memilih jenis lemak yang tepat, bukan sekadar tergoda label rendah lemak.
Karena produsen makanan sering kali mengganti lemak dengan gula tambahan atau bahan lain demi menjaga rasa. Akibatnya, makanan rendah lemak bisa tetap tinggi gula dan kalori, bahkan kadang rasanya jadi bikin nagih tapi kurang mengenyangkan.
7. Makanan Tinggi Lemak Omega-6
Tubuh kita butuh dua jenis lemak esensial, omega-6 dan omega-3. Keduanya punya peran penting dalam fungsi tubuh, termasuk menjaga kesehatan sel, otak, dan sistem kekebalan.
Namun yang perlu jadi perhatian adalah keseimbangannya. Idealnya, perbandingan keduanya sekitar 4:1. Tapi sekarang, bisa mencapai 20:1! Artinya, kebanyakan orang kebanyakan konsumsi omega-6, dan sangat kurang omega-3.
Ketidakseimbangan ini menurut Healthline bisa memicu peradangan kronis dalam tubuh, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit, termasuk jantung, diabetes, dan gangguan autoimun.
8. Smoothie Kemasan
Smoothie buatan sendiri bisa jadi pilihan yang super sehat dan praktis buat kamu yang mau menambah asupan buah dan sayur harian. Tapi lain cerita kalau kamu beli smoothie kemasan yang mengandung kalori dan gula tinggi.
Kalau kamu beli smoothie di luar, penting untuk cek kandungan bahannya. Beberapa smoothie komersial dibuat pakai frozen yogurt, sherbet, sirup manis, atau pemanis buatan lain yang justru bikin nilai gizi turun drastis.
9. Soda Diet (Diet Coke)
Diet soda sering dianggap lebih aman karena tidak mengandung gula dan kalori. Tapi beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa orang yang rutin minum diet soda punya risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan tertentu.
Salah satu dampak yang dikaitkan dengan konsumsi diet soda adalah meningkatnya risiko metabolic syndrome, sekelompok gejala yang meliputi penumpukan lemak di perut, gula darah tinggi, tekanan darah naik, dan kadar lemak darah yang nggak normal.
Riset dalam sumber yang sama menyebut bahwa pemanis buatan dalam diet soda bisa mengganggu respon otak terhadap rasa manis. Akibatnya, otak jadi bingung dan malah memicu keinginan makan makanan tinggi kalori dan manis.
10. Produk Daging Nabati (Plant-based Meat)
Mengurangi konsumsi daging dan beralih ke pola makan berbasis nabati (plant-based) memang punya banyak manfaat, tapi ada satu hal yang perlu kamu waspadai. Tidak semua makanan vegan atau pengganti daging di pasaran itu berarti sehat.
Banyak produk plant-based meat kemasan ternyata tinggi garam, gula tambahan, dan bahan ultra-proses lainnya. Jadi meskipun bebas daging, belum tentu tubuhmu bebas dari risiko kesehatan, apalagi kalau dikonsumsi rutin.
Daripada mengandalkan produk jadi, lebih baik kamu membuat alternatif daging nabati di rumah dengan bahan-bahan utuh (whole foods).
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
