Connect with us

Internasional

Pidato Rabbi Israel Viral, Serukan Penduduk Gaza untuk Dibiarkan Mati Kelaparan

Rabbi Ronen Shaulov serukan warga Gaza, termasuk anak-anak, dibiarkan kelaparan. Pernyataannya dikecam keras oleh komunitas internasional.

Logompn

Published

on

Pidato rabbi israel viral, serukan penduduk gaza untuk dibiarkan mati kelaparan
Rabbi asal Israel, Ronen Shaulov. Gambar : Instagram/@trtworld

MPN Indonesia 5 Agustus 2025 - Rabbi asal Israel, Ronen Shaulov, memicu kecaman internasional setelah menyampaikan pernyataan kontroversial yang menyerukan agar seluruh penduduk Gaza, termasuk anak-anak, dibiarkan mati kelaparan.

Pernyataan itu disampaikannya dalam pidato publik pada Senin (28/7). Video pidatonya tersebar luas di media sosial, salah satunya melalui akun Instagram @trtworld pada Minggu (3/8).

Klaim Tak Ada Warga Gaza yang Tak Bersalah

Dalam pidatonya, Ronen Shaulov menyatakan bahwa seluruh warga Gaza pantas menerima hukuman atas dugaan penyiksaan terhadap sandera Israel.

“Seluruh Gaza dan setiap anak di Gaza harus mati kelaparan karena apa yang dilakukan warga Gaza sekarang terhadap para sandera,” ucap Ronen Shaulov dalam pidatonya, dikutip MPN Indonesia pada Selasa (5/8).

Ia menegaskan tidak memiliki rasa belas kasihan terhadap warga Gaza yang dianggapnya telah menumpahkan darah orang Yahudi.

“Saya tidak punya sedikit pun belas kasihan bagi mereka yang menumpahkan darah orang Yahudi, yang tidak bersalah kepada mereka,” lanjutnya.

Shaulov juga menyebut simpati terhadap Gaza sebagai tindakan “bodoh” dan berasal dari “pembenci Israel”.

Ia mengecam suara-suara pro-Palestina dari kalangan masyarakat Israel.

Dikecam Organisasi HAM dan Tokoh Yahudi Moderat

Pidato tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk organisasi hak asasi manusia dan tokoh-tokoh Yahudi moderat.

Organisasi seperti B’Tselem dan Physicians for Human Rights–Israel menyampaikan kecaman.

Mereka menyebut bahwa kebijakan membiarkan penduduk Gaza kelaparan dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan atau bahkan genosida.

Dalam laporan akhir Juli 2025, mereka menyoroti bahwa narasi ini digunakan untuk mendorong agenda politik pasca serangan 7 Oktober 2023.

Baca Juga:  Berlayar Beri Bantuan ke Gaza, Kapal Wanda Hamidah Terdampar di Tunisia

Dari Amerika Serikat, lebih dari 1.000 rabbi dan pemimpin Yahudi menandatangani surat terbuka yang menyerukan pembukaan akses penuh bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Mereka mengecam keras penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.

Rabbi Rick Jacobs, Presiden Union for Reform Judaism, mengatakan kebijakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai inti Yahudi.

Krisis Kelaparan di Gaza Memburuk

Gaza masih mengalami krisis kemanusiaan berat sejak pecahnya konflik dengan Israel pada Oktober 2023.

Pada 4 Agustus 2025, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 21 orang meninggal akibat kelaparan.

Total korban jiwa akibat kelaparan telah mencapai 181 orang, termasuk 94 anak-anak.

Meskipun Israel telah melonggarkan blokade pada Minggu (27/7), distribusi bantuan masih terbatas.

Pemerintahan Gaza menyebut lebih dari 22.000 truk bantuan masih tertahan di perbatasan.

Saat ini, hanya sekitar 84 truk bantuan yang diizinkan masuk per hari.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan kebutuhan minimal mencapai 600 truk per hari.

Anak-anak Jadi Korban Terparah

Laporan dari Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) menyebut satu dari tiga warga Gaza tidak makan selama lebih dari 24 jam.

Rumah sakit juga kewalahan menangani pasien dengan kondisi kelaparan akut.

Sejak April, tercatat 20.000 pasien anak dirawat karena malnutrisi, dan 16 balita dilaporkan meninggal akibat kelaparan sejak Juli.

Situasi ini terus menambah tekanan global terhadap Israel dan memicu desakan internasional agar segera menghentikan kebijakan yang dianggap sebagai pelanggaran kemanusiaan dan bentuk kejahatan perang.

(ADN/NID/RAD)

Trending