Ekonomi
DPR Desak Dirut KAI Klarifikasi soal Utang Whoosh
DPR mendesak Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia memberikan penjelasan terkait beban utang yang ditanggung akibat proyek Whoosh.
MPN Indonesia 21 Agustus 2025 - Anggota DPR RI mendesak Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin untuk memberikan penjelasan rinci terkait beban utang yang ditanggung PT KAI akibat proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
Permintaan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta pada Rabu (20/8).
Seharusnya Menghasilkan Laba, Bukan Defisit
Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Ermarini menilai kinerja keuangan PT KAI semestinya bisa mencatatkan laba signifikan.
Namun, proyek Whoosh menyebabkan kondisi keuangan perusahaan itu terganggu.
“Kereta Api sebenarnya tinggi, bisa laba, tapi karena punya Whoosh jadinya defisit,” ujarnya saat RDP.
Anggota Komisi VI DPR, Darmadi Durianto, memperkirakan beban keuangan dari proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang dikelola oleh konsorsium BUMN, termasuk PT KAI, bisa mencapai lebih dari Rp4 triliun pada 2025.
Ia juga memproyeksikan jika tidak ditangani, utang PT KAI pada 2026 dapat meningkat hingga Rp6 triliun.
“Itu kalau dihitung 2025 itu bisa beban keuangan dan dari kerugian KCIC bisa capai Rp 4 triliun lebih. Dari beban KCIC sendiri sudah Rp 950 miliar dikalikan dua sudah Rp 4 triliun lebih,” katanya.
Darmadi menyebutkan bahwa dalam enam bulan pertama tahun ini, beban keuangan dari proyek KCIC yang ditanggung PT KAI telah mencapai sekitar Rp1,2 triliun.
Ia merinci bahwa kerugian dari KCIC yang harus ditanggung KAI pada 2024 hanya sebesar Rp3,1 triliun.
Respons Dirut KAI
Menanggapi berbagai pertanyaan dari anggota dewan, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengaku akan membahas persoalan utang KCIC bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
“Terutama kami dalami juga masalah KCIC ini bom waktu,” jelasnya.
Bobby menyebutkan bahwa beban utang dari KCIC merupakan ancaman serius terhadap kinerja keuangan PT KAI. Ia menegaskan perlunya koordinasi dengan Danantara dalam penyusunan solusi.
Langkah ini juga mendapat dukungan dari COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, yang menyatakan pihaknya sedang menyiapkan usulan penyelesaian utang dan penyehatan perusahaan-perusahaan BUMN yang tergabung dalam proyek Whoosh.
“Solusinya masih ada beberapa alternatif yang akan kita sampaikan kepada pemerintah mengenai penyelesaian daripada kereta cepat ini,” jelas Dony.
Ia memastikan bahwa penyelesaian tersebut akan bersifat menyeluruh dan tidak mengganggu kinerja PT KAI ke depannya.
Sebagai informasi, proyek kereta cepat Whoosh dijalankan oleh konsorsium empat BUMN yang tergabung dalam PSBI, yaitu PT KAI, WIKA, Jasa Marga, dan Perkebunan Nusantara I, yang memegang 60 persen saham di KCIC.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
