Lifestyle
Mengenal HIV & AIDS Lebih Dalam: Penyebab, Risiko, dan Langkah Pengobatan
HIV adalah virus yang menyerang sistem imun dan dapat berkembang menjadi AIDS bila tidak ditangani. Artikel ini membahas penularan, gejala, pengobatan ARV, pencegahan, serta data HIV/AIDS Indonesia tahun 2023.
MPN Indonesia 1 Desember 2025 - Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4 yang berperan dalam melawan infeksi.
Jika tidak ditangani, HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yaitu tahap akhir ketika sistem imun rusak parah dan tidak mampu melawan infeksi.
AIDS ditandai dengan jumlah sel CD4 di bawah 200 sel/mm³ atau munculnya infeksi oportunistik seperti tuberkulosis dan kandidiasis.
Penularan HIV terjadi melalui darah, air mani, cairan vagina, cairan anus, dan ASI.
Di Indonesia, penularan terbanyak berasal dari hubungan seksual tidak aman dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada pengguna narkoba.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa pada 2023 terdapat 57.299 orang positif HIV dari 6.142.136 tes, dengan kelompok usia 25-49 tahun sebagai penyumbang tertinggi, yaitu 64 persen.
Pengidap HIV tetap dapat menjalani hidup sehat dengan terapi antiretroviral (ARV).
Pengobatan ini bekerja menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi, menjaga kesehatan fisik pengidap, dan menurunkan risiko penularan.
WHO menargetkan 95 persen pengidap HIV mendapatkan ARV untuk mengendalikan epidemi global.
Jenis Virus HIV dan Cara Penularan
Virus HIV terbagi menjadi dua jenis utama. HIV-1 merupakan jenis paling umum secara global, lebih menular, dan terdiri dari subtipe A, B, C, dan D.
HIV-2 lebih sering ditemukan di Afrika Barat, menyebar lebih lambat, dan gejalanya lebih ringan.
Penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pengidap HIV, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah terkontaminasi, yang kini sangat jarang karena skrining ketat, serta penularan dari ibu ke bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Faktor Risiko HIV dan AIDS
Risiko lebih tinggi terjadi pada individu dengan banyak pasangan seksual, pengguna narkotika suntik, orang yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, penderita infeksi menular seksual, individu yang menjalani prosedur medis dengan alat tidak steril, serta tenaga kesehatan yang bersentuhan dengan cairan tubuh pasien.
Gejala Berdasarkan Stadium Infeksi
Gejala berbeda pada setiap tahap. Pada tahap awal, yang muncul 1-2 bulan setelah infeksi, dapat terjadi demam, nyeri otot, diare, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar, serta kelelahan.
Tahap laten berlangsung tanpa gejala, namun virus tetap aktif dan menular hingga lebih dari 10 tahun.
Pada tahap AIDS, daya tahan tubuh sangat lemah dan muncul gejala seperti demam kronis, penurunan berat badan drastis, infeksi jamur, diare berkepanjangan, serta bintik ungu pada kulit.
Diagnosis HIV dan AIDS
Diagnosis dilakukan melalui tes antibodi HIV, tes antigen p24, pemeriksaan jumlah CD4, viral load (HIV RNA), serta tes resistensi obat.
AIDS ditetapkan bila CD4 kurang dari 200 sel/mm³ atau muncul infeksi oportunistik berat.
Pengobatan HIV dan AIDS
Terapi ARV merupakan pengobatan utama untuk menekan perkembangan virus.
Jenis ARV yang digunakan antara lain Efavirenz, Lamivudin, Zidovudin, Nevirapine, dan Etravirine.
Pengobatan dimulai segera setelah diagnosis dan dilakukan seumur hidup.
Pemeriksaan CD4 dan HIV RNA perlu dilakukan setiap 3-6 bulan untuk memantau efektivitas terapi.
Komplikasi HIV dan AIDS
Tanpa pengobatan, HIV dapat menyebabkan komplikasi seperti pneumonia Pneumocystis, kandidiasis, tuberkulosis, sitomegalovirus, meningitis kriptokokus, toksoplasmosis, sarkoma Kaposi, kanker terkait HPV, limfoma, sindrom wasting, penyakit ginjal, penyakit hati, serta gangguan neurologis seperti demensia dan depresi.
Pencegahan HIV dan AIDS
Pencegahan mencakup penggunaan kondom saat berhubungan intim, tidak berganti-ganti pasangan, menghindari berbagi jarum suntik, menjalani tes HIV rutin, serta konsumsi post-exposure prophylaxis (PEP) selama 28 hari jika baru terpapar HIV.
Sunat juga menjadi salah satu metode pengurangan risiko infeksi.
Tes HIV Mandiri
Individu berisiko dapat menggunakan alat tes HIV mandiri seperti Onestep HIV Test, yang menggunakan sampel darah dan mendeteksi antibodi HIV tipe 1 dan 2.
Hasil dapat diketahui dalam 10-15 menit. Meski begitu, hasil tetap perlu dikonfirmasi melalui laboratorium.
Harga alat ini berkisar Rp89.800-Rp113.500 dan telah memiliki izin BPOM (AKL30305718715).
Data HIV dan AIDS Indonesia Tahun 2023
Kementerian Kesehatan mencatat 57.299 orang positif HIV dari 6.142.136 orang yang dites.
Kasus terbanyak terjadi pada usia 25-49 tahun sebesar 64 persen, disusul usia 20–24 tahun sebesar 18,1 persen.
Kasus AIDS ditemukan pada 17.121 orang dengan persentase tertinggi pada usia 30-39 tahun (49 persen), usia 20–29 tahun (39,2 persen), dan usia 40–49 tahun (30,7 persen).
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
