Connect with us

Internasional

Rusia Rencana Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Bulan pada 2036

Rusia berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan pada 2036 bersama China untuk mendukung Stasiun Penelitian Bulan Internasional.

Logompn

Published

on

Rusia rencana bangun pembangkit listrik tenaga nuklir di bulan pada 2036
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 31 Desember 2025 - Rusia berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan pada 2036 sebagai bagian dari strategi eksplorasi luar angkasa jangka panjang bersama China.

Proyek ini ditujukan untuk mendukung operasional Stasiun Penelitian Bulan Internasional yang dikembangkan bersama Beijing.

Rencana tersebut diumumkan oleh badan antariksa Rusia, Roscosmos, yang bekerja sama dengan perusahaan nuklir milik negara Rosatom dan lembaga penelitian nuklir Institut Kurchatov.

Roscosmos juga telah menandatangani kontrak dengan Lavochkin Association untuk pembangunan fasilitas tersebut.

Meski Roscosmos tidak secara eksplisit menyebutnya sebagai reaktor nuklir, keterlibatan Rosatom dan Institut Kurchatov mengindikasikan bahwa proyek ini berbasis energi nuklir.

“Proyek ini merupakan langkah penting menuju terciptanya stasiun bulan ilmiah yang berfungsi secara permanen dan transisi dari misi sekali waktu ke program eksplorasi bulan jangka panjang,” demikian pernyataan Roscosmos, dikutip MPN Indonesia dari laman Reuters pada Kamis (25/12).

Dukungan Infrastruktur Eksplorasi Bulan

Pembangkit listrik ini dirancang sebagai sumber energi stasioner untuk mendukung berbagai aktivitas di Bulan, termasuk pengoperasian rover, observatorium, dan infrastruktur Stasiun Penelitian Bulan Rusia-China.

Roscosmos menyebut fasilitas ini memungkinkan operasi otonom dalam jangka panjang.

Proyek tersebut menjadi bagian dari perubahan strategi eksplorasi Rusia, dari misi bersifat satu kali menuju pengembangan stasiun ilmiah yang aktif secara permanen di Bulan.

Keterlibatan Lavochkin Association menegaskan adanya kerja sama lintas lembaga antariksa dan teknologi tingkat tinggi di Rusia.

Inisiatif ini juga muncul setelah Rusia tertinggal dalam perlombaan antariksa, menyusul kegagalan misi Luna-25 pada Agustus 2023, ketika wahana tersebut jatuh dan menghantam permukaan Bulan.

Baca Juga:  Prabowo akan Bertemu Vladimir Putin Hari Ini usai Lawatannya ke Pakistan

Kepala Roscosmos, Dmitry Bakanov, sebelumnya menyampaikan pada Juni bahwa salah satu tujuan lembaganya adalah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan serta menjelajahi Venus, yang dikenal sebagai planet “saudara” Bumi.

Persaingan Global Teknologi Nuklir Luar Angkasa

Rencana Rusia ini sejalan dengan langkah Amerika Serikat. NASA pada Agustus menyatakan niatnya untuk menempatkan reaktor nuklir di Bulan pada kuartal pertama tahun fiskal 2030.

“Kita sedang berlomba ke bulan, berlomba dengan China ke bulan. Dan untuk memiliki pangkalan di bulan, kita membutuhkan energi,” kata Menteri Transportasi AS Sean Duffy pada Agustus lalu.

Persaingan pengembangan teknologi nuklir di Bulan mencerminkan dinamika geopolitik dan teknologi di antara kekuatan besar dunia.

Energi dinilai menjadi elemen kunci untuk mendukung keberadaan manusia dalam jangka panjang di Bulan serta misi eksplorasi lanjutan ke planet lain, termasuk Mars.

Konteks Geopolitik dan Kebijakan Luar Angkasa Rusia

Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan ini juga menjadi bagian dari kebijakan luar negeri Rusia untuk memperkuat posisi strategisnya secara global.

Langkah tersebut diambil di tengah dominasi Amerika Serikat dan kemajuan pesat China dalam teknologi antariksa.

Meskipun aturan internasional melarang penempatan senjata nuklir di luar angkasa, penggunaan sumber energi nuklir diperbolehkan selama mematuhi ketentuan hukum internasional yang berlaku.

Dalam konteks ini, Rusia mengandalkan kemitraan strategis dengan China untuk menghadapi tantangan dari Amerika Serikat dan pelaku industri swasta seperti SpaceX.

(ADN/NID/RAD)

Trending