Connect with us

Teknologi

Amazon bakal PHK 16 Ribu Karyawan, Diduga karena AI

Amazon, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, akan melakukan PHK secara massal terhadap 16.000 karyawan.

Logompn

Published

on

Amazon PHK 16 Ribu Karyawan, Diduga karena AI
Amazon bakal PHK 16 Ribu Karyawan, Diduga karena AI | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 10 Februari 2026 - Amazon, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, akan kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal terhadap 16.000 karyawan.

Dikutip MPN Indonesia dari Times of India, ini merupakan gelombang PHK kedua setelah sebelumnya pada 2025, Amazon juga telah memangkas 14.000 posisi.

PHK terbaru ini setara dengan sekitar 9% dari total tenaga kerja korporat perusahaan tersebut.

Alasan Amazon PHK Massal Karyawan

PHK ini memicu diskusi internal dan eksternal mengenai alasan sebenarnya di balik kebijakan tersebut.

Meski pihak perusahaan menyatakan bahwa pengurangan tenaga kerja ini tidak langsung disebabkan oleh AI, namun menurut laporan CNN, ada korelasi antara kemajuan teknologi dan perubahan prioritas bisnis Amazon.

“Karena raksasa teknologi lainnya seperti Microsoft, Meta, dan Verizon semuanya melakukan PHK tahun lalu,” demikian laporan CNN, dikutip MPN Indonesia pada Selasa (10/2).

Karyawan dan sumber internal perusahaan juga menyampaikan bahwa keputusan PHK lebih banyak didorong oleh pertimbangan anggaran dan efisiensi biaya.

Sementara itu, Beth Galetti, wakil presiden senior bidang pengalaman karyawan dan teknologi di Amazon, menyebutkan bahwa perusahaan ingin memperkuat organisasi.

“Amazon bertujuan untuk memperkuat organisasi dengan mengurangi lapisan manajemen, meningkatkan kepemilikan, dan menghilangkan birokrasi,” kata dia.

Ia juga menegaskan bahwa “pengurangan besar-besaran setiap beberapa bulan” bukanlah bagian dari rencana jangka panjang Amazon.

Perubahan Strategi Perusahaan

Sejak akhir 2025, industri teknologi global mencatat tren PHK besar-besaran. Selain Amazon, perusahaan seperti Microsoft, Meta, dan Verizon juga melakukan pengurangan tenaga kerja.

Perkembangan pesat kecerdasan buatan menjadi salah satu pemicu perubahan arah strategi perusahaan teknologi, yang kini lebih berfokus pada otomatisasi, data, dan efisiensi struktur organisasi.

Baca Juga:  ChatGPT dan Copilot Bakal Angkat Kaki dari WhatsApp, Ini Aturan Baru Meta

Zeki Pagda, asisten profesor di Rutgers Business School, menjelaskan bahwa banyak perusahaan kemungkinan mengalihkan sumber daya mereka ke bidang seperti data, otomatisasi, dan analitik untuk menyesuaikan diri dalam persaingan AI.

“Amazon tidak dapat dengan mudah melatih ulang tenaga kerja yang dibangun untuk logistik manual atau sistem ritel lama menjadi tenaga kerja yang membangun agen AI generatif,” ujar Pagda kepada CNN.

Pendapatan Amazon

Data dari lembaga Challenger, Gray & Christmas menunjukkan bahwa tingkat PHK pada Januari 2026 mencapai rekor tertinggi dalam 17 tahun terakhir, dengan Amazon dan UPS menyumbang hingga 40% dari total angka PHK nasional di Amerika Serikat.

Meskipun melakukan PHK massal, Amazon tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu raksasa teknologi dengan kekuatan finansial besar.

Perusahaan mencatatkan pendapatan bersih sebesar USD180,2 miliar pada kuartal September 2025 dan memiliki kapitalisasi pasar sebesar USD2,5 triliun.

(AKM/NID/RAD)

Trending