Berita
BNPB: 108 Warga Meninggal di Pengungsian Pascagempa NTT
Gempa Flores M7,7 menyebabkan 156 orang meninggal, termasuk 108 warga di pengungsian. Sebanyak 24.027 warga masih mengungsi hingga akhir September.
MPN Indonesia 29 September 2026 - Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 menyebabkan 156 orang meninggal dunia hingga 28 September 2026.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 28 September 2026 pukul 10.00, jumlah tersebut terdiri atas 48 korban akibat dampak langsung gempa dan 108 korban yang meninggal di pengungsian.
Selain itu, 24.027 warga masih mengungsi, 1.620 orang mengalami luka atau sakit, sementara pemerintah bersama berbagai pihak terus menyalurkan bantuan kepada penyintas.
“Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut merupakan kelompok lansia yang meninggal dunia akibat komplikasi penyakit kronis yang telah diderita, seperti stroke dan diabetes melitus,” ujar Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dikutip MPN Indonesia dari YouTube Short BNPB, Selasa (29/9).
Data tersebut menunjukkan dampak bencana NTT masih berlanjut meski fase tanggap darurat telah berlangsung lebih dari satu bulan.
Bencana NTT Berdampak pada Ribuan Warga dan Fasilitas Publik
Selain korban jiwa, BNPB mencatat ribuan warga masih belum dapat kembali ke rumah karena kerusakan bangunan maupun kondisi lingkungan yang belum aman.
Data BNPB mencatat dampak utama sebagai berikut:
- 24.027 orang masih berada di pengungsian.
- 1.620 orang mengalami luka atau sakit.
- 157 fasilitas pelayanan kesehatan terdampak.
- 2.147 fasilitas pendidikan terdampak.
- 687 kantor mengalami kerusakan.
- 652 rumah ibadah mengalami kerusakan.
Data tersebut menggambarkan besarnya dampak peristiwa di daerah yang masih memengaruhi aktivitas masyarakat di berbagai wilayah Flores.
Kondisi Pengungsian Masih Menjadi Tantangan
Lebih dari sebulan setelah gempa, ribuan warga masih tinggal di tenda darurat.
Sejumlah laporan menyebut kondisi di lokasi pengungsian diwarnai keterbatasan air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, serta paparan cuaca panas pada siang hari dan suhu dingin pada malam hari.
Wawancara dengan tenaga kesehatan, pengungsi, serta pejabat daerah juga menggambarkan meningkatnya kasus diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan penyakit kulit di sejumlah lokasi.
Data BPBD Nusa Tenggara Timur menunjukkan sebagian besar korban meninggal akibat dampak tidak langsung berasal dari kelompok rentan, terutama lanjut usia yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.
Selain penyakit kronis, data BPBD juga mencatat sejumlah penyebab lain yang berkaitan dengan tekanan mental, trauma akibat gempa susulan, depresi, hingga gangguan kesehatan yang muncul selama masa pengungsian.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
