Connect with us

Berita

Di Mana Gunung Anak Krakatau? Ini Lokasi dan Sejarah Terbentuknya

Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda, tepatnya di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, di antara Pulau Jawa dan Sumatra.

Logompn

Published

on

Di Mana Anak Gunung Krakatau Ini Lokasi dan Sejarah Terbentuknya
Lokasi Anak Gunung Krakatau dan sejarah terbentuknya. Gambar: Dok. Setkab

MPN Indonesia 5 September 2026 - Gunung Anak Krakatau berada di Kab/Kota Lampung Selatan, Lampung dengan posisi geografis di Latitude -6.102°LU, Longitude 105.423°BT dan memiliki ketinggian 157 mdpl.

Gunung api ini terbentuk setelah letusan besar Gunung Krakatau pada 1883 yang meruntuhkan sebagian besar tubuh gunung dan memicu tsunami.

Aktivitas vulkanik yang terus berlangsung setelah letusan tersebut kemudian membentuk kerucut gunung baru yang mulai muncul pada 20 Januari 1930.

Peristiwa ini menjadi bagian dari proses geologi yang berlangsung selama puluhan tahun setelah letusan Krakatau mengubah bentang alam di Selat Sunda.

Peristiwa tersebut berdampak pada kawasan sekitar Selat Sunda hingga memengaruhi kondisi atmosfer dan iklim di berbagai wilayah dunia selama beberapa tahun berikutnya.

Gunung Anak Krakatau secara Geografis

Secara geografis, Gunung Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.

Posisinya berada di antara wilayah Banten dan Lampung Selatan, tepat di kawasan bekas kaldera Gunung Krakatau yang runtuh akibat letusan besar pada 1883.

Gunung ini bukan bagian dari daratan Pulau Jawa maupun Pulau Sumatra.

Keberadaannya muncul dari dasar laut sebagai hasil aktivitas vulkanik yang terus berlangsung setelah letusan Krakatau menghancurkan sebagian besar tubuh gunung sebelumnya.

Hingga kini, kawasan tersebut masih menjadi wilayah gunung api aktif dengan aktivitas vulkanik yang terus dipantau.

Sejarah Terbentuknya Anak Krakatau

Sejarah terbentuknya Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang aktivitas Gunung Krakatau yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Baca Juga:  Cek Peta Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Hari Ini 7 September 2026

Dikutip MPN Indonesia dari Judd (1889), catatan sejarah menyebutkan Gunung Krakatau pernah mengalami letusan besar sekitar 416 SM. Letusan tersebut menyebabkan tsunami dan membentuk kaldera atau kawah.

Selain itu, sejumlah sumber juga mencatat aktivitas letusan pada abad ke-3, ke-9, ke-10, ke-11, ke-12, ke-14, ke-16, dan ke-17. Aktivitas tersebut diikuti pertumbuhan tiga kerucut utama, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

Rangkaian aktivitas vulkanik tersebut menjadi bagian dari perkembangan kompleks Gunung Krakatau sebelum letusan besar pada abad ke-19.

Kronologi Letusan Krakatau 1883

Aktivitas vulkanik yang berujung pada letusan besar mulai meningkat sejak Maret 1883. Penduduk mulai merasakan getaran kecil, sementara aktivitas seismik terus bertambah.

Dikutip MPN Indonesia dari Jurnal Forum for Social and Humanities Studies, pada 20 Mei 1883 mulai terjadi letusan awal.

Aktivitas vulkanik berlanjut sepanjang Juni hingga Agustus dengan letusan-letusan kecil yang semakin sering disertai keluarnya abu vulkanik.

Memasuki 26 Agustus 1883, intensitas letusan meningkat tajam.

Berdasarkan data sejarah yang tersedia, sekitar pukul 13.00 pada 26 Agustus 1883, letusan mengirimkan awan gas dan material vulkanik hingga sekitar 15 mil ke udara di atas Perboewatan.

Rangkaian ledakan kemudian berlangsung selama sekitar 21 jam.

Puncaknya terjadi pada 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.00. Letusan tersebut melontarkan abu hingga sekitar 50 mil ke atmosfer.

Suara ledakannya terdengar hingga ribuan kilometer dari lokasi letusan, termasuk Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia.

Akibat letusan berantai tersebut, sekitar dua pertiga tubuh Gunung Krakatau runtuh dan membentuk kaldera besar di Selat Sunda.

Aktivitas vulkanik masih berlangsung hingga Februari 1884.

Dampak Letusan Krakatau 1883

Letusan Krakatau menjadi salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah.

Baca Juga:  Aktivitas Gunung Anak Krakatau Hari Ini 8 September 2026

Berdasarkan data yang tersedia, sedikitnya 36.417 orang meninggal dunia akibat letusan dan tsunami yang menyertainya.

Gelombang tsunami dengan ketinggian mencapai sekitar 30 meter menghantam kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda.

Wilayah yang terdampak meliputi Pantai barat Banten, Pantai selatan Lampung, Lampung Selatan, Pandeglang, dan Serang.

Selain menyebabkan korban jiwa, tsunami juga merusak permukiman, pelabuhan, infrastruktur, lahan pertanian, kawasan perikanan, serta mengganggu aktivitas perdagangan masyarakat pesisir.

Letusan Anak Krakatau 1883 Gelapkan Dunia

Dampak letusan tidak hanya dirasakan di Indonesia.

Material vulkanik berupa abu dan gas sulfur dioksida tersebar hingga lapisan atmosfer.

Partikel tersebut memantulkan sebagian sinar matahari sehingga menyebabkan penurunan suhu global.

Data penelitian menyebutkan rata-rata suhu dunia turun sekitar 1 hingga 2 derajat Celsius setelah letusan.

Fenomena ini menyebabkan:

  • Langit menjadi lebih gelap selama beberapa hari.
  • Cahaya matahari tampak redup hingga sekitar satu tahun.
  • Pola cuaca berubah di berbagai wilayah.
  • Suhu global tidak kembali normal hingga sekitar 1888.
  • Hamburan debu vulkanik terlihat hingga Norwegia dan New York.

Sejumlah wilayah juga mengalami perubahan pola hujan, musim pertanian yang tidak stabil, serta kegagalan panen akibat perubahan suhu tersebut.

Bagaimana Anak Krakatau Terbentuk?

Setelah letusan besar pada 1883, aktivitas magma di bawah bekas kaldera masih terus berlangsung.

Proses vulkanisme tersebut secara bertahap membentuk kerucut gunung baru dari dasar laut.

Gunung baru itu mulai muncul ke permukaan pada 20 Januari 1930 dan kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Data yang tersedia menyebutkan pertumbuhan gunung berlangsung cukup cepat.

Beberapa karakteristik pertumbuhannya antara lain:

  • Mulai muncul pada 20 Januari 1930.
  • Tinggi bertambah sekitar 0,5 meter setiap bulan.
  • Bertambah sekitar 6 meter setiap tahun.
  • Lebar gunung meningkat sekitar 12 meter setiap tahun.
  • Elevasi tertinggi mencapai 338 meter di atas permukaan laut berdasarkan pengukuran pada September 2018.
Baca Juga:  Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi pada 9 September 2026 Dini Hari

Kemunculan gunung baru tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik di kawasan bekas kaldera Krakatau masih berlangsung hingga kini.

Tipe Letusan Gunung Anak Krakatau

Sebagai gunung api aktif, Anak Krakatau telah beberapa kali mengalami erupsi.

Data yang tersedia mencatat aktivitas erupsi, antara lain, terjadi pada:

  • 20 Juni 2016
  • 19 Februari 2017
  • 29 Juni 2018
  • 22 Desember 2018

Letusan tersebut bertipe strombolian, yakni semburan lava pijar yang berasal dari magma dangkal dan umum terjadi pada gunung api aktif.

Pada 22 Desember 2018, tinggi kolom asap tercatat berkisar 300 hingga 1.500 meter di atas puncak kawah.

Data kegempaan juga merekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale sekitar 85 milimeter.

Pada pukul 21.03 WIB terjadi letusan yang kemudian diikuti tsunami.

Berdasarkan citra satelit, sebagian besar tubuh Anak Krakatau mengalami longsor.

Peristiwa tersebut memicu tsunami yang berdampak ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda, termasuk Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

(AKM/NID/RAD)

Peringati Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Beri Diskon Tambahan 50 Persen
Berita6 minutes ago

Peringati Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Beri Diskon Tambahan 50 Persen

Annie Areeya, Wanita yang Disebut Dekat dengan Aisar Khaled Benarkan Chat yang Beredar soal Hamil dan Suruhan Gugurkan Kandungan
Selebriti14 minutes ago

Annie Areeya, Wanita yang Disebut Dekat dengan Aisar Khaled Benarkan Chat yang Beredar soal Hamil dan Suruhan Gugurkan Kandungan

Harga Emas Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Rp20.000 per Gram
Ekonomi22 minutes ago

Harga Emas Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Rp20.000 per Gram

Oknum Polisi di Riau Diduga Habisi Ibu Kandung, Pelaku Diduga Alami Gangguan Jiwa
Kriminal32 minutes ago

Oknum Polisi di Riau Diduga Habisi Ibu Kandung, Pelaku Diduga Alami Gangguan Jiwa

Tampil Perkasa, Janice Tjen Lolos 16 Besar di Guangzhou Open
Olahraga51 minutes ago

Tampil Perkasa, Janice Tjen Lolos 16 Besar di Guangzhou Open 2026

Keturunan Indonesia, Alvin Tedjo Resmi Terpilih jadi Wali Kota Mississauga Kanada
Internasional1 hour ago

Keturunan Indonesia, Alvin Tedjo Resmi Terpilih jadi Wali Kota Mississauga Kanada

Harga Perak Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Dua Hari Beruntun
Ekonomi2 hours ago

Harga Perak Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Dua Hari Beruntun

Harga Minyak Dunia Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Kembali Dekati Level Tertinggi dalam Empat Tahun
Ekonomi3 hours ago

Harga Minyak Dunia Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik, Kembali Dekati Level Tertinggi dalam Empat Tahun

Roma vs Cagliari 4 2 Sempat Tertinggal, Roma Berhasil Balikkan Keadaan
Olahraga3 hours ago

Roma vs Cagliari 4-2: Sempat Tertinggal, Roma Berhasil Balikkan Keadaan

KRL Jakarta-Bogor Keluarkan Percikan Api, Diduga Berasal dari Pantograf
Viral3 hours ago

KRL Jakarta-Bogor Keluarkan Percikan Api dan Asap di Stasiun Jakarta Kota, Penumpang Panik

Sassuolo vs Lazio 2 6 Lazio Pesta Gol, Puncaki Klasemen Sementara Serie A
Olahraga3 hours ago

Sassuolo vs Lazio 2-6: Jay Idzes Tak Dimainkan, Lazio Puncaki Klasemen Sementara Serie A

Torino vs Como 1 3 i Lariani Comeback, Nico Paz Tampil Gemilang
Olahraga3 hours ago

Torino vs Como 1-3: I Lariani Comeback, Nico Paz Tampil Gemilang

PSS vs Borneo 1 2 Bermain 10 Pemain, Super Elang Jawa Tak Mampu Tahan Serangan Pesut Etam
Olahraga4 hours ago

PSS vs Borneo 1-2: Bermain 10 Pemain, Super Elang Jawa Tak Mampu Tahan Serangan Pesut Etam

Tak Hanya Jaga Mangrove, Flora Potensi Prioritaskan Kesejahteraan Warga Pesisir di Aceh
Berita4 hours ago

Tak Hanya Jaga Mangrove, Flora Potensi Prioritaskan Kesejahteraan Warga Pesisir di Aceh

Tema Hari Sumpah Pemuda 2026 Makna dan Filosofi Logo Resmi
Berita4 hours ago

Tema Hari Sumpah Pemuda 2026: Makna dan Filosofi Logo Resmi

Trending