Connect with us

Ekonomi

Ketegangan Israel-Iran Picu Kenaikan Harga Minyak dan Penurunan Bursa AS

Ketegangan Israel-Iran picu lonjakan harga minyak global & tekan bursa saham AS. Serangan ke fasilitas energi Iran picu kekhawatiran pasar dan geopolitik.

Logompn

Published

on

Ketegangan israel iran picu kenaikan harga minyak dan penurunan bursa as
Ilustrasi Bendera Israel - Iran. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 18 Juni 2025 - Ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran memicu lonjakan harga minyak global serta penurunan indeks saham utama Amerika Serikat pada Selasa (17/6).

Lonjakan harga terjadi setelah Israel membombardir sejumlah fasilitas energi penting milik Iran sejak Jumat (13/6), termasuk ladang gas South Pars, pabrik gas Fajr Jam, depot minyak Shahran, dan kilang minyak Shahr Rey.

Situasi diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran, sambil mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium di Fordow.

Harga Minyak Melonjak, Saham AS Tertekan

Dua indeks harga minyak utama dunia, Brent North Sea Crude dan West Texas Intermediate (WTI), masing-masing melonjak 4,4 persen dan 4,3 persen. Brent tercatat di level $76,45 per barel, sementara WTI mencapai $74,84 per barel.

Kenaikan berlanjut pada Rabu pagi (18/6), dengan kedua indeks kembali naik sekitar 0,5 persen pada pukul 03.30 GMT.

Di sisi lain, bursa saham AS ikut tertekan. Indeks S&P500 turun 0,84 persen dan Nasdaq Composite melemah 0,91 persen.

Meski distribusi energi global belum terganggu secara signifikan, potensi eskalasi konflik, termasuk kemungkinan keterlibatan militer AS dalam ofensif Israel, mendorong kekhawatiran pasar.

“Dalam konteks upaya mengguncang stabilitas Iran, Israel mungkin akan menyerang ekspor minyak negara itu, dengan keyakinan bahwa menjatuhkan rezim yang bermusuhan sepadan dengan risiko memicu kekhawatiran mitra terkait lonjakan harga,” ujar Clayton Seigle, peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, seperti dikutip MPN Indonesia dari laman Al Jazeera, Rabu (18/6).

Baca Juga:  AS Sita Kapal Tanker Iran, IRGC Ancam Balas Dendam

Ancaman terhadap Stabilitas Energi Global

Iran memiliki cadangan minyak mentah terbesar ketiga dan cadangan gas terbesar kedua di dunia.

Namun, ekspor energi negara tersebut dibatasi oleh sanksi internasional yang dipimpin Amerika Serikat.

Pada 2023, Iran memproduksi sekitar 3,99 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 4 persen dari pasokan global menurut data Badan Informasi Energi AS.

Sebagian besar ekspor Iran melewati terminal Pulau Kharg yang hingga kini belum menjadi sasaran serangan.

Meski demikian, letak strategis Iran di Selat Hormuz, jalur pengiriman 20–30 persen minyak dunia, menjadikan wilayah ini titik rawan yang sangat vital.

Dugaan Kejahatan Perang dan Reaksi Internasional

Serangan terhadap infrastruktur energi sipil memicu kekhawatiran akan pelanggaran hukum internasional.

Instalasi non-militer seperti pabrik dan kilang minyak menjadi target langsung dalam serangkaian serangan udara sejak akhir pekan lalu.

Penggunaan kekuatan militer terhadap infrastruktur sipil bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang, tergantung pada niat dan proporsionalitas serangan.

Pada hari yang sama, Selasa (17/6), Presiden Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial melalui platform Truth Social, “Kami tahu di mana lokasi Ayatollah Ali Khamenei, tetapi kami tidak akan membunuhnya, setidaknya untuk saat ini.”

Pernyataan ini memperbesar ketegangan dan menimbulkan spekulasi akan serangan militer lebih lanjut terhadap Iran.

Seigle menambahkan, “Para perencana strategi Israel sangat menyadari bahwa kapasitas ekspor minyak Iran sangat rentan terhadap gangguan.”

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending