Connect with us

Berita

Menag Tetapkan 10 Muharam jadi Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas

Kemenag deklarasikan 10 Muharam sebagai Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas.

Logompn

Published

on

Menag Menyebut 10 Muharam jadi Momentum Lebaran untuk Yatim dan Difabel
Menag Menyebut 10 Muharam jadi Momentum Lebaran untuk Yatim dan Difabel. Gambar: Dok. Kemenag

MPN Indonesia 27 Juni 2026 - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendeklarasikan 10 Muharam sebagai momentum Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (25/6), dalam rangkaian program Peaceful Muharam 1448 Hijriah yang berlangsung sejak 1 Muharam hingga sebulan ke depan.

Kebijakan ini bertujuan menjadikan bulan Muharam sebagai momentum kepedulian sosial, khususnya bagi anak yatim dan kelompok difabel, melalui berbagai program bantuan dan pemberdayaan yang terfokus.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin menegaskan pentingnya menjadikan 10 Muharam sebagai hari pembebasan dari kesulitan hidup bagi kelompok rentan.

“Mari kita jadikan 10 Muharam ini sebagai hari pembebasan bagi kelompok anak yatim dan kelompok yang membutuhkan perhatian. Kita bebaskan mereka dari berbagai kesulitan hidup, kegalauan, dan penderitaan yang mereka alami,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melelui laman resmi Kemenag pada Sabtu (27/6).

Ia menyampaikan bahwa Kementerian Agama mendorong gerakan bersama agar masyarakat lebih aktif dalam membantu anak yatim dan penyandang disabilitas.

Lebih lanjut, Nasaruddin Umar menyebut bahwa peringatan ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi diharapkan menjadi agenda nasional yang berkelanjutan.

Penyaluran Bantuan dan Cakupan Nasional

Pada peringatan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 1448 H, Kementerian Agama bersama berbagai mitra menyalurkan bantuan senilai Rp23.554.782.009 kepada total 52.601 penerima di 34 provinsi.

Jumlah tersebut terdiri dari 50.113 anak yatim dan 2.488 penyandang disabilitas yang mendapatkan manfaat dari program kolaboratif ini.

Kegiatan utama yang berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama, Jakarta, melibatkan 395 anak yatim dan 55 penyandang disabilitas sebagai penerima langsung bantuan.

Baca Juga:  Rencana Destimar Ajak Anak Yatim Nginap di Vila Mewah Bandung Banjir Dukungan Warganet

Program ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia (BWI), perbankan syariah, serta sejumlah Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS).

Dari seluruh wilayah, Kalimantan Barat tercatat sebagai provinsi dengan nilai penyaluran bantuan terbesar, mencapai Rp7.575.980.800.

Selain itu, Rumah Zakat menjadi lembaga dengan kontribusi distribusi bantuan terbesar dalam program kolaborasi tersebut.

Konsep Program

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan santunan, tetapi juga sebagai ekosistem pemberdayaan bagi anak yatim dan penyandang disabilitas.

Pendekatan yang digunakan menempatkan peserta sebagai subjek kegiatan dengan memberikan ruang untuk mengembangkan potensi.

“Kami ingin menghadirkan ruang yang lebih luas bagi anak yatim dan penyandang disabilitas untuk mengekspresikan potensi terbaik mereka. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi bagian penting dari pembangunan sosial keagamaan,” ujar Abu Rokhmad.

Kegiatan tersebut dikemas dalam lima zona terintegrasi, yaitu Zona Tumbuh sebagai ruang edukasi, Zona Berdaya untuk pengembangan kapasitas, Barokah Market sebagai etalase produk, Zona Ekspresi untuk kreativitas seni, serta Zona Cahaya yang menjadi area pelelangan karya anak-anak binaan.

Selain itu, kegiatan juga menghadirkan talkshow Suara Anak untuk Negeri, pertunjukan talenta, serta program Lelang Cahaya yang menampilkan karya anak-anak binaan.

Program ini melibatkan 14 lembaga tingkat pusat serta partisipasi dari 34 Kantor Wilayah Kementerian Agama dan ratusan kabupaten/kota.

Penguatan Tradisi Sosial di Bulan Muharam

Menurut Nasaruddin Umar, bulan Muharam memiliki makna dalam tradisi Islam sebagai bulan yang dimuliakan dan identik dengan nilai perdamaian serta kasih sayang.

Oleh karena itu, momentum ini digunakan untuk memperkuat solidaritas sosial melalui perhatian kepada anak yatim.

Ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat lebih mengenal amalan puasa di bulan Muharam, namun praktik berbagi juga perlu diperkuat.

Baca Juga:  Kemenag akan Proyeksi Kurikulum Berbasis Cinta di 2026

“Kita kembalikan tradisi Lebaran Yatim yang selama ini dikenal di masyarakat, lalu kita Indonesiakan menjadi gerakan bersama untuk membantu anak-anak yatim piatu dan kelompok difabel,” ujarnya.

Selain itu, Nasaruddin juga menekankan pentingnya kepedulian yang berkelanjutan, tidak hanya dalam bentuk bantuan sesaat, tetapi juga melalui akses pendidikan, pengembangan diri, dan partisipasi sosial yang lebih luas bagi anak yatim dan penyandang disabilitas.

Ia mengajak masyarakat untuk menunjukkan kecintaan terhadap agama melalui tindakan nyata.

“Mari kita cintai agama dengan cara mencintai anak-anak yatim dan kelompok difabel. Siapa yang akan memperhatikan mereka kalau bukan kita,” kata Nasaruddin.

(AKM/NID/RAD)

Trending