Connect with us

Internasional

13 Fakta Selat Hormuz, Perairan “Kecil” yang jadi Jalur Strategis Perdagangan Energi Dunia

Mengenal Selat Hormuz, perairan sempit antara Iran dan Oman yang menjadi jalur penting perdagangan minyak, LNG, dan pasokan energi global.

Logompn

Published

on

13 Fakta Selat Hormuz, Perairan Kecil yang jadi Jalur Strategis Perdagangan Energi Dunia
13 Fakta Selat Hormuz, Perairan Kecil yang jadi Jalur Strategis Perdagangan Energi Dunia. Gambar: NASA

MPN Indonesia 10 Juli 2026 - Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Perairan sempit ini menjadi pintu keluar utama bagi kapal-kapal yang membawa minyak mentah, produk minyak, dan gas alam cair dari negara-negara di kawasan Teluk Persia.

Posisi Selat Hormuz membuat kondisi keamanan di kawasan tersebut sering menjadi perhatian dunia.

Gangguan pelayaran, konflik bersenjata, maupun ancaman penutupan selat dapat memengaruhi pasokan energi dan harga komoditas di berbagai negara.

Tidak hanya negara produsen minyak di Timur Tengah, negara-negara konsumen energi di Asia, termasuk Indonesia, juga berkepentingan terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Berikut 13 fakta Selat Hormuz yang penting untuk diketahui.

Menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab

Menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab
Menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Gambar: Boe Report

Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Kapal yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan di Teluk Persia harus melewati selat ini sebelum menuju Samudra Hindia dan pasar internasional.

Posisinya sebagai pintu keluar Teluk Persia membuat Selat Hormuz memiliki arti penting bagi perdagangan dunia.

Berbagai komoditas yang diproduksi di kawasan tersebut, terutama minyak bumi, gas alam cair, dan pupuk, dikirim melalui jalur ini.

Sebaliknya, Selat Hormuz juga menjadi jalur masuk bagi pengiriman pangan, obat-obatan, barang teknologi, dan kebutuhan lainnya menuju negara-negara Teluk.

Dengan demikian, fungsinya tidak hanya terbatas sebagai jalur ekspor energi.

Terletak di antara Iran dan Oman

Terletak di Antara Iran dan Oman
Terletak di Antara Iran dan Oman. Gambar: Hormuz Monitor

Secara geografis, Selat Hormuz memisahkan wilayah Iran di sebelah utara dengan Semenanjung Musandam milik Oman di sebelah selatan.

Uni Emirat Arab juga berada tidak jauh dari bagian selatan selat tersebut.

Di sisi Iran terdapat sejumlah pulau, antara lain Qeshm, Hormuz, Hengam, dan Larak.

Baca Juga:  Trump Berlakukan Tarif Baru ke 60 Negara, Indonesia Kena 10%

Bandar Abbas, salah satu pelabuhan penting Iran dari sisi ekonomi dan militer, juga berada di dekat bagian utara Selat Hormuz.

Letak geografis tersebut menyebabkan jalur pelayaran Selat Hormuz berada di sekitar wilayah perairan teritorial Iran dan Oman.

Kedua negara mempunyai peran penting dalam pengawasan wilayah perairan di sekitar selat.

Lebar Selat Hormuz hanya Sekitar 54 Kilometer di Titik Tersempit

Lebar Selat Hormuz Hanya Sekitar 54 Kilometer di Titik Tersempit
Lebar Selat Hormuz Hanya Sekitar 54 Kilometer di Titik Tersempit. Gambar: Unsplash

Selat Hormuz memiliki lebar yang berbeda-beda pada setiap bagiannya. Di titik tersempit, lebarnya hanya sekitar 29 mil laut atau kurang lebih 54 kilometer.

Meski terlihat cukup lebar, ruang yang digunakan sebagai jalur navigasi kapal jauh lebih terbatas.

Jalur masuk dan keluar masing-masing hanya memiliki lebar sekitar dua mil laut atau sekitar 3,7 kilometer.

Kedua jalur tersebut dipisahkan oleh zona penyangga dengan lebar yang hampir sama.

Kondisi ini membuat lalu lintas kapal harus mengikuti koridor pelayaran yang telah ditentukan.

Pengaturan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko tabrakan di tengah tingginya aktivitas kapal tanker, kapal kargo, dan kapal niaga lainnya.

Salah Satu Jalur Laut Tersibuk di Dunia

Selat Hormuz Menjadi Salah Satu Jalur Laut Tersibuk di Dunia
Selat Hormuz Menjadi Salah Satu Jalur Laut Tersibuk di Dunia. Gambar: Reuters

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur laut tersibuk, terutama untuk pengangkutan minyak dan gas.

Dalam keadaan normal, sekitar 3.000 kapal dapat melintasi selat ini setiap bulan. Kapal-kapal tersebut berasal dari berbagai negara dan membawa beragam jenis muatan.

Sebagian besar merupakan kapal tanker minyak, kapal pengangkut gas alam cair atau LNG, kapal kontainer, dan kapal pengangkut produk energi lainnya.

Tingginya aktivitas pelayaran menyebabkan keamanan Selat Hormuz menjadi kepentingan internasional.

Gangguan terhadap sejumlah kapal saja dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran rantai pasok global.

Seperempat Perdagangan Minyak Dunia melalui Laut Melewati Selat Hormuz

Seperempat Perdagangan Minyak Dunia melalui Laut Melewati Selat Hormuz
Seperempat Perdagangan Minyak Dunia melalui Laut Melewati Selat Hormuz. Gambar: Bloomberg

Dikutip MPN Indonesia dari BBC, pada 2025 sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melewati Selat Hormuz setiap hari.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperempat perdagangan minyak dunia yang dilakukan melalui jalur laut.

Minyak yang melewati Selat Hormuz berasal dari sejumlah negara produsen minyak utama, seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Iran, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.

Bagi beberapa negara tersebut, Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk mengirimkan sebagian besar ekspor minyaknya.

Gangguan pada jalur ini dapat memengaruhi ketersediaan minyak meskipun terjadi dalam waktu relatif singkat.

Sebagian Besar Minyak dari Selat Hormuz Dikirim ke Asia

Sebagian Besar Minyak dari Selat Hormuz Dikirim ke Asia
Sebagian Besar Minyak dari Selat Hormuz Dikirim ke Asia. Gambar: Fortune

Sekitar 80 persen minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim menuju pasar Asia.

Baca Juga:  Belgia vs Iran 0-0: Kedua Tim Sama-Sama Belum Petik Kemenangan di Piala Dunia

China, India, Jepang, dan Korea Selatan termasuk negara tujuan utama minyak dari kawasan Teluk Persia.

Menurut IEA, pada 2025, China dan India secara gabungan menerima sekitar 44 persen ekspor minyak mentah yang melewati selat tersebut.

Jepang dan Korea Selatan juga memiliki tingkat ketergantungan cukup tinggi terhadap jalur pasokan dari Timur Tengah.

Qatar Sangat Bergantung pada Selat Hormuz untuk Ekspor LNG

Qatar Sangat Bergantung pada Selat Hormuz untuk Ekspor LNG
Qatar Sangat Bergantung pada Selat Hormuz untuk Ekspor LNG. Gambar: Reuters

Selat Hormuz tidak hanya penting bagi perdagangan minyak, tetapi juga bagi perdagangan gas alam cair atau LNG.

Hampir 20 persen perdagangan LNG global melewati jalur tersebut. Qatar merupakan salah satu eksportir LNG terbesar di dunia.

Sekitar 93 persen ekspor LNG Qatar melewati Selat Hormuz, sedangkan sekitar 96 persen ekspor LNG Uni Emirat Arab juga menggunakan jalur yang sama.

Ketergantungan Qatar semakin besar karena tidak tersedia jalur laut alternatif untuk membawa LNG menuju pasar global.

Apabila pelayaran di Selat Hormuz terganggu, pasokan LNG ke Asia dan Eropa dapat berkurang dalam jumlah besar.

Negara seperti Bangladesh, India, dan Pakistan termasuk yang paling rentan karena memperoleh sebagian besar pasokan LNG mereka melalui Selat Hormuz.

Kekurangan LNG dapat berdampak terhadap pembangkit listrik dan industri yang menggunakan gas sebagai bahan bakar.

Iran Memiliki Kemampuan Mengganggu Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz

Iran Memiliki Dapat Mengganggu Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz
Iran Memiliki Kemampuan Mengganggu Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz. Gambar: India Today

Iran menguasai wilayah di sebelah utara Selat Hormuz dan memiliki kekuatan militer yang dapat digunakan untuk mengganggu pelayaran.

Kemampuan tersebut mencakup kapal cepat, drone, rudal antikapal, dan ranjau laut.

Meski demikian, menutup seluruh bagian Selat Hormuz secara fisik dalam waktu lama bukanlah perkara mudah.

Sebagian besar perairannya cukup dalam untuk dilewati kapal tanker besar dan jalurnya memiliki bentang yang relatif panjang.

Namun, Iran tidak harus menutup seluruh perairan untuk menimbulkan gangguan.

Ancaman serangan atau keberadaan ranjau sudah dapat membuat perusahaan pelayaran menunda perjalanan, mengubah rute, atau menghentikan operasinya.

Posisi ini memberikan Iran pengaruh asimetris. Dengan sumber daya yang lebih kecil dibandingkan kekuatan angkatan laut negara besar, Iran tetap dapat menciptakan risiko tinggi terhadap pelayaran komersial.

Ancaman Serangan Dapat Menurunkan Lalu Lintas Kapal secara Drastis

Ancaman Serangan Dapat Menurunkan Lalu Lintas Kapal secara Drastis
Ancaman Serangan Dapat Menurunkan Lalu Lintas Kapal secara Drastis. Gambar: Bloomberg

Lalu lintas Selat Hormuz sangat sensitif terhadap peningkatan konflik. Ancaman serangan terhadap kapal dapat membuat perusahaan pelayaran dan pemilik muatan memilih untuk tidak melintasi kawasan tersebut.

Lalu lintas harian di Selat Hormuz pernah dilaporkan turun sekitar 95 persen selama berlangsungnya konflik Iran vs AS-Israel.

Baca Juga:  Trump Tetapkan Tarif Impor 32% untuk Indonesia Mulai 1 Agustus

Hanya sekitar 100 kapal yang melintasi Selat Hormuz antara 1 dan 20 Maret 2026 dalam periode gangguan tersebut.

Penurunan lalu lintas bukan hanya disebabkan oleh serangan langsung.

Ketidakpastian keamanan, kesulitan mendapatkan perlindungan asuransi, dan kekhawatiran terhadap keselamatan awak kapal juga memengaruhi keputusan perusahaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman saja dapat menimbulkan dampak ekonomi yang hampir setara dengan penutupan fisik.

Penutupan Selat Hormuz Dapat Memicu Kenaikan Harga Minyak Dunia

Penutupan Selat Hormuz Dapat Memicu Kenaikan Harga Minyak Dunia
Penutupan Selat Hormuz Dapat Memicu Kenaikan Harga Minyak Dunia. Gambar: Anadolu Agency

Pasar minyak sangat dipengaruhi oleh perkiraan pasokan pada masa mendatang. Ketika muncul kemungkinan penutupan Selat Hormuz, pelaku pasar biasanya memperhitungkan risiko berkurangnya jutaan barel minyak per hari.

Jalur alternatif yang tersedia belum mampu menggantikan seluruh kapasitas Selat Hormuz.

Arab Saudi memiliki jaringan pipa menuju Laut Merah, sedangkan Uni Emirat Arab mempunyai jaringan pipa menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman.

Namun, kapasitas tambahan kedua jalur tersebut diperkirakan hanya sekitar 3,5 juta hingga 5,5 juta barel per hari.

Jumlah itu jauh lebih kecil daripada sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Apabila gangguan berlangsung lama, kekurangan pasokan dapat terjadi. Dampaknya bukan hanya kenaikan harga minyak, tetapi juga kenaikan harga bahan bakar, gas, pupuk, logam, biaya transportasi, dan berbagai barang yang proses produksinya bergantung pada energi.

Kapal yang Melintasi Selat Hormuz Menghadapi Risiko Asuransi Tinggi

Kapal yang Melintasi Selat Hormuz Menghadapi Risiko Asuransi Tinggi
Kapal yang Melintasi Selat Hormuz Menghadapi Risiko Asuransi Tinggi. Gambar: Atlas Institute

Konflik di sekitar Selat Hormuz dapat membuat biaya asuransi kapal meningkat tajam.

Perusahaan asuransi memperhitungkan risiko serangan rudal, drone, ranjau laut, pembajakan, kerusakan kapal, serta kemungkinan awak kapal terluka atau meninggal.

Dalam situasi berisiko tinggi, perusahaan pelayaran mungkin harus membeli perlindungan tambahan berupa asuransi risiko perang.

Premi yang harus dibayar dapat meningkat seiring memburuknya kondisi keamanan.

Bahkan, perusahaan asuransi dapat menolak memberikan perlindungan terhadap perjalanan tertentu.

Tanpa perlindungan yang memadai, pemilik kapal dan perusahaan pelayaran cenderung menghindari kawasan tersebut.

Indonesia Juga Bergantung pada Kelancaran Pelayaran di Selat Hormuz

Indonesia Juga Bergantung pada Kelancaran Pelayaran di Selat Hormuz
Indonesia Juga Bergantung pada Kelancaran Pelayaran di Selat Hormuz. Gambar: Pertamina

Indonesia bukan negara yang seluruh pasokan energinya bergantung pada Selat Hormuz.

Namun, Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan produk bahan bakar dari negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Dikutip MPN Indonesia dari laman Kementerian ESDM, sepanjang 2025, Pertamina tercatat mengimpor sekitar 135,33 juta barel minyak mentah.

Sekitar 25,36 juta barel atau 19 persen di antaranya berasal dari Arab Saudi.

Kendati demikian, Indonesia telah memiliki sumber pasokan dari Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, dan sejumlah kawasan lainnya.

Kapal Pertamina Pernah Menghadapi Kendala Pelintasan Selat Hormuz

Kapal Pertamina Pernah Menghadapi Kendala Pelintasan Selat Hormuz
Kapal Pertamina Pernah Menghadapi Kendala Pelintasan Selat Hormuz. Gambar: Pertamina

Kondisi keamanan Selat Hormuz pernah memengaruhi pelayaran kapal yang berkaitan dengan Pertamina pada Maret lalu.

Pemerintah Indonesia harus berkoordinasi dengan pemerintah Iran dan berbagai pihak terkait untuk mendukung perjalanan kapal Indonesia dari kawasan Teluk Persia.

Dua kapal yang disebut dalam proses tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Pertamina International Shipping mempersiapkan persyaratan teknis dan administratif agar kedua kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa konflik di Selat Hormuz dapat memberikan dampak langsung terhadap perusahaan dan awak kapal Indonesia.

Risiko yang dihadapi bukan hanya perubahan harga energi, tetapi juga keselamatan operasional pelayaran.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending