Connect with us

Internasional

80 Ribu Tentara Israel Idap Gangguan Jiwa Buntut Serangan terhadap Gaza

Kementerian Pertahanan Israel pada Minggu (7/12) melaporkan lebih dari 80.000 tentara Israel mengalami gangguan psikologis setelah agresi militer di Jalur Gaza, Palestina.

Logompn

Published

on

80 ribu tentara israel idap gangguan jiwa buntut serangan terhadap gaza
80 Ribu Tentara Israel Idap Gangguan Jiwa Buntut Serangan terhadap Gaza | Gambar: Anadolu Agency

MPN Indonesia 10 Desember 2025 - Kementerian Pertahanan (Kemhan) Israel pada Minggu (7/12) melaporkan lebih dari 80.000 tentara Israel mengalami gangguan psikologis setelah agresi militer di Jalur Gaza, Palestina.

Lonjakan kasus gangguan jiwa ini disebut belum pernah terjadi sebelumnya dan berkaitan langsung dengan operasi militer yang berlangsung sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Wakil Kepala Departemen Rehabilitasi Kemhan Israel, Tamar Shimoni, dikutip MPN Indonesia dari Anadolu Agency pada Rabu (10/12).

Kemhan Israel juga mencatat adanya 279 kasus percobaan bunuh diri di kalangan tentara dalam 18 bulan terakhir, dengan 36 di antaranya berujung pada kematian.

Selain itu, sebagian tentara dilaporkan menyalahgunakan narkoba sebagai bentuk pelarian dari tekanan mental.

Lonjakan PTSD di Kalangan Tentara Israel

Tamar Shimoni kepada Radio Angkatan Darat menyatakan bahwa kementerian menangani sekitar 62 ribu kasus psikologis dan telah meningkat menjadi 85 ribu.

Para tentara tersebut disebutkan mengalami gangguan yang dikenal sebagai post-traumatic stress disorder (PTSD).

PTSD merupakan kondisi gangguan kesehatan mental yang timbul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis, seperti perang, dan ditandai dengan gejala seperti mimpi buruk dan kilas balik terhadap kejadian traumatis.

PTSD secara resmi dimasukkan ke dalam pembahasan psikologi pada tahun 1980 setelah diteliti dari para veteran Perang Dunia I, II, dan Perang Vietnam.

Gangguan ini juga sempat dikenal sebagai “Sindrom DaCostas”, dengan gejala seperti sesak napas, denyut nadi cepat, dan kelelahan ekstrem saat mengingat kembali pertempuran.

Namun menurut penjelasan laman Psychiatric Times, PTSD dianggap sebagai akibat dari stres yang bersumber dari pengalaman di luar batas kewajaran manusia biasa.

Baca Juga:  China Latihan Perang Skala Besar, Siap-Siap Perang Dunia 3?

“Hal ini tampaknya berlaku tidak hanya untuk perang, tetapi juga untuk peristiwa-peristiwa seperti penyiksaan, pemerkosaan, dan bencana alam,” tertulis dalam laman tersebut.

Gangguan jiwa ini juga bisa disebabkan oleh tindakan yang bertentangan dengan nilai moral, seperti membunuh dalam konteks yang dipertanyakan.

“Cedera moral dapat terjadi karena melakukan hal-hal seperti membunuh untuk tujuan yang dipertanyakan, dan hal itu dapat berkontribusi pada perkembangan PTSD,” demikian pernyataan dari Psychiatric Times.

Fenomena serupa sebelumnya juga terjadi pada tentara Amerika Serikat yang kembali dari Perang Vietnam.

Mereka mengalami kecemasan berat akibat stres eksternal, yang kemudian disebut sebagai gangguan stres pascatrauma.

Sebelum dikenali secara resmi sebagai gangguan psikologis, kondisi ini dikenal dengan beberapa istilah seperti shock akibat peluru dan sindrom pasca-Vietnam.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending