Connect with us

Internasional

Lebih dari 28.000 Perempuan dan Anak Perempuan Tewas di Gaza Sejak Oktober 2023

UN Women sebut lebih dari 28.000 perempuan dan anak tewas di Gaza sejak Oktober 2023, krisis kemanusiaan makin parah, akses bantuan darurat sangat dibutuhkan

Logompn

Published

on

Lebih dari 28.000 perempuan dan anak perempuan tewas di gaza sejak oktober 2023
Lebih dari 28.000 Perempuan dan Anak Perempuan Tewas di Gaza Sejak Oktober 2023. Gambar: Xinhua News

MPN Indonesia 22 Mei 2025 - Sejak agresi militer di Jalur Gaza, Palestina dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 28.000 perempuan dan anak perempuan telah tewas.

Data ini berasal dari Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women).

Angka tersebut berarti rata-rata satu perempuan dan satu anak perempuan terbunuh setiap jam akibat serangan pasukan Israel.

UN Women menyatakan, konflik ini menyebabkan kehancuran besar pada keluarga dan komunitas di Gaza.

Korban tewas termasuk ribuan ibu yang meninggalkan anak-anak mereka tanpa pengasuhan, menggambarkan krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.

“Tragedi ini mencerminkan korban jiwa yang memilukan dan masa depan yang hilang secara prematur,” jelas UN Women, sebagaimana dikutip MPN Indonesia dari laman Xinhua News, Kamis (22/5).

Situasi memburuk setelah berakhirnya gencatan senjata pada Maret 2025, diperparah oleh blokade bantuan kemanusiaan selama hampir sembilan pekan.

UN Women memperingatkan bahwa seluruh populasi Gaza, terutama perempuan dan anak-anak, menghadapi risiko kelaparan ekstrem dan kematian.

Mereka juga mengalami pengungsian, meningkatnya kematian ibu, serta minim akses perlindungan dan layanan medis.

Organisasi itu menekankan, “Skala penderitaan melampaui kapasitas respons kemanusiaan yang ada di lapangan.”

Kondisi Kemanusiaan yang Semakin Kritis

Sejak gencatan senjata berakhir, blokade selama hampir dua bulan mempercepat habisnya pasokan makanan dan kebutuhan pokok di Gaza.

Warga, termasuk perempuan dan anak-anak, hanya bisa mengandalkan bantuan makanan gratis yang sangat terbatas, seperti di kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara.

UN Women menyoroti perempuan dan anak sebagai kelompok paling rentan yang mengalami kekurangan nutrisi parah, ketiadaan layanan kesehatan maternal, dan ancaman keamanan meningkat.

Baca Juga:  Israel Bikin Terowongan Bawah Tanah, Masjid Al-Aqsa Terancam Roboh!

Risiko kelaparan di kalangan mereka sangat tinggi, sementara peluang untuk pengungsian dan perlindungan sangat terbatas.

UN Women juga bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil lokal yang dipimpin perempuan untuk memberikan layanan penting dan dukungan psikososial, meski sumber daya minim.

Mereka menegaskan, “Bantuan tambahan dan peningkatan akses kemanusiaan sangat mendesak untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.”

Seruan Mendapatkan Gencatan Senjata dan Akses Bantuan

UN Women menyerukan agar segera dilakukan gencatan senjata dan pemulihan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.

Mereka juga mendesak pembebasan semua sandera dan orang yang ditahan secara sewenang-wenang.

Tanpa langkah cepat, jutaan warga Gaza, khususnya perempuan dan anak perempuan, berada dalam kondisi mengancam nyawa.

Peningkatan kekerasan dan dampak kemanusiaan yang luas menimbulkan kekhawatiran pelanggaran hukum internasional, termasuk potensi kejahatan perang.

UN Women menegaskan, “Tingginya angka kematian perempuan dan anak perempuan serta kondisi kehidupan yang tidak manusiawi di wilayah ini merupakan krisis mendalam yang membutuhkan respons global segera.”

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending