Connect with us

Internasional

Viral! Pantai Hormuz Iran Berubah Jadi Warna Merah, Ini Penyebabnya

Pantai Hormuz di Iran mendadak berubah merah setelah hujan deras. Fenomena langka ini dipicu tanah kaya zat besi dan viral di media sosial.

Logompn

Published

on

Viral! pantai hormuz iran berubah jadi warna merah, ini penyebabnya
Viral! Pantai Hormuz Iran Berubah Jadi Warna Merah, Ini Penyebabnya. Gambar : Kolase Tangkapan Layar Instagram/@hormoz_omid

MPN Indonesia 20 Desember 2025 - Fenomena alam langka terjadi di Pantai Hormuz, Iran, ketika air laut berubah menjadi merah setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada Selasa (16/12).

Peristiwa ini sontak menarik perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial.

Video yang diunggah akun Instagram @hormoz_omid pada Rabu (17/12) memperlihatkan aliran air berwarna merah tua mengalir dari perbukitan menuju pantai dan menyatu dengan laut, menciptakan ilusi seolah pantai tersebut dipenuhi darah.

“Hari ini pantai merah di puncak keindahan. Hujan membuat atraksi spektakuler Hormoz ini menakjubkan. Laut biru mengubah warna pantai ini menjadi merah,” tulis akun tersebut, dikutip MPN Indonesia pada Sabtu (20/12).

Penyebab Laut Berubah Menjadi Merah

Fenomena perubahan warna laut ini dikonfirmasi oleh sejumlah laporan media internasional seperti Fox News dan The Independent.

Perubahan warna tersebut bukan disebabkan oleh ganggang laut atau pencemaran lingkungan, melainkan proses alami yang berkaitan dengan kondisi geologis Pulau Hormuz.

Air hujan yang mengalir dari perbukitan membawa sedimen tanah berwarna merah yang kaya zat besi ke pesisir pantai.

Ketika bercampur dengan air laut, sedimen tersebut menghasilkan gradasi warna merah tua yang terlihat mencolok di sepanjang garis pantai.

Pulau Hormuz sendiri berada di Teluk Persia dan dikenal sebagai kawasan geologis unik berupa kubah garam yang kaya mineral.

Pulau ini tersusun dari lapisan garam, batuan vulkanik, serta tanah yang mengandung oksida besi.

Kandungan Mineral Tanah Pulau Hormuz

Studi yang dipublikasikan di ScienceDirect menjelaskan bahwa tanah di Pulau Hormuz mengandung hematit dan hidroksida besi, dengan hematit sebagai unsur dominan penyebab warna merah yang intens.

Baca Juga:  Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Ancam Tembak Kapal yang Nekat Melintas

Mineral ini bereaksi cepat dengan air dan mengalami oksidasi, sehingga warna merah tampak semakin kuat saat hujan turun.

Mineral serupa juga diketahui menjadi penyebab warna merah pada permukaan planet Mars.

Sementara itu, NASA Earth Observatory menyebut Pulau Hormuz sebagai kubah garam yang mengandung batu garam, gipsum, anhidrit, tanah liat, serta batuan vulkanik kaya besi.

Ketika hujan mengguyur, material tersebut terbawa arus menuju pantai dan membuat warna air laut berubah menjadi merah, oranye, atau kuning, tergantung komposisi partikel yang larut.

Laporan India Today turut mengutip penjelasan ilmuwan yang menegaskan bahwa reaksi antara air hujan dan tanah kaya zat besi menciptakan efek visual dramatis di kawasan pesisir.

Meski tampak ekstrem, kondisi ini bersifat sementara dan tidak membahayakan manusia maupun kehidupan laut.

Respons Warganet dan Nilai Budaya Lokal

Fenomena ini bukan pertama kali terjadi, namun disebut sebagai kejadian pertama sepanjang tahun ini.

Pulau Hormuz memiliki iklim gersang dengan curah hujan rendah, sehingga hujan deras menjadi peristiwa langka dan langsung menarik perhatian wisatawan, fotografer, serta peneliti geologi.

Masyarakat setempat menyebut tanah merah penyebab fenomena ini dengan istilah “gelak”.

Selain bernilai estetika, tanah tersebut juga memiliki nilai ekonomi dan secara tradisional digunakan sebagai pigmen dalam makanan, seni, kosmetik, hingga cat.

Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan agar penggunaan “gelak” sebagai bahan konsumsi dibatasi karena kandungan logam berat di dalamnya dapat berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Kondisi Geologis dan Dampak Lingkungan

Secara geologis, Pulau Hormuz terbentuk melalui proses alami yang berlangsung selama ratusan tahun.

Erosi yang terjadi terus-menerus membentuk perbukitan berwarna-warni yang terlihat semakin jelas saat musim hujan tiba.

Baca Juga:  Iran Tawarkan Bantuan untuk Korban Bencana Sumatra

Saat hujan turun, sedimen halus dari perbukitan mengalir melalui jalur alami menuju pantai dan menciptakan kontras warna merah dengan birunya laut Teluk Persia.

Meski hanya berlangsung sementara, para ahli lingkungan mengingatkan bahwa erosi berulang dalam jangka panjang berpotensi mengubah bentuk permukaan pulau.

Fenomena ini kembali menegaskan julukan Pulau Hormuz sebagai “pulau pelangi Teluk Persia”, berkat keberagaman warna tanah dan mineral seperti hematit, oker, gipsum, garam, dan bijih besi yang tersebar di berbagai lapisan wilayahnya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending