Connect with us

Lifestyle

Apakah Operasi Bariatrik Efektif Turunkan Berat Badan? Ini Faktanya

Efektivitas operasi bariatrik dalam menurunkan berat badan dinyatakan tinggi oleh para ahli medis.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 29t101258.381
Apakah Operasi Bariatrik Efektif Turunkan Berat Badan? Ini Faktanya | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 29 Mei 2025 - Efektivitas operasi bariatrik dalam menurunkan berat badan dinyatakan tinggi oleh para ahli medis.

Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif RS Pondok Indah, Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp.B, Subsp.B.D. (K), menyebut bahwa tindakan ini sangat jarang gagal.

“Pasien yang telah menjalani tindakan bariatrik sangat jarang mengalami kegagalan penurunan berat badan. Penurunan sebesar 20–30 persen dari berat badan dalam tahun pertama setelah tindakan sangat umum terjadi, dan kurang dari 1 persen pasien akan mengalami kegagalan dalam mencapai angka ini,” ujar Dokter Peter kepada MPN Indonesia.

Butuh Pola Hidup Sehat

Namun, keberhasilan operasi ini tidak berdiri sendiri. Peter menegaskan bahwa perubahan pola makan dan gaya hidup setelah operasi menjadi syarat mutlak bagi hasil yang permanen.

“Hal ini harus disadari oleh semua pihak (pasien, keluarga, serta khalayak umum), bahwa pasien yang mengalami bedah bariatrik harus memiliki kemauan dan komitmen untuk menjalani perubahan pola hidup agar efek bedah bariatrik menjadi permanen,” jelasnya.

Tak hanya berdampak pada penurunan berat badan, operasi bariatrik juga memberi manfaat lain, yaitu bisa digunakan bagi pasien dengan indikasi medis tertentu, seperti diabetes melitus, hipertensi, dan sebagainya.

“Tindakan ini dapat diindikasikan pada pasien dengan IMT 27 kg/m² jika ada hal-hal yang mendesak seperti diabetes mellitus, hipertensi, hiperlipidemia (metabolic syndrome), dan lain-lain,” kata Peter.

Operasi bariatrik direkomendasikan untuk pasien obesitas berat dengan IMT di atas 35 kg/m² yang gagal menurunkan berat badan melalui diet dan olahraga.

Prosedur Bedah dan Perkembangannya di Indonesia

Bedah bariatrik mencakup berbagai teknik, mulai dari pemasangan balon lambung dan endoscopic sleeve gastroplasty (ESG), hingga prosedur bedah seperti sleeve gastrectomy dan berbagai jenis bypass, termasuk roux-en-Y gastric bypass (RYGB), one anastomosis gastric bypass (OAGB), single anastomosis duodenoileal bypass (SADI), serta proximal jejunal bypass (PJB).

Baca Juga:  Malas Olahraga saat Ramadan? Ini Risiko yang Harus Kamu Ketahui!

Tujuan utama dari prosedur ini adalah sebagai terapi medis untuk membantu pasien obesitas memperbaiki pola hidup.

Metode ini memberikan efek kenyang lebih lama, mengurangi kapasitas makan, dan mengurangi penyerapan makanan, tergantung pada jenis tindakan.

Di Indonesia, prosedur ini pertama kali dilakukan pada 1990-an oleh dr. Barlian Sutedja, Sp.B.

Popularitasnya meningkat pesat sejak 2023 setelah publik figur Melly Goeslaw terbuka menjalani prosedur sleeve gastrectomy.

Risiko dan Efek Samping

Sebagaimana prosedur bedah lainnya, bedah bariatrik memiliki risiko seperti perdarahan, kebocoran sambungan, dan cedera organ dalam.

“Risiko tindakan bedah bariatrik sama dengan risiko pada tindakan pembedahan lainnya, seperti kematian, perdarahan, kebocoran sambungan, hingga cedera organ lain di dalam perut yang membutuhkan adanya transfusi, perawatan dalam waktu yang cukup lama, atau tindakan pembedahan lanjutan,” kata Peter.

Risiko jangka panjang akibat operasi ini pun tergantung dengan jenis tindakan yang diambil.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending