Connect with us

Lifestyle

Benarkah Semprot Parfum di Leher Picu Kanker Tiroid?

Kebiasaan menyemprotkan parfum di leher memang berisiko mengganggu fungsi kelenjar tiroid.

Logompn

Published

on

Benarkah Semprot Parfum di Leher Picu Kanker Tiroid Ini Penjelasan Pakar
Benarkah Semprot Parfum di Leher Picu Kanker Tiroid? | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 15 Maret 2026 - Kebiasaan menyemprotkan parfum di leher memang berisiko mengganggu fungsi kelenjar tiroid.

Hal ini dijelaskan oleh Pakar Multiomics Cancer dari IPB University, dr. Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed.

Meskipun demikian, dr. Agil menegaskan bahwa kaitan langsung dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara ilmiah.

“Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung,” ujar dr. Agil, dikutip MPN Indonesia dari laman resmi IPB University, Minggu (15/3).

Kandungan Kimia Parfum

Menurut dr. Agil, parfum mengandung bahan kimia yang dapat mengganggu sistem hormonal tubuh.

Kandungan tersebut umumnya meliputi phthalates, paraben, dan triclosan yang dikategorikan sebagai endocrine disruptors atau pengganggu sistem hormonal.

“Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh,” terangnya.

Zat-zat ini bisa diserap melalui kulit, dan tingkat penyerapan ditentukan oleh lokasi, frekuensi, dan durasi penggunaan.

“Area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis, sehingga paparan phthalates, paraben, dan triclosan yang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik,” jelasnya.

Parfum Tidak Selalu Berbahaya

Paparan jangka panjang dari bahan kimia yang ada di parfum memang berisiko memengaruhi kesehatan hormon, terutama bagi kelompok rentan.

Namun, kata dr. Agil, bukan berarti parfum tidak boleh digunakan.

Baca Juga:  Pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk Menghindari Penyebaran TBC

“Tidak berarti setiap orang yang memakai parfum akan sakit. Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya,” jelas dr. Agil.

Tips Pakai Parfum agar Aman

dr. Agil menyarankan agar penggunaan parfum dilakukan secara bijak untuk mengurangi risiko kesehatan jangka panjang.

Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain menyemprotkan parfum pada pakaian, bukan langsung ke kulit, serta menghindari pemakaian rutin di area leher atau ketiak.

“Jika memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan label ‘phthalate-free’ atau ‘paraben-free’,” pungkasnya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending