Lifestyle
Hati-Hati! Ini Mitos Paling Banyak Dipercaya soal Hipertensi
Mitos seputar hipertensi atau tekanan darah tinggi masih banyak dipercaya masyarakat dan dapat membahayakan jika tidak segera diluruskan.
MPN Indonesia 30 Januari 2026 - Mitos seputar hipertensi atau tekanan darah tinggi masih banyak dipercaya masyarakat dan dapat membahayakan kesehatan fisik jika tidak segera diluruskan.
Dikutip MPN Indonesia dari Mayo Clinic, hipertensi adalah kondisi medis serius yang ditandai oleh tekanan darah mencapai 130/80 mm Hg atau lebih tinggi.
Meski sering tidak menunjukkan gejala, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan serius pada jantung, ginjal, pembuluh darah, dan organ vital lainnya.
Kondisi ini juga dikenal sebagai “pembunuh senyap” karena gejalanya sering kali tidak disadari hingga mencapai tahap berbahaya.
Klasifikasi Hipertensi
Menurut American College of Cardiology dan American Heart Association, tekanan darah terbagi menjadi beberapa kategori, di antaranya:
- Normal (<120/80 mm Hg): Jantung kamu bekerja dengan santai dan efisien. Pertahankan gaya hidup sehatnya!
- Tekanan darah tinggi (atas 120-129 / bawah <80 mm Hg): Tekanan darahmu mulai naik sedikit. Biasanya belum butuh obat, tapi sudah harus mulai kurangi garam dan lebih rajin olahraga supaya tidak bablas jadi hipertensi.
- Hipertensi stadium 1 (atas 130–139 / bawah 80–89 mm Hg): Dokter biasanya mulai memantau dengan serius. Kamu mungkin disarankan mengubah gaya hidup secara total.
- Hipertensi stadium 2 ( atas ≥140 / bawah ≥90 mm Hg): Ini sudah masuk kategori darah tinggi yang nyata. Risiko serangan jantung atau stroke meningkat secara signifikan.
Sementara itu, tekanan darah di atas 180/120 mm Hg dianggap darurat medis.
Sebagian besar penderita tekanan darah tinggi tidak menunjukkan gejala meskipun tekanan darah sangat tinggi.
Bila ada gejala, biasanya berupa sakit kepala, sesak napas, atau mimisan, namun gejala ini tidak spesifik dan hanya muncul jika kondisi sudah parah.
Lima Mitos soal Hipertensi
1. Tekanan Darah Tinggi Bukan Masalah Besar
Sebagian orang percaya bahwa hipertensi tidak berbahaya karena tidak menimbulkan gejala.
Padahal, tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak menyebabkan gangguan pada organ tubuh.
Dikutip MPN Indonesia dari laman berita kesehatan Amerika Serikat, WebMD, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, jantung, ginjal, dan organ tubuh lainnya.
“Penyakit jantung dan stroke , keduanya disebabkan oleh tekanan darah tinggi, adalah penyebab kematian pertama dan kelima di AS,” tulis WebMD.
2. Hipertensi Tidak Bisa Dicegah
Keyakinan bahwa tekanan darah tinggi tidak bisa dicegah juga termasuk mitos.
Pencegahan tetap mungkin dilakukan meskipun seseorang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga.
Langkah pencegahan meliputi menjaga berat badan sehat, konsumsi makanan bergizi rendah garam dan lemak, menghindari alkohol, tidak merokok, serta rutin berolahraga setidaknya 30 menit sehari minimal lima kali seminggu.
3. Asal Salah Satu Angka Normal, Tidak Masalah
Beberapa orang menganggap tekanan darah mereka baik-baik saja jika hanya satu dari dua angka hasil pengukuran yang normal.
Padahal, baik tekanan sistolik (angka atas) maupun diastolik (angka bawah) memiliki peran penting.
Tekanan darah sistolik normal adalah 119 atau kurang, sedangkan diastolik normal adalah 79 atau kurang.
Jika salah satu angka konsisten di atas normal, maka perlu dilakukan tindakan medis untuk mencegah komplikasi.
4. Takut Berobat
Banyak penderita hipertensi takut memulai pengobatan karena menganggap mereka harus menghindari semua makanan favorit atau mengalami efek samping obat yang berat. Nyatanya, pengobatan dapat disesuaikan.
Rencana diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) menganjurkan konsumsi lebih banyak buah, sayur, dan gandum utuh serta mengurangi garam dan lemak.
Dokter juga mungkin akan menganjurkan untuk melakukan pengendalian berat badan, mengurangi alkohol, dan menghindari rokok.
5. Pengobatan Tidak akan Berhasil
Mitos lain yang berbahaya adalah keyakinan bahwa pengobatan tidak akan memberikan hasil.
Dalam kenyataannya, jika pasien bekerja sama dengan dokter dan menjalani program perawatan secara konsisten, tekanan darah tinggi bisa dikontrol.
Pemeriksaan rutin dan pencatatan tekanan darah harian sangat disarankan.
Harus Rajin Cek Tensi!
Pemeriksaan tekanan darah atau tensi sebaiknya dilakukan sejak usia 18 tahun setiap dua tahun.
Jika berusia 40 tahun ke atas, atau berada dalam kelompok risiko tinggi, pemeriksaan dianjurkan setiap tahun.
Anak-anak usia 3 tahun ke atas juga dapat diperiksa tekanan darahnya sebagai bagian dari pemeriksaan tahunan.
Pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan di puskesmas, rumah sakit, apotek, atau lokasi pelayanan kesehatan masyarakat lainnya.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
