Lifestyle
Jangan Anggap Sepele! Stres dan Pola Makan Dapat Memicu Asam Lambung Naik
Stres dan pola makan tidak teratur bisa picu asam lambung naik. Kenali gejalanya sejak dini untuk cegah gangguan pencernaan yang lebih serius.
MPN Indonesia 5 April 2025 - Peningkatan asam lambung menjadi salah satu gangguan kesehatan yang umum dialami oleh masyarakat lintas usia.
Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk stres, pola makan tidak sehat, serta gaya hidup yang kurang teratur.
Hal ini diungkapkan dalam talk show Kementerian Kesehatan RI bersama dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD-KGEH (25/3), serta didukung oleh sejumlah studi ilmiah yang mengaitkan stres dengan gangguan lambung seperti gastroesophageal reflux disease (GERD) dan gastritis.
Apa Itu Asam Lambung Naik dan Kaitannya dengan GERD dan Gastritis?
Asam lambung secara fisiologis dibutuhkan tubuh untuk mencerna makanan dan menghancurkan mikroorganisme yang masuk bersama makanan.
Namun, produksi asam lambung yang berlebihan atau gangguan pada pelindung mukosa lambung dapat menyebabkan keluhan seperti nyeri ulu hati, perut kembung, hingga sensasi panas di dada atau tenggorokan.
Menurut dr. Koko, istilah “asam lambung naik” sering disalahartikan. Ia menjelaskan bahwa asam lambung bisa saja tetap berada di dalam lambung, namun jumlahnya berlebihan dan menyebabkan rasa tidak nyaman.
Jika asam lambung naik ke kerongkongan atau esofagus, kondisi ini disebut GERD.
Sementara itu, gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang dapat terlihat melalui pemeriksaan endoskopi.
“Kalau kita tanya pasien, ini nyerinya di mana? Kalau di dada dan terasa panas, bisa jadi itu GERD. Tapi kalau nyerinya di kiri atas perut, lebih mungkin ke maag atau gastritis,” jelas dr. Koko, dikutip MPN Indonesia dalam unggahan Instagram @kemenkes_ri, pada Kamis (27/3).
Stres dan Faktor Psikologis Sebagai Pemicu Utama
Beberapa studi ilmiah menunjukkan adanya hubungan kuat antara stres dan gangguan pencernaan.
Sebuah studi di Sri Lanka pada 2023 menemukan bahwa individu dengan tingkat stres sedang hingga tinggi memiliki risiko 1,95 kali lebih besar mengalami gejala asam lambung dibanding mereka yang tidak mengalami stres.
Stres meningkatkan sensitivitas esofagus terhadap asam, memperparah gejala GERD.
Hal ini sejalan dengan pengalaman klinis dr. Koko. Ia menyebutkan bahwa pasien dengan stres kronis atau emosi negatif cenderung menunjukkan gejala lambung yang lebih berat.
“Kalau kita melihat dari sisi psikosomatik, gangguan di psikis bisa berdampak ke fisik, termasuk kesehatan fisik seperti asam lambung ini,” ujarnya.
Pola Makan dan Gaya Hidup Tidak Sehat Sebagai Faktor Risiko
Pola makan juga memainkan peran penting dalam memicu gangguan lambung.
Mengonsumsi makanan pedas, berminyak, terlalu manis, atau dalam porsi besar sekaligus dapat meningkatkan produksi asam lambung.
Selain itu, kebiasaan langsung berbaring setelah makan, memakai pakaian ketat, serta konsumsi kafein, soda, dan alkohol turut berkontribusi.
“Kalau makan langsung baring, risiko refluks bisa lebih tinggi. Idealnya, habis makan jalan kaki lima menit. Itu sudah membantu mencegah asam lambung naik,” saran dr. Koko.
Obesitas, merokok, serta konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti obat rematik juga menjadi faktor yang dapat memperparah gejala.
Riwayat gangguan lambung sebelumnya juga bisa meningkatkan risiko kekambuhan jika tidak dikelola dengan baik.
Diagnosis dan Penanganan Awal
Ketika mengalami gejala seperti mual, nyeri ulu hati, atau rasa terbakar di dada, langkah awal yang dapat dilakukan adalah pengelolaan mandiri melalui perubahan pola hidup dan konsumsi obat bebas seperti antasida. Namun, jika gejala berlanjut, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter.
“Jangan langsung panik. Coba dulu dengan perbaikan pola makan dan obat bebas. Tapi kalau enggak membaik, waktunya konsultasi ke dokter,” ujar dr. Koko.
Pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi dapat dilakukan bila diperlukan, terutama untuk mendeteksi gastritis atau kemungkinan adanya komplikasi lain seperti luka pada lambung.
Potensi Komplikasi Jika Tidak Ditangani
Gangguan asam lambung yang dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan komplikasi serius.
Salah satunya adalah iritasi kronis pada esofagus yang dapat menimbulkan luka hingga perdarahan.
Dr. Koko menyebutkan pernah menangani pasien dengan gejala muntah darah akibat iritasi berat pada esofagus.
“Kalau tubuh sudah kasih sinyal, jangan diabaikan. Gejala kecil lebih mudah ditangani daripada sudah terlambat,” tegasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa GERD sendiri tidak menyebabkan kematian mendadak.
Beberapa kasus yang dikaitkan dengan GERD sebenarnya berasal dari kondisi jantung yang memiliki gejala mirip. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
