Connect with us

Lifestyle

Bukan Hanya Makanan Pedas, Ini Faktor Lain yang Memicu Kenaikan Asam Lambung

Tak hanya makanan pedas, stres, rokok, dan kebiasaan buruk lainnya juga dapat memicu naiknya asam lambung. Waspadai faktor penyebabnya sejak dini.

Logompn

Published

on

Bukan hanya makanan pedas, ini faktor lain yang memicu kenaikan asam lambung
Bukan Hanya Makanan Pedas, Ini Faktor Lain yang Memicu Kenaikan Asam Lambung. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 5 April 2025 - Kenaikan asam lambung merupakan gangguan kesehatan yang umum terjadi dan dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia.

Kondisi ini terjadi ketika asam lambung yang seharusnya berada di dalam lambung naik ke esofagus, menimbulkan keluhan seperti nyeri ulu hati, rasa panas di dada, hingga sensasi terbakar di tenggorokan.

Fenomena ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, bukan hanya konsumsi makanan pedas.

Apa Itu Asam Lambung dan Mengapa Diperlukan?

Menurut dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD-KGEH, asam lambung adalah zat yang secara alami diproduksi tubuh dan berfungsi mencerna makanan serta membunuh kuman.

“Secara fisiologis memang harus ada asam lambung, terutama asam klorida, karena itu akan dipakai untuk mencerna makanan dan menghancurkan kuman yang masuk,” ujar dr. Andi Khomeini dalam siaran Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dikutip MPN Indonesia dalam unggahan Instagram @kemenkes_ri, pada Kamis (27/3).

Namun, masalah muncul ketika produksi asam ini berlebihan atau terjadi gangguan pada perlindungan mukosa lambung, sehingga menimbulkan iritasi dan keluhan yang dikenal sebagai penyakit maag, GERD (gastroesophageal reflux disease), atau gastritis.

Faktor Risiko Naiknya Asam Lambung

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko naiknya asam lambung bukan hanya makanan pedas, melainkan juga faktor gaya hidup dan kondisi medis lainnya.

dr. Andi Khomeini menjelaskan bahwa stres emosional, kelelahan, pola makan tidak teratur, dan konsumsi makanan dalam porsi besar dapat memicu peningkatan produksi asam lambung.

Baca Juga:  Waspadai! Ini Makanan dan Minuman yang Bisa Memicu Asam Lambung Naik

Selain itu, merokok, kelebihan berat badan, serta penggunaan pakaian ketat di area perut turut menjadi faktor risiko.

“Yang paling sering saya temukan adalah asap rokok bisa jadi faktor risikonya… bukan hanya dari telat makan,” jelas dr. Andi Khomeini.

Kebiasaan langsung berbaring setelah makan juga disebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya refluks asam.

Pada orang dengan obesitas atau overweight, tekanan pada lambung meningkat, membuat asam lebih mudah naik ke esofagus.

Perbedaan Asam Lambung Naik, GERD, Maag, dan Gastritis

Meski sering digunakan secara bergantian, istilah-istilah tersebut merujuk pada kondisi yang berbeda. Asam lambung naik mengacu pada pergerakan asam ke esofagus.

GERD adalah kondisi ketika refluks ini terjadi secara terus-menerus dan menyebabkan gangguan.

Maag merupakan istilah umum yang menggambarkan gejala seperti nyeri perut, mual, dan kembung.

Sedangkan gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang bisa dikonfirmasi melalui pemeriksaan endoskopi.

“Kalau gastritis, itu sekarang bisa langsung terlihat lewat endoskopi. Ada peradangan di mukosa lambung,” ungkap dr. Andi Khomeini.

Gejala dan Komplikasi

Gejala yang umum meliputi nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, hingga rasa pahit di mulut.

Dalam beberapa kasus, diare juga dapat terjadi, namun dr. Andi menjelaskan bahwa hal ini lebih mungkin disebabkan oleh jenis makanan atau infeksi virus, bukan semata karena asam lambung.

Jika dibiarkan, kenaikan asam lambung dapat menyebabkan komplikasi serius seperti esofagitis, perdarahan akibat luka pada dinding esofagus, bahkan risiko kanker esofagus dalam jangka panjang.

“Saya pernah ketemu pasien yang muntah darah… berarti lukanya sudah cukup dalam, cukup erosif,” kata dr. Andi Khomeini.

Penanganan dan Gaya Hidup Sehat

Penanganan awal bisa dilakukan dengan obat-obatan yang dijual bebas seperti antasida.

Baca Juga:  Benarkah Sering Marah-Marah Sebabkan Hipertensi?

Namun, jika keluhan tidak membaik, pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi dan konsultasi dengan dokter spesialis diperlukan.

Obat seperti omeprazole dari golongan PPI bisa diberikan, namun penggunaannya harus berdasarkan indikasi medis yang jelas dan tidak untuk jangka panjang tanpa pengawasan.

Menurut dr. Andi Khomeini, pendekatan terbaik adalah perbaikan gaya hidup.

Hal ini mencakup pola makan teratur, istirahat cukup, mengelola stres, serta menghindari faktor pemicu seperti makanan pedas, kafein, alkohol, dan rokok.

Ia menekankan pentingnya mengatur porsi makan dan menghindari langsung berbaring setelah makan.

“Paling aman jalan kaki 3 sampai 5 menit setelah makan,” sarannya.

Pentingnya Mengenali Sinyal Tubuh

dr. Andi Khomeini juga mengingatkan agar masyarakat lebih peka terhadap sinyal tubuh.

Nyeri ulu hati yang terus-menerus bisa saja merupakan tanda dari kondisi lain seperti masalah jantung, karena letak lambung dan jantung yang berdekatan.

Evaluasi menyeluruh oleh dokter sangat penting untuk menentukan penyebab pasti.

“GERD tuh enggak bikin pasien meninggal. Yang mendadak itu biasanya jantung,” jelasnya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending