Connect with us

Internasional

Korban Banjir Bandang Nepal per Hari Ini 3 September 2026: 1.200 Tewas, 4.200 Hilang

Banjir bandang Nepal menewaskan sedikitnya 1.204 orang dan lebih dari 4.200 lainnya masih hilang. Operasi pencarian terus berlangsung.

Logompn

Published

on

Korban Banjir Bandang Nepal per Hari Ini 3 September 2026 1.200 Tewas, 4.200 Hilang
Korban Banjir Bandang Nepal per Hari Ini 3 September 2026 1.200 Tewas, 4.200 Hilang. Gambar: Dok. BBC

MPN Indonesia 3 September 2026 - Jumlah korban banjir bandang di Nepal terus bertambah. Dikutip MPN Indonesia dari BBC, Hingga Kamis (3/9), sedikitnya 1.200 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 4.200 lainnya masih hilang akibat bencana alam yang melanda kawasan perbatasan Nepal-Tibet sejak 26 Agustus.

Operasi pencarian, penyelamatan, dan distribusi bantuan masih berlangsung di berbagai lokasi terdampak.

Korban Terus Bertambah

Data Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal menunjukkan jumlah korban meninggal mencapai 1.204 orang hingga Rabu (2/9).

Sebelumnya, Kathmandu Post melaporkan 1.127 korban jiwa sebelum jumlah tersebut kembali meningkat seiring proses pencarian dan identifikasi korban.

Di wilayah Tibet, media pemerintah Tiongkok melaporkan 21 orang meninggal dan lebih dari 540 orang masih hilang.

Korban bertambah setelah tim penyelamat menjangkau sejumlah wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat kerusakan jalan dan jembatan.

Penyebab Bencana Alam di Perbatasan Nepal-Tibet

Bencana alam terjadi pada Rabu (26/8), ketika aliran air dalam jumlah besar menerjang Sungai Bhote Koshi di wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok.

Menurut otoritas Nepal, banjir bandang dipicu oleh mencairnya gletser yang kemudian memicu tanah longsor di kawasan aliran sungai perbatasan.

Peristiwa itu menghancurkan sejumlah desa di kawasan Himalaya.

Laporan terbaru juga menyebutkan adanya indikasi meningkatnya ketidakstabilan di sekitar gletser beberapa hari sebelum keruntuhan terjadi.

Para ahli menyebut sistem peringatan dini yang lebih baik berpotensi mengurangi jumlah korban.

Operasi Pencarian dan Penyelamatan Masih Berlangsung

Tim penyelamat Nepal masih berupaya menjangkau ratusan pekerja yang diduga terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air.

Baca Juga:  Gunung Merapi Erupsi, Semburkan Lava 11 Kali Sejauh 1,6 km

Di sisi lain, tim penyelamat Tiongkok masih mencari lebih dari 500 orang yang hilang di wilayah Tibet.

Hingga laporan terbaru, belum ditemukan korban selamat baru di kawasan Pelabuhan Gyirong.

Operasi penyelamatan dilakukan menggunakan alat berat, helikopter, dan drone untuk menjangkau daerah yang sulit diakses.

Tim dari Tiongkok dan India juga membantu membangun jembatan sementara untuk mempercepat distribusi bantuan.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebut akses menjadi tantangan utama karena lebih dari 40 jembatan mengalami kerusakan.

Akibat kondisi tersebut, sejumlah komunitas terpencil masih bergantung pada penerbangan helikopter militer untuk memperoleh logistik, bahan bakar, dan pasokan penting lainnya.

Ribuan Warga Mengungsi

Selain korban jiwa, ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam tersebut.

Data OCHA menunjukkan hampir 3.500 orang mengungsi di 27 lokasi penampungan.

Sebagian besar lokasi penampungan berada di sekolah-sekolah di Distrik Nuwakot dan Rasuwa sehingga mengganggu kegiatan belajar.

Kondisi penampungan yang padat, terbatasnya fasilitas kesehatan, serta air yang tercemar meningkatkan risiko munculnya penyakit selama musim hujan.

Respons Pemerintah Nepal

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, mengatakan pemerintah memprioritaskan penyelamatan korban selamat, pelayanan kesehatan, dan dukungan psikologis bagi masyarakat terdampak.

“Merampas ibu, ayah, saudara perempuan, dan saudara laki-laki dari kita dalam sekejap,” ujar Shah dalam pidatonya di parlemen dikutip MPN Indonesia dari BBC, Kamis (3/9). 

“Kita tidak memiliki kemewahan untuk beristirahat hanya karena tubuh kita kelelahan. Tidak ada juga waktu untuk meratap bersama ketika hati kita hancur,” lanjutnya. 

Shah menjelaskan dirinya menerima laporan mengenai banjir bandang pada pukul 08.45 waktu setempat pada (26/8).

Lima belas menit kemudian, pemerintah daerah meminta warga di sepanjang sungai segera mengungsi.

Baca Juga:  Cek Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Hari Ini 8 September 2026, Bisa lewat HP

Pada pukul 09.35, peringatan darurat dikirim melalui telepon seluler kepada masyarakat di wilayah terdampak.

Menanggapi pertanyaan mengenai keterlambatan peringatan, Shah mengatakan bencana alam tersebut

“Di luar perkiraan yang dapat diprediksi,” ujar Shah. 

 “Perubahan iklim adalah kontribusi global. Mengurangi dan mengelola dampaknya adalah tanggung jawab bersama komunitas global,” ujarnya. 

Status Terkini Penanganan Bencana

Pemerintah Nepal menetapkan status bencana di 15 wilayah terdampak selama tiga bulan.

Kebijakan tersebut dilakukan untuk mempercepat penyaluran bantuan kepada keluarga korban, relokasi pengungsi, serta pengerahan personel militer dalam operasi kemanusiaan.

Pemerintah Nepal bersama PBB juga menyepakati peluncuran seruan bantuan kemanusiaan darurat selama empat bulan.

Sementara itu, operasi pencarian korban hilang masih berlangsung di wilayah Nepal maupun kawasan perbatasan Tibet.

(RAD/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending