Connect with us

Internasional

Israel Panggil Ribuan Pasukan Cadangan untuk Perluas Serangan ke Gaza

Israel kerahkan pasukan cadangan untuk perluas serangan ke Gaza di tengah kebuntuan gencatan senjata, picu kekhawatiran soal nasib sandera dan korban sipil.

Logompn

Published

on

Israel panggil ribuan pasukan cadangan untuk perluas serangan ke gaza
Israel Panggil Ribuan Pasukan Cadangan untuk Perluas Serangan ke Gaza. Gambar : Reuters/Amir Cohen

MPN Indonesia 5 Mei 2025 - Israel akan mengerahkan puluhan ribu pasukan cadangan dalam beberapa hari ke depan guna memperluas ofensif militernya di Jalur Gaza.

Langkah ini diambil di tengah kebuntuan perundingan gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

Keputusan tersebut diumumkan saat Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, mempresentasikan rencana peningkatan tekanan terhadap kelompok Hamas kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant.

Persiapan Serangan Skala Besar

Menurut laporan media lokal termasuk Kan 11, rencana Zamir mencakup evakuasi warga sipil Palestina dari Gaza utara dan tengah sebelum operasi militer diperluas di wilayah tersebut.

Taktik ini sebelumnya juga diterapkan di Rafah, Gaza selatan. Persetujuan terhadap rencana tersebut dijadwalkan dilakukan oleh kabinet keamanan Israel pada Minggu (4/5).

“Militer akan beroperasi di wilayah tambahan dan menghancurkan seluruh infrastruktur, baik di atas maupun di bawah tanah,” ujar Kepala IDF, seperti dikutip MPN Indonesia melalui laman CNN, pada Senin (5/5).

Ia menambahkan, “Minggu ini kami mengeluarkan puluhan ribu surat perintah kepada pasukan cadangan kami untuk mengintensifkan dan memperluas operasi di Gaza.”

Kekhawatiran terhadap Nasib Sandera

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran dari keluarga 59 warga Israel yang masih disandera oleh Hamas.

Sebagian besar sandera diculik dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu serangan Israel selama 18 bulan dan menyebabkan lebih dari 50.000 orang tewas di Gaza.

Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang mengeluarkan peringatan bahwa “setiap eskalasi pertempuran akan membahayakan para sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.”

Baca Juga:  AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata selama Dua Minggu

Sementara itu, Hamas merilis video sandera berkewarganegaraan ganda Israel-Rusia, Maxim Herkin, yang tampak terluka dan berbicara dalam bahasa Ibrani, menyerukan tekanan terhadap pemerintah Israel agar segera membebaskan para tawanan.

Ketegangan Diplomatik dengan Qatar

Israel juga menghadapi ketegangan diplomatik dengan Qatar, negara mediator utama dalam upaya perdamaian.

Netanyahu secara terbuka menuduh Qatar “bermain di dua sisi” dan menyebut negara Teluk tersebut harus memutuskan posisinya antara “peradaban” dan “barbarisme Hamas.”

Ia menegaskan bahwa “Israel akan memenangkan perang yang adil ini dengan cara yang adil.”

Qatar membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya mendistorsi peran diplomatik mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyatakan bahwa Israel menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai “alat pemaksaan politik,” merujuk pada blokade total Israel terhadap bantuan ke Gaza sejak 2 Maret.

Dampak Serangan terhadap Sipil di Gaza

Seiring dengan meningkatnya operasi militer Israel, korban sipil di Gaza terus bertambah.

Menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas, sejak dimulainya kembali operasi militer pada 18 Maret, setidaknya 2.396 orang telah tewas, menjadikan total korban jiwa dalam konflik ini mencapai 52.495 orang.

Pada Sabtu (3/5), serangan udara Israel terhadap kamp pengungsi Khan Yunis menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk tiga bayi.

Serangan tersebut menghantam rumah keluarga Al-Bayram sekitar pukul 03.00 waktu setempat.

Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyebutkan bahwa delapan korban berasal dari satu keluarga besar.

Tekanan Domestik dan Demonstrasi Warga Israel

Tekanan terhadap pemerintah Israel datang tidak hanya dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri.

Ribuan warga Israel melakukan aksi demonstrasi di luar Kementerian Pertahanan di Tel Aviv, menuntut pembebasan sandera.

Baca Juga:  Menlu Adukan Israel ke Dewan Keamanan PBB soal Kekerasan terhadap Aktivis GSF

Salah satu demonstran, Arona Maskil, menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung saat ini “tidak lagi dibenarkan.”

Pemerintah Israel beralasan bahwa ofensif militer bertujuan untuk menekan Hamas agar membebaskan sandera.

Namun, para pengkritik menyatakan bahwa eskalasi ini justru membahayakan para sandera.

Perubahan Jadwal Diplomatik Netanyahu

Sebagai dampak dari meningkatnya intensitas konflik, kantor Perdana Menteri mengumumkan penjadwalan ulang kunjungan Netanyahu ke Azerbaijan yang semula direncanakan pada 7–11 Mei.

Keputusan ini diambil dengan alasan “jadwal diplomatik dan keamanan yang padat,” menyusul perkembangan situasi di Gaza dan Suriah.

(ADN/NID/RAD)

Trending