Connect with us

Internasional

Netanyahu Terima Usulan Gencatan Senjata dari AS

Israel setujui usulan gencatan senjata 60 hari dari AS, Hamas masih ragu. Pertukaran tahanan dan bantuan kemanusiaan jadi fokus utama negosiasi.

Logompn

Published

on

Perdana menteri israel, benjamin netanyahu
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Gambar : Reuters/Ronen Zvulun

MPN Indonesia 1 Juni 2025 - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Kamis (29/5), menyatakan menerima usulan gencatan senjata terbaru dari utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

Pernyataan itu disampaikan saat Netanyahu bertemu keluarga sandera yang ditahan Hamas.

“Israel menerima garis besar Witkoff yang baru,” ujar Netanyahu dalam pernyataan resmi yang dirilis kantornya, sebagaimana dikutip MPN Indonesia melalui laman Euro News, Jumat (30/5).

Usulan gencatan senjata ini mencakup jeda sementara dan pertukaran tahanan dengan tujuan akhir mengakhiri perang berkepanjangan di Gaza yang sudah berlangsung lebih dari 19 bulan. Namun, tanggapan Hamas masih belum pasti.

Bassem Naim, pejabat senior Hamas, menyatakan bahwa usulan tersebut “tidak menjawab tuntutan rakyat kami, terutama penghentian perang dan kelaparan,” tetapi menambahkan proposal itu akan dipelajari “dengan penuh tanggung jawab nasional.”

Rincian Proposal Gencatan Senjata

Meski belum diumumkan secara resmi, informasi dari pejabat Hamas dan Mesir menyebutkan bahwa gencatan senjata ini akan berlangsung selama 60 hari.

Selama periode tersebut, negosiasi untuk gencatan senjata permanen akan dimulai.

Dalam kesepakatan itu, Hamas akan membebaskan 10 sandera hidup dan sejumlah jenazah, sementara Israel akan membebaskan lebih dari 1.100 tahanan Palestina, termasuk 100 tahanan yang dihukum karena serangan mematikan.

Selain itu, ratusan truk bantuan kemanusiaan akan diizinkan masuk ke Gaza setiap hari, sebagai respons atas blokade selama tiga bulan yang menyebabkan krisis kelaparan.

Hambatan Perundingan dan Posisi Kedua Pihak

Perbedaan tuntutan masih menjadi hambatan utama. Hamas menuntut gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan Israel, dan akses bantuan kemanusiaan yang besar.

Baca Juga:  Iran Kirim Rudal ke Israel, Marah Lebanon Diserang

Sementara itu, Israel hanya setuju pada jeda sementara untuk memfasilitasi pembebasan sandera.

Netanyahu menegaskan tujuan akhir Israel adalah “penghancuran total Hamas” dan mempertahankan “kontrol keamanan tanpa batas waktu” atas Gaza.

Ia juga mendukung rencana emigrasi sukarela sebagian penduduk Gaza, yang menuai penolakan dari Palestina dan komunitas internasional.

Hamas menyatakan akan membebaskan sandera yang tersisa jika Israel melepaskan lebih banyak tahanan.

Mereka juga menyatakan kesediaan menyerahkan kekuasaan kepada komite independen Palestina untuk mengawasi rekonstruksi Gaza.

Dampak Perang yang Berkelanjutan

Konflik ini bermula pada 7 Oktober 2023 saat militan Hamas menyerang selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang, mayoritas warga sipil.

Israel membalas dengan ofensif besar-besaran yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah menewaskan lebih dari 54.000 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak.

Sekitar 850 tentara Israel juga tewas. Gaza mengalami kerusakan parah, dengan sekitar 90% dari dua juta penduduk mengungsi dan tinggal di kamp tenda atau sekolah kosong dalam kondisi memprihatinkan.

Kekuatan militer Hamas juga menurun drastis dengan hampir semua pemimpin senior mereka di Gaza tewas.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending