Berita
INFID Sebut Ada Banyak Kelemahan Sistem Penganggaran Pemerintah RI
INFID mengidentifikasi lima kelemahan krusial dalam sistem penganggaran negara Indonesia berdasarkan evaluasi terhadap APBN 2022–2025.
MPN Indonesia 15 Juli 2025 - International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) mengidentifikasi lima kelemahan krusial dalam sistem penganggaran negara Indonesia.
Identifikasi kelemahan sistem penganggaran ini dilakukan oleh INFID berdasarkan evaluasi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022–2025.
Berdasarkan wawancara MPN Indonesia dengan Program Manager INFID, Abdul Waidl, berikut lima kelemahan sistem penganggaran pemerintah di Indonesia.
1. Fokus pada Belanja Rutin
Sebagian besar alokasi anggaran negara terserap untuk belanja operasional seperti gaji dan tunjangan, bukan untuk inovasi atau pengembangan.
Contohnya pada APBN 2023, di mana anggaran pendidikan sebesar Rp612,2 triliun sebagian besar dialokasikan untuk tunjangan guru, bukan pengembangan kurikulum dan infrastruktur.
“Hal serupa terlihat pada APBN 2025, di mana belanja operasional kementerian masih mendominasi,” kata Waidl, Jumat (11/7).
2. Transparansi Pelaksanaan Anggaran yang Lemah
Meskipun dokumen perencanaan anggaran tersedia, namun informasi mengenai pelaksanaan anggaran sering kali tidak lengkap atau tidak rinci.
“Contoh pada APBN 2025, alokasi Rp71 triliun untuk program MBG di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) telah diumumkan, tetapi laporan realisasi per Maret 2025 hanya mencakup Rp710,5 miliar untuk 2 juta penerima,” ucap Waidl.
Oleh sebab itu, dibutuhkan publikasi data pelaksanaan yang lebih terperinci dan mekanisme partisipasi yang inklusif.
3. Kapasitas Manajerial Terbatas
Menurut Waidl, masih banyak kementerian dan pemerintah daerah (pemda) yang kesulitan dalam mengelola anggaran secara efisien.
Hal ini, salah satu buktinya, dapat dilihat pada Dana Alokasi Khusus (DAK) yang menunjukkan tingkat serapan rendah.
4. Partisipasi Publik yang Terbatas
Proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sering kali hanya bersifat formalitas dan tidak melibatkan kelompok rentan.
“Musrenbang sering tidak inklusif, mengabaikan kebutuhan kelompok marginal, seperti pada perencanaan anggaran kesehatan,” jelas Waidl.
5. Pengawasan dan Penegakan Hukum yang Lemah
Waidl menyoroti lemahnya pengawasan serta penegakan hukum atas penyimpangan anggaran.
Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya kasus penyalahgunaan anggaran, seperti DAK.
Sebagai solusi atas kelemahan sistem penganggaran, INFID mengusulkan tiga langkah strategis, yaitu:
- Digitalisasi laporan pelaksanaan anggaran.
- Pelatihan manajerial bagi aparatur kementerian dan pemda.
- Penguatan forum partisipasi publik yang inklusif.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
