Internasional
WHO Ungkap 42 Ribu Warga Gaza Alami Disabilitas Akibat Serangan Israel
WHO melaporkan 42 ribu warga Gaza alami cedera permanen akibat serangan Israel, termasuk lebih dari 10 ribu anak-anak. Krisis medis kian memburuk.
MPN Indonesia 4 Oktober 2025 - World Health Organization (WHO) melaporkan sebanyak 42.000 warga Gaza mengalami cedera permanen akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023.
Jumlah ini mencakup seperempat dari total lebih dari 167.300 orang yang terluka selama konflik.
Jenis cedera tersebut mencakup amputasi, luka serius pada lengan, kaki, hingga sumsum tulang belakang.
Dari total korban disabilitas, lebih dari 10.000 di antaranya adalah anak-anak.
“Cedera yang mengubah hidup ini mencakup seperempat dari semua cedera yang dilaporkan,” kata Rik Peeperkorn, Perwakilan WHO di Tepi Barat dan Gaza, sebagaimana dikutip MPN Indonesia dari laman resmi news.un.org, Sabtu (4/10).
WHO menambahkan lebih dari 5.000 orang telah menjalani amputasi atau mengalami cedera parah lainnya.
Situasi semakin sulit karena banyak tenaga rehabilitasi tewas dan layanan medis berjalan di bawah kapasitas.
Krisis Fasilitas Kesehatan dan Rehabilitasi
Saat ini hanya kurang dari 14 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi, itu pun tidak penuh.
Layanan rehabilitasi hanya berjalan kurang dari sepertiga dari kapasitas sebelum konflik, bahkan beberapa fasilitas terancam ditutup karena minimnya tenaga medis dan sumber daya.
WHO mencatat, fasilitas kesehatan di Gaza kewalahan menghadapi lonjakan pasien serta kesulitan menyediakan layanan pemulihan dan perawatan inklusif.
“Para penyintas berjuang melawan trauma, kehilangan, dan kelangsungan hidup sehari-hari di mana layanan rujukan psikososial masih terbatas,” ujar Peeperkorn.
WHO menekankan kebutuhan mendesak atas bahan bakar, alat bantu, prostetik, serta pasokan medis.
Lebih dari 15.000 orang, termasuk 3.800 anak-anak, membutuhkan evakuasi medis ke luar Gaza.
“Kita membutuhkan lebih banyak negara untuk menerima pasien, dan pemulihan jalur rujukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur,” tambah Peeperkorn.
Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir dalam Krisis
Badan kesehatan reproduksi PBB (UNFPA) mencatat ada 55.000 wanita hamil yang terjebak di Gaza.
Mereka menghadapi risiko tinggi di pengungsian, termasuk kelaparan, pemboman, dan kekurangan gizi.
Diperkirakan terdapat sekitar 130 kelahiran setiap harinya, dengan lebih dari seperempatnya dilakukan melalui operasi caesar.
Setiap pekan, sedikitnya 15 wanita melahirkan di luar fasilitas kesehatan. Sekitar satu dari lima bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah.
“Melihat banyaknya ibu-ibu dengan bayi baru lahir di koridor, rumah sakit menjadi kewalahan karena buruknya layanan kesehatan,” jelas James Elder dari UNICEF.
Lonjakan Pengungsian dan Kondisi Memprihatinkan
Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq menyampaikan bahwa lebih dari 6.700 warga Gaza utara berpindah ke selatan hanya dalam waktu 10 jam pada Rabu (1/10).
Total pengungsi kini mencapai lebih dari 417.000 orang sejak pertengahan Agustus.
Para pengungsi menempati penampungan penuh sesak, tenda darurat di sepanjang pantai, atau tidur di tempat terbuka.
Kondisi ini menimbulkan risiko serius, mulai dari sanitasi buruk, kurangnya privasi dan keamanan, hingga anak-anak yang terpisah dari keluarganya.
PBB juga menyebut para pengungsi terpapar bahaya bahan peledak yang tersebar di sekitar wilayah tersebut.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
