Connect with us

Teknologi

NASA Temukan 26 Spesies Bakteri Baru di Cleanroom Paling Steril di Dunia

Ilmuwan NASA menemukan 26 spesies bakteri baru yang resisten di cleanroom Kennedy Space Center. Temuan ini memicu kekhawatiran pencemaran misi ke Mars.

Logompn

Published

on

Nasa temukan 26 spesies bakteri baru di cleanroom paling steril di dunia
Ilustrasi Bakteri. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 5 Januari 2026 - Ilmuwan NASA menemukan 26 spesies bakteri baru yang memiliki potensi resisten di cleanroom Kennedy Space Center, Florida, ruang yang dikenal sebagai salah satu lingkungan paling steril di dunia dan digunakan dalam perakitan wahana antariksa, termasuk misi ke Mars.

Penemuan ini dilakukan pada awal 2025 dan dipublikasikan dalam jurnal Microbiome pada Mei 2025.

Cleanroom tersebut dirancang khusus untuk mencegah mikroba, termasuk mikroorganisme paling tangguh di Bumi, agar tidak ikut terbawa dalam pesawat luar angkasa.

Namun, para peneliti menemukan bakteri-bakteri tersebut tetap bertahan meskipun ruangan dibersihkan secara rutin menggunakan bahan kimia keras, sinar ultraviolet, sistem filtrasi udara ketat, serta berada dalam kondisi minim nutrien.

Temuan ini menunjukkan adanya kemampuan adaptasi genetik yang memungkinkan mikroba bertahan di lingkungan ekstrem.

“Saat bakteri tersebut ditemukan, semuanya benar-benar seperti ‘berhenti dan periksa semuanya lagi’,” ujar Alexandre Rosado, profesor biosains di King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi, dikutip MPN Indonesia dari Live Science, Senin (5/1).

Dampak terhadap Keamanan Misi Antariksa

Penemuan ini memunculkan kekhawatiran terkait potensi pencemaran mikroba dalam misi antariksa.

Para ilmuwan kini menguji apakah bakteri tersebut mampu bertahan dan beradaptasi dalam kondisi simulasi planet, terutama untuk memahami risiko terhadap misi ke Mars.

Pengujian difokuskan pada wilayah kutub utara Mars, lokasi pendaratan misi Phoenix NASA pada 2008, yang dianggap memiliki kondisi ekstrem dan sensitif terhadap kontaminasi biologis.

Pengujian Ketahanan Mikroba di Simulasi Mars

Peneliti telah membangun ruang simulasi planet di King Abdullah University of Science and Technology untuk menempatkan bakteri dalam kondisi menyerupai Mars dan lingkungan luar angkasa.

Baca Juga:  NASA Temukan Planet Dingin Dekat Bumi, Bisa Dihuni?

Ruang tersebut kini memasuki tahap perakitan akhir, dengan eksperimen awal dijadwalkan dimulai pada awal 2026.

Lingkungan buatan ini dirancang meniru tekanan rendah yang kaya karbon dioksida, tingkat radiasi tinggi, serta fluktuasi suhu ekstrem sebagaimana yang dihadapi selama perjalanan antariksa.

“Lingkungan terkendali ini memungkinkan ilmuwan mempelajari bagaimana mikroba tangguh beradaptasi dan bertahan di bawah kombinasi tekanan yang setara dengan yang ditemui selama penerbangan luar angkasa atau di permukaan Mars,” jelas Rosado.

Ia menyebut, secara teori, beberapa spesies yang ditemukan membawa gen yang mendukung adaptasi terhadap tekanan luar angkasa, termasuk kemampuan perbaikan DNA dan ketahanan dalam kondisi dormansi.

Meski demikian, kelangsungan hidup mikroba tersebut masih bergantung pada kemampuan menghadapi vakum, radiasi intens, suhu ekstrem, dan paparan sinar UV tinggi yang belum sepenuhnya diuji.

Proses Penemuan dan Peran Teknologi DNA

Sampel bakteri ini dikumpulkan saat perakitan Phoenix Mars Lander pada 2007.

Tim yang dipimpin Kasthuri Venkateswaran, ilmuwan senior di NASA Jet Propulsion Laboratory, mengawetkan 215 strain bakteri dari lantai cleanroom di Kennedy Space Center’s Payload Hazardous Servicing Facility.

Pengambilan sampel dilakukan sebelum pesawat tiba pada April 2007, saat perakitan dan pengujian pada Juni, serta setelah pemindahan pesawat ke landasan peluncuran pada Agustus. Pada masa itu, teknologi klasifikasi bakteri masih terbatas.

Perkembangan teknologi DNA selama 17 tahun terakhir memungkinkan ilmuwan melakukan sequencing hampir seluruh gen mikroba, sehingga identifikasi spesies baru dapat dilakukan dengan lebih akurat dan cepat.

Rosado menekankan pentingnya pengambilan sampel jangka panjang secara terkoordinasi di berbagai cleanroom dengan metode standar.

“Ini akan membantu kami lebih jelas melihat sifat-sifat mana yang benar-benar penting untuk melindungi planet, dan mana yang mungkin berguna untuk bioteknologi atau studi kehidupan di luar Bumi,” ungkapnya.

Baca Juga:  Misi Artemis II Resmi Meluncur, 4 Astronot NASA Kembali Menuju Bulan

Prosedur Kebersihan Cleanroom NASA

Cleanroom NASA dirancang dengan sistem filtrasi udara berkelanjutan, kontrol kelembapan ketat, serta perlakuan berulang menggunakan deterjen kimia dan sinar UV.

Meski demikian, Rosado menegaskan bahwa ruangan tersebut tidak sepenuhnya bebas dari kehidupan mikroba.

“Hasil kami menunjukkan spesies baru ini biasanya jarang, tapi tetap bisa ditemukan, sesuai dengan keberadaan jangka panjang dalam jumlah rendah di cleanroom,” pungkasnya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending