Connect with us

Berita

Gunung Anak Krakatau Terbaru Hari Ini 7 September 2026, Bagaimana Kondisinya?

BMKG mengungkap abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi di Lampung dengan kualitas udara kategori sedang dan sebaran abu hingga sejumlah wilayah.

Logompn

Published

on

Gunung Anak Krakatau Terbaru Hari Ini 7 September 2026, Bagaimana Kondisinya
Gunung Anak Krakatau Terbaru Hari Ini 7 September 2026, Bagaimana Kondisinya. Gambar: Dok. BMKG

MPN Indonesia 7 September 2026 - Kondisi Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9) masih menjadi perhatian setelah erupsi gunung berapi yang terjadi sejak Jumat (4/9).

Abu vulkanik masih terdeteksi di atmosfer dan memengaruhi kualitas udara di Lampung, sementara BMKG terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap kondisi atmosfer, penerbangan, dan laut di sekitar Selat Sunda.

Di sisi lain, status gunung tetap berada pada Level III (Siaga) sesuai ketetapan PVMBG.

“Saat ini di Lampung secara keseluruhan kondisi udaranya mencapai 36,6 mikrogram per meter kubik atau 36,6 µg/m³ atau dalam kondisi udara sedang,” kata Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Stasiun Klimatologi Lampung, Suparji dalam keterangannya.

Kualitas Udara

BMKG Stasiun Klimatologi Lampung mencatat konsentrasi partikulat udara mencapai 36,6 µg/m³ pada Senin (7/9) pukul 09.30 WIB. Angka tersebut berada pada kategori sedang.

Dalam kondisi normal, konsentrasi partikulat umumnya berada di bawah 15 µg/m³.

BMKG menyebut kualitas udara biasanya masuk kategori baik ketika tidak dipengaruhi aktivitas vulkanik.

“Kalau normalnya udara itu posisi kondisinya hijau, artinya sudah naik ke atas warna hijau dan sekarang posisi biru,” ujar Suparji.

Menurut BMKG, perubahan kategori kualitas udara menunjukkan material abu vulkanik masih berada di lingkungan.

“Artinya tingkat kewaspadaannya masih diperlukan karena posisi abu vulkaniknya masih ada di tengah masyarakat,” lanjut Suparji.

BMKG membagi kategori kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikulat sebagai berikut:

  • Baik: 0–15,5 µg/m³.
  • Sedang: 15,6–55,4 µg/m³.
  • Tidak sehat: 55,5–150,4 µg/m³.
  • Sangat tidak sehat: 150,5–250,4 µg/m³.
  • Berbahaya: di atas 250,5 µg/m³.
Baca Juga:  Gempa M 6,6 Guncang Nabire Papua Tengah

Dengan nilai 36,6 µg/m³, kualitas udara Lampung masih berada pada kategori sedang.

Sebaran Abu Vulkanik Pasca Erupsi

BMKG menyatakan abu vulkanik masih terpantau melalui citra satelit Himawari.

Wilayah Lampung bagian tengah hingga barat menjadi area yang perlu mendapat perhatian.

“Itu berdasarkan citra Himawari yang saya lihat, posisinya memang terutama di Lampung bagian tengah hingga barat agar tetap waspada,” kata Suparji.

BMKG juga mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan karena partikel abu masih berada di udara.

Selain itu, BMKG menjelaskan kenaikan suhu pada siang hari dapat meningkatkan konsentrasi partikel kering di atmosfer.

“Jika dilihat dari sebaran citra satelit Himawari, kondisi udara di Lampung dalam kategori sedang. Tapi biasanya seiring dengan kenaikan suhu, partikel keringnya lebih banyak sehingga konsentrasinya bisa naik menjadi kondisi yang tidak baik. Namun jika kondisi normal, kualitas udaranya bisa kembali ke kategori baik,” tutur Suparji.

Di sejumlah wilayah Bandar Lampung, abu vulkanik sebelumnya terlihat menempel pada berbagai bagian rumah warga.

Material abu ditemukan pada teras rumah, pintu, jendela, dan pelataran rumah.

Sebagian warga juga menutup ventilasi untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.

BMKG Masih Pantau Dampak Aktivitas Gunung Anak Krakatau

BMKG mengoptimalkan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan aktivitas vulkanik.

Pemantauan dilakukan terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik.

Sebaran tersebut meliputi:

  • Banten.
  • DKI Jakarta.
  • Jawa Barat.
  • Bengkulu.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan BMKG telah menerbitkan 18 Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi awal pada 4 September 2026.

Baca Juga:  Update Korban Banjir-Longsor di Aceh: 96 Jiwa Meninggal Dunia, 113 Orang Hilang

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, dikutip MPN Indonesia dari laman resmi BMKG.

BMKG menjelaskan abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan.

Wilayah yang terdampak mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

Sementara itu, abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.

Sebarannya meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Dampak terhadap Penerbangan dan Pemantauan Laut

Berdasarkan NOTAM yang diterbitkan Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia pada Minggu (6/9), sejumlah bandar udara sempat ditutup sementara.

Bandar udara yang terdampak meliputi:

  • Bandar Udara Soekarno-Hatta.
  • Bandar Udara Halim Perdanakusuma.
  • Bandar Udara Radin Inten II.
  • Bandar Udara Budiarto.

BMKG menyatakan langkah tersebut merupakan hasil koordinasi bersama berbagai pemangku kepentingan penerbangan untuk menjaga keselamatan operasional.

Di sektor kelautan, BMKG memantau 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB. Hasil pemantauan tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut.

Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan sensor juga merekam gangguan geomagnetik dan petir vulkanik.

“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik dalam rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” ujarnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending