Connect with us

Berita

Siaga Darurat, 18 Kecamatan di Pandeglang Terdampak Banjir

Banjir di Pandeglang Banten terjang 18 kecamatan, dua masih terendam. Pemkab tetapkan status siaga darurat bencana hingga Januari 2025, dampak sosial dan ekonomi meluas.

Actress 1299250

Published

on

Siaga Darurat, 18 Kecamatan di Pandeglang Terdampak Banjir
Siaga Darurat, 18 Kecamatan di Pandeglang Terdampak Banjir. Gambar : bantennews/ Dok. Memed

MPN Indonesia 8 Desember 2024 - Banjir yang melanda Kabupaten Pandeglang, Banten, berdampak pada 18 kecamatan. Dua kecamatan, yakni Patia dan Pagelaran, masih terendam air dengan ketinggian mencapai 30–40 sentimeter.

Pemerintah Kabupaten Pandeglang telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sejak November 2024 hingga Januari 2025 akibat potensi bencana yang terus meluas.

Ketua Tim Penanggulangan Banjir Posko Pagelaran BPBD Pandeglang, Yosep Mardini, menyampaikan bahwa genangan air di sejumlah kecamatan mulai surut, meskipun akses jalan di beberapa wilayah masih terhambat.

“Dari 18 kecamatan, 2 kecamatan, yakni Patia dan Pagelaran, masih tinggi. Yang lain mulai surut,” ujarnya pada Sabtu (7/12).

Penanganan dan Bantuan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang mengerahkan tujuh personel dan satu perahu karet untuk membantu warga terdampak.

Tim ini bekerja sama dengan BPBD Provinsi Banten guna memastikan mobilitas warga, terutama di jalur antara Kecamatan Patia dan Pagelaran.

“Kita sudah siapkan teman-teman BPBD sebanyak tujuh personel untuk mengantarkan warga beraktivitas,” ungkap Yosep.

Kondisi banjir memaksa warga menggunakan perahu sebagai alat transportasi. Wandi, warga Pagelaran Timur, mengeluhkan biaya transportasi tambahan karena harus membayar Rp20 ribu setiap kali menyeberang menggunakan perahu.

“Harus naik perahu buat nyeberang,” katanya.

Status Siaga Banjir dan Dampaknya

Kepala BPBDPK Kabupaten Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, menyebutkan bahwa meskipun debit air di beberapa kecamatan menurun, wilayah terdampak banjir semakin luas.

“Sekitar 5–7 kecamatan sudah surut. Namun, wilayah yang terdampak semakin luas, sehingga status siaga darurat bencana tetap diberlakukan,” jelas Riza.

Status siaga darurat banjir didasarkan pada potensi ancaman dan dampak di masyarakat, dengan kategori berikut:

  • Siaga I: Genangan kritis selama lebih dari enam jam, ditangani gubernur.
  • Siaga II: Genangan meluas, ditangani oleh Ketua Harian Satkorlak Provinsi.
  • Siaga III: Genangan lokal yang belum kritis, ditangani Bintal Kesos setempat.
  • Siaga IV: Debit air belum signifikan, dikendalikan komando operasional wilayah.
Baca Juga:  Polri Tetapkan Satu Korporasi jadi Tersangka Gelondongan Kayu di Banjir Sumut

Dampak Ekonomi dan Sosial

Banjir di Pandeglang turut memberikan dampak ekonomi bagi warga, terutama terkait biaya transportasi menggunakan perahu.

Rudi, salah satu warga, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih untuk menyeberang.

“Empat kali naik perahu untuk menyeberang,” ungkapnya.

Selain itu, banjir menghambat aktivitas warga sehari-hari dan menambah beban ekonomi, sehingga menunjukkan perlunya peningkatan infrastruktur dan mitigasi bencana di masa mendatang.

Harapan dan Antisipasi

Yosep berharap cuaca tetap kondusif agar banjir dapat segera surut.

“Dengan tidak terjadi hujan, mudah-mudahan satu atau dua hari ke depan bisa surut,” ujarnya.

Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau tetap waspada selama musim hujan.

Langkah mitigasi yang tepat dapat mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat bencana ini.

Upaya bersama dari pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga terkait menjadi kunci menghadapi situasi siaga banjir.

Kesiapsiagaan dalam mengelola bencana diperlukan untuk meminimalkan risiko di Pandeglang.

Trending