Connect with us

Berita

Sejarah Konferensi Asia Afrika: Tonggak Lahirnya Gerakan Non-Blok

Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Bandung pada April 1955 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah dunia modern.

Logompn

Published

on

Sejarah Konferensi Asia Afrika Tonggak Lahirnya Gerakan Non Blok (1)
Suasana pembukaan Konferensi Asia Afrika | Gambar: Dok. UNESCO

Jawa Barat, MPN Indonesia 20 April 2026 - Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Bandung pada April 1955 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah dunia modern.

Pertemuan ini tidak hanya mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka, tetapi juga menjadi tonggak lahirnya solidaritas global di antara negara berkembang serta cikal bakal Gerakan Non-Blok di tengah ketegangan Perang Dingin.

Dikutip MPN Indonesia dari laman resmi Kementerian Luar Negeri RI, berikut sejarah Konferensi Asia Afrika 1955.

Latar Belakang Konferensi Asia Afrika

Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, dunia tidak serta-merta memasuki masa damai.

Justru, muncul konflik baru yang dipicu oleh rivalitas dua kekuatan besar, yaitu Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.

Ketegangan ini dikenal sebagai Perang Dingin, yang ditandai dengan perlombaan senjata nuklir dan konflik terbuka di beberapa wilayah seperti Korea dan Indo-Cina.

Di sisi lain, banyak negara di Asia dan Afrika masih berada dalam cengkeraman kolonialisme, meskipun sebagian telah meraih kemerdekaan, seperti Indonesia, India, Pakistan, dan Vietnam.

Negara-negara yang baru merdeka pun masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari konflik internal hingga sengketa wilayah warisan penjajahan.

Situasi ini diperparah oleh ketidakmampuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelesaikan berbagai konflik global secara efektif.

Oleh karena itu, muncul kebutuhan mendesak bagi negara-negara Asia dan Afrika untuk bersatu, memperjuangkan kepentingan bersama, serta menciptakan perdamaian dunia.

Persiapan Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika

Gagasan untuk menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika mulai menguat pada awal 1954.

Baca Juga:  Bocah 6 Tahun di Bogor Tewas usai Dianiaya Tiga Hari Berturut-turut oleh Ibu Tiri

Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotelawala, mengundang para pemimpin dari Birma, India, Indonesia, dan Pakistan untuk menghadiri pertemuan di Kolombo.

Dalam forum tersebut, Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, mengusulkan diadakannya konferensi yang lebih luas yang melibatkan negara-negara Asia dan Afrika.

Usulan ini mendapat sambutan positif, meskipun awalnya disertai keraguan.

Indonesia kemudian aktif melakukan pendekatan diplomatik kepada negara-negara Asia dan Afrika untuk menggalang dukungan.

Hasilnya, mayoritas negara menyetujui rencana tersebut dan menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah.

Pada akhir 1954, diadakan Konferensi Bogor yang dihadiri oleh lima negara sponsor (Indonesia, India, Pakistan, Birma, dan Ceylon).

Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan mengenai tujuan, agenda, serta daftar negara yang akan diundang dalam Konferensi Asia Afrika.

Menjelang pelaksanaan, berbagai persiapan dilakukan secara intensif. Pemerintah Indonesia membentuk panitia nasional dan sekretariat bersama.

Kota Bandung dipilih sebagai lokasi konferensi, dengan Gedung Merdeka sebagai tempat utama penyelenggaraan.

Fasilitas akomodasi, transportasi, hingga keamanan disiapkan untuk menyambut sekitar 1.500 delegasi dan ratusan wartawan dari berbagai negara.

Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika

Sejarah Konferensi Asia Afrika Tonggak Lahirnya Gerakan Non Blok
Delegasi Pengamat dari Palestina, Mufti Amien El Husaini, melakukan diskusi dengan Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, Chou En Lai, selama Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka, Bandung pada 19 April 1955 | Gambar: Dok. UNESCO

Konferensi Asia Afrika resmi dibuka pada 18 April 1955 di Bandung. Sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika menghadiri pertemuan ini untuk membahas isu-isu penting seperti perdamaian dunia, dekolonisasi, dan kerja sama internasional.

Pembukaan konferensi ditandai dengan pidato Presiden ke-1 Indonesia, Soekarno, yang berjudul “Let a New Asia and a New Africa be Born”.

Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya persatuan negara-negara Asia dan Afrika yang memiliki pengalaman serupa sebagai korban kolonialisme.

Selama konferensi berlangsung, sidang dibagi menjadi beberapa komite, yaitu Komite Politik, Ekonomi, dan Kebudayaan.

Meski sempat terjadi perbedaan pandangan di antara peserta, semangat toleransi dan musyawarah berhasil menjaga kelancaran jalannya diskusi.

Baca Juga:  Warga Lokal hingga WNA Gotong Royong Bersihkan Sungai Ciparigi Bogor

Konferensi ini juga menekankan prinsip-prinsip penting seperti kedaulatan negara, non-intervensi, non-agresi, persamaan derajat, serta hak menentukan nasib sendiri.

Prinsip-prinsip ini menjadi dasar solidaritas di antara negara-negara peserta. Adapun negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika adalah sebagai berikut:

  • Afghanistan
  • Indonesia
  • Pakistan
  • Birma
  • Filipina
  • Kamboja
  • Irak
  • Iran
  • Arab Saudi
  • Ceylon
  • Jepang
  • Sudan
  • Republik Rakyat Tiongkok
  • Yordania
  • Suriah
  • Laos
  • Thailand
  • Mesir
  • Libanon
  • Turki
  • Ethiopia
  • Liberia
  • Vietnam (Utara)
  • Vietnam (Selatan)
  • Pantai Emas
  • Libya
  • India
  • Nepal
  • Yaman

Hasil Konferensi Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika menghasilkan sebuah komunike akhir yang memuat berbagai kesepakatan penting.

Di antaranya adalah kerja sama ekonomi dan budaya, perlindungan hak asasi manusia, dukungan terhadap kemerdekaan bangsa-bangsa yang masih dijajah, serta upaya menjaga perdamaian dunia.

Salah satu hasil terpenting dari konferensi ini adalah lahirnya Dasasila Bandung, yaitu sepuluh prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam hubungan internasional.

Dasasila Bandung:

  • Menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB.
  • Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara.
  • Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil.
  • Tidak campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara lain.
  • Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan dirinya sendiri atau secara kolektif sesuai dengan Piagam PBB.
  • (a) Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun; (b) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain mana pun.
  • Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau menggunakan kekuatan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun.
  • Menyelesaikan semua perselisihan internasional dengan cara-cara damai, seperti melalui perundingan, konsiliasi, arbitrasi, atau penyelesaian hukum, atau pun cara-cara damai lainnya yang menjadi pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.
  • Meningkatkan kepentingan dan kerjasama bersama.
  • Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional.
Baca Juga:  Viral! Damkar Pecahkan Kaca Mobil Porsche untuk Ambil Kunci yang Tertinggal

Lebih jauh, semangat dan hasil dari Konferensi Asia Afrika menjadi landasan bagi terbentuknya Gerakan Non-Blok.

Gerakan ini bertujuan untuk menjaga kemandirian negara-negara berkembang agar tidak terjebak dalam persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur selama Perang Dingin.

(AKM/NID/RAD)

Trending