Connect with us

Internasional

Presiden Iran dan Trump bakal Bahas Negosiasi Nuklir

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan membuka negosiasi nuklir dengan AS di tengah tekanan dan ancaman Presiden Donald Trump.

Logompn

Published

on

Presiden Iran dan Trump bakal Bahas Negosiasi Nuklir
Presiden Iran dan Trump bakal Bahas Negosiasi Nuklir. Gambar: The Parliament

MPN Indonesia 4 Februari 2026 - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan pemerintahannya untuk kembali membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat terkait program nuklir, menyusul meningkatnya tekanan dan ancaman dari Presiden AS Donald Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (3/2), di tengah eskalasi ketegangan politik luar negeri antara Washington dan Teheran, termasuk pengerahan kapal perang Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan ini muncul setelah Trump kembali menyampaikan ultimatum terkait program nuklir Iran dan memperingatkan konsekuensi apabila kesepakatan tidak tercapai.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menyatakan harapan agar dialog dapat menghasilkan kesepakatan baru yang mencegah pengembangan senjata nuklir.

Trump secara terbuka mengaitkan proses negosiasi dengan pengerahan kekuatan militer AS di kawasan, seraya menegaskan bahwa kegagalan diplomasi dapat berujung pada dampak serius.

Instruksi Negosiasi dan Sikap Pemerintah Iran

Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan secara langsung bahwa ia telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Iran untuk membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat.

“Saya sudah menginstruksikan Menteri Luar Negeri saya, dengan syarat kondisi lingkungan yang sesuai, yang bebas dari ancaman dan harapan yang tidak masuk akal, untuk melakukan negosiasi yang adil dan merata, yang dipandu oleh prinsip-prinsip martabat, kehati-hatian, dan kelayakan” tulis Pezeshkian pada dikutip MPN Indonesia pada Rabu, (4/2) melalui Aljazeera.

Pemerintah di Teheran juga menyatakan tengah menelaah sejumlah jalur diplomatik yang diusulkan negara-negara kawasan, termasuk Qatar, Turki, Mesir, dan Oman, guna meredakan ketegangan dengan Washington.

Baca Juga:  Peru Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran di Tengah Konflik Timur Tengah

Mereka menyebutkan bahwa kerangka pembicaraan diharapkan dapat terbentuk dalam beberapa hari ke depan.

Laporan media Iran menyebutkan bahwa pembicaraan berpotensi digelar di Istanbul, Turki, pada Jumat mendatang, dengan rencana kehadiran Utusan Khusus AS, Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Namun, hingga kini, baik pihak Iran maupun Amerika Serikat belum mengonfirmasi secara resmi jadwal dan lokasi pertemuan tersebut.

Pernyataan Menteri Luar Negeri dan Peluang Kesepakatan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat masih terbuka.

“Saya melihat kemungkinan adanya pembicaraan lanjutan jika tim negosiasi AS mengikuti apa yang disampaikan Presiden Trump, yakni untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata guna memastikan tidak ada senjata nuklir,” ujar Araghchi dalam keterangannya.

“Jika memang demikian, saya yakin kesepakatan dapat dicapai,” lanjutnya.

Araghchi juga dilaporkan melakukan komunikasi dengan sejumlah mitra regional, termasuk Arab Saudi, Mesir, dan Turki, untuk membahas perkembangan terbaru.

FarsNews mengutip sumber anonim yang menyebutkan bahwa Pezeshkian telah memerintahkan dimulainya kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran.

“Iran dan Amerika Serikat akan mengadakan pembicaraan mengenai masalah nuklir,” dikutip MPN Indonesia melalui FarsNews pada Rabu, (4/2).

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membenarkan bahwa negosiasi tidak langsung masih berlangsung.

“Negara-negara di kawasan bertindak sebagai mediator dalam pertukaran pesan,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah poin telah dibahas dan detail setiap tahapan diplomasi tengah diselesaikan.

Donald Trump Berharap Dapat Mencapai Kesepakatan dengan Iran

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklir. Namun, ia juga menyampaikan peringatan.

Baca Juga:  SBY Soroti Negosiasi Nuklir AS-Iran, Sukses atau Gagal?

Dalam pernyataan terpisah kepada wartawan, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militernya ke kawasan.

“Saat ini kami memiliki kapal-kapal yang menuju Iran, kapal-kapal besar yang terbesar dan terbaik dan kami sedang melakukan pembicaraan dengan Iran dan kita akan lihat bagaimana hasilnya. Jika kita bisa mencapai kesepakatan, itu akan sangat bagus dan jika tidak, mungkin hal-hal buruk akan terjadi,” ujarnya.

Sumber-sumber Iran menyebutkan bahwa Trump mengajukan tiga syarat utama untuk dimulainya kembali perundingan, yakni pengayaan uranium nol, pembatasan program rudal balistik Iran, dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional.

Iran selama ini menolak tuntutan tersebut dan menegaskan kedaulatan nasionalnya, meski menyatakan kesiapan untuk menunjukkan fleksibilitas terbatas dalam isu pengayaan uranium.

Latar Belakang Ketegangan dan Posisi Regional

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat seiring pengerahan kapal induk dan jet tempur AS ke Timur Tengah.

Situasi ini juga dipicu oleh demonstrasi massal di Iran pada Januari yang menewaskan ribuan orang dan menjadi tantangan bagi pemerintah.

Meski demikian, ancaman Trump kemudian bergeser menjadi dorongan untuk tercapainya kesepakatan nuklir melalui jalur diplomatik.

Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel, menyatakan kekhawatiran bahwa program nuklir Iran berpotensi menghasilkan senjata.

Pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa program tersebut ditujukan untuk tujuan damai dan sipil.

Badan pengawas nuklir PBB masih meminta klarifikasi terkait stok uranium Iran pascaserangan pada Juni tahun lalu, sementara Iran menyebutkan kemungkinan pengiriman uranium yang diperkaya ke luar negeri sebagai bagian dari kesepakatan yang mencakup pencabutan sanksi ekonomi.

Dikutip MPN Indonesia melalui Reuters pada Rabu, (4/2), seorang diplomat regional menyebutkan bahwa perwakilan dari Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan beberapa negara lainnya diperkirakan akan terlibat dalam pertemuan di Istanbul.

Baca Juga:  Jokowi Beri Ucapan Selamat ke Presiden Terpilih AS Donald Trump, Singgung Kedamaian Global

Dalam konteks ini, Turki dan negara-negara kawasan lainnya berupaya memfasilitasi dialog untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

(ADN/NID/RAD)

Trending