Connect with us

Internasional

Situasi Memanas! Pakistan dan Afghanistan Perang Terbuka di Perbatasan

Pakistan resmi nyatakan perang terbuka terhadap Taliban Afghanistan usai serangan udara di Kabul, Kandahar, dan Paktika.

Logompn

Published

on

Situasi Memanas! Pakistan dan Afghanistan Perang Terbuka di Perbatasan
Situasi Memanas! Pakistan dan Afghanistan Perang Terbuka di Perbatasan. Gambar: BBC

MPN Indonesia 27 Februari 2026 - Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif secara resmi menyatakan perang terbuka terhadap pemerintah Taliban di Afghanistan pada Jumat dini hari (23/2).

Pernyataan ini disampaikan setelah Pakistan meluncurkan serangan udara ke ibu kota Kabul serta provinsi Kandahar dan Paktika.

Serangan itu diklaim sebagai respons atas serangan militer Afghanistan sebelumnya di wilayah perbatasan kedua negara.

“Kesabaran kami telah habis. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda,” tulis Khawaja Asif melalui akun X @KhawajaMAsif, dikutip MPN Indonesia pada Jumat, (27/2).

Ia menegaskan bahwa Pakistan telah berusaha maksimal untuk menjaga stabilitas melalui diplomasi langsung maupun lewat negara-negara sahabat.

Namun, serangkaian serangan dari pihak Afghanistan telah memicu langkah militer tegas dari Islamabad.

Militer Pakistan mengklaim telah menghancurkan 27 posisi Taliban dan merebut 9 lainnya di wilayah Kabul, Kandahar, dan Paktika.

Menteri Penerangan Pakistan Attaullah Tarar menyebut serangan udara tersebut menewaskan 133 pejuang Taliban Afghanistan serta melukai lebih dari 200 lainnya.

Di sisi lain, juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, membuat pernyataan pada platform X melalui akun @Zabehulah_M33.

“Militer Pakistan yang pengecut telah melakukan serangan udara di beberapa wilayah Kabul, Kandahar, dan Paktia. Untungnya, tidak ada laporan korban jiwa,” tulisnya.

Eskalasi Serangan dan Saling Menyalahkan

Menurut laporan dari Al Jazeera di Kabul, serangan udara pertama terjadi sekitar pukul 01.50 waktu setempat pada Jumat dini hari (23/2), disusul oleh rentetan tembakan dari senjata anti-pesawat milik Afghanistan.

Serangan ini berlangsung setelah pihak Afghanistan sebelumnya menyerang pos-pos militer Pakistan di sepanjang perbatasan, yang memicu pembalasan oleh Islamabad.

Baca Juga:  AS-Iran Mau Deal, Selat Hormuz bakal Dibuka Tanpa Tarif

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari juga memberikan pernyataan tegas terkait aksi militer negaranya.

“Respons angkatan bersenjata kita komprehensif & tegas,” tulisnya di X.

“Mereka yang salah mengartikan perdamaian kita sebagai kelemahan akan menghadapi respons yang kuat dan tidak seorang pun akan luput dari jangkauan,” tegasnya.

Zardari juga memperingatkan bahwa Pakistan sepenuhnya menyadari di mana para perencana, fasilitator, dan pendukung kekerasan berada.

Menurut sumber militer Afghanistan, serangan darat yang dilakukan Taliban pada Kamis (22/2) di perbatasan merupakan respons atas serangan udara Pakistan sebelumnya pada minggu (18/2).

Dalam insiden ini, dilaporkan 10 tentara Pakistan tewas dan 13 pos militer direbut oleh pasukan Afghanistan.

Islamabad mengklaim bahwa dalam serangan Ahad tersebut, mereka menewaskan sedikitnya 70 pejuang.

Namun, Kabul membantah klaim itu dan menyatakan bahwa korban dari pihak sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, turut jatuh.

Operasi Ghazab lil-Haq dan Ketegangan Jalur Durand

Serangan udara Pakistan dilancarkan sejak Minggu (22/2) dalam operasi militer bersandi Operation Ghazab lil-Haq, yang menargetkan sejumlah provinsi Afghanistan seperti Nangarhar, Kabul, Paktika, dan Kandahar.

Menurut Islamabad, operasi ini menyasar kubu Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) dan kelompok militan lain yang dituduh menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis untuk menyerang Pakistan.

Kabul menolak tuduhan ini dan menyebut serangan udara sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional.

Kementerian Informasi Pakistan melaporkan bahwa sasaran serangan meliputi markas brigade dan korps di Kabul dan Kandahar, depot amunisi, serta pangkalan logistik di Kandahar, dan markas komando korps di provinsi Paktika.

Pesawat tempur Pakistan dikabarkan masih berada di wilayah udara Afghanistan usai pemboman tersebut.

Serangan ini menambah ketegangan yang telah meningkat sejak Oktober 2025, ketika gencatan senjata antara kedua negara gagal dipertahankan pasca serangkaian bentrokan mematikan.

Baca Juga:  China Luncurkan 111 Pesawat Tempur Lintasi Perbatasan Taiwan

Jalur Durand, perbatasan sepanjang 2.611 km yang menjadi sengketa historis antara Pakistan dan Afghanistan, menjadi salah satu titik konflik utama karena tidak diakui secara penuh oleh Kabul.

Situasi Kemanusiaan

Bentrokan bersenjata terbaru tidak hanya menewaskan personel militer dari kedua pihak, namun juga menimbulkan korban sipil dan memicu krisis kemanusiaan.

Serangan yang menyasar wilayah padat penduduk menyebabkan evakuasi di kamp-kamp pengungsi dekat wilayah Torkham.

PBB menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi.

Sebelumnya, negara-negara seperti Qatar dan Turki telah mencoba memediasi gencatan senjata antara Pakistan dan Afghanistan.

Namun, perjanjian-perjanjian tersebut berulang kali gagal karena kedua pihak saling menuduh melanggar komitmen.

Hingga kini, belum ada konfirmasi apakah proses negosiasi terbaru akan dilanjutkan pasca eskalasi terbaru ini.

Juru bicara militer Taliban, Mawlawi Wahidullah Mohammadi, sempat menyatakan bahwa operasi pembalasan telah dimulai pada Minggu malam (22/2).

Sementara itu, Zabihullah Mujahid menegaskan bahwa jika rezim militer Pakistan kembali melakukan pelanggaran wilayah udara, maka Islamabad akan menjadi sasarannya.

Namun, pernyataan terkait serangan balik terhadap pos-pos Pakistan yang sebelumnya dipublikasikan Mujahid di platform X kini telah dihapus, dan belum ada konfirmasi baru dari Taliban terkait operasi tersebut.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending