Connect with us

Ekonomi

Surplus Perdagangan RI-AS Naik di Tengah Penerapan Tarif Donald Trump

Di tengah tarif resiprokal AS, Indonesia tetap catat surplus dagang Maret 2025 sebesar 1,98 miliar dolar AS, ditopang ekspor nonmigas utama.

Logompn

Published

on

Surplus perdagangan ri as naik di tengah penerapan tarif donald trump
Surplus Perdagangan RI-AS Naik di Tengah Penerapan Tarif Donald Trump. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 22 April 2025 - Di tengah kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan Amerika Serikat, Indonesia mencatat peningkatan signifikan pada surplus perdagangan dengan negara tersebut selama Maret 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa surplus neraca dagang nonmigas Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai 1,98 miliar dolar AS, naik dari 1,57 miliar dolar AS pada Februari 2025 dan 1,50 miliar dolar AS pada Maret 2024.

Kinerja Perdagangan RI-AS dalam Tekanan Perang Dagang

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa kinerja perdagangan Indonesia tetap positif meski berada dalam tekanan global.

Sejak Presiden Amerika Serikat memberlakukan tarif resiprokal pada 185 negara per (2/4), termasuk terhadap Indonesia, eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok turut memengaruhi dinamika perdagangan global.

AS dan Tiongkok saling menaikkan tarif hingga mencapai 245% terhadap beberapa komoditas.

Meski demikian, Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan dengan AS, yang ditopang oleh ekspor nonmigas terutama dari tiga komoditas utama yaitu mesin dan perlengkapan elektrik (465 juta dolar AS), alas kaki (239,7 juta dolar AS), serta lemak dan minyak hewan nabati (238,7 juta dolar AS).

“Pada Maret 2025, Indonesia mengalami surplus perdagangan barang pada kelompok non-migas dengan beberapa negara dan tiga terbesarnya di antaranya adalah Amerika Serikat, India, dan Filipina,” ujar Amalia, dikutip MPN Indonesia dari kanal YouTube resmi BPS Statistics pada Selasa (22/4).

Kontribusi Ekspor Nonmigas terhadap Surplus Perdagangan

Ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat selama Maret 2025 mencapai 2,63 miliar dolar AS, meningkat 12,08% dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga:  ASEAN Tak Mau Balas Dendam ke AS soal Tarif Impor

Komoditas utama yang mendorong ekspor ini mencakup HS85 (mesin dan perlengkapan elektrik), HS64 (alas kaki), dan HS61 (pakaian dan aksesori rajutan).

Pangsa ekspor alas kaki ke AS menyumbang sekitar 34,16% dari total ekspor produk tersebut, menjadikan negara itu pasar utama.

Secara kumulatif, periode Januari hingga Maret 2025, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan AS sebesar 4,32 miliar dolar AS.

Angka ini meningkat dari 3,61 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar terhadap surplus tersebut berasal dari komoditas mesin dan perlengkapan elektrik (1,22 miliar dolar AS), alas kaki (657,9 juta dolar AS), dan pakaian rajutan (nilai tidak dirinci dalam data tambahan namun disebutkan sebagai salah satu kontributor utama).

Perbandingan dengan Mitra Dagang Lain

Selain Amerika Serikat, dua negara lain yang turut menyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia pada Maret 2025 adalah India dan Filipina.

Surplus dengan India tercatat sebesar 1,04 miliar dolar AS, terutama dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta besi dan baja.

Filipina menyumbang surplus 714,1 juta dolar AS, dengan kontribusi utama dari kendaraan, bahan bakar mineral, dan lemak serta minyak nabati.

Sebaliknya, Indonesia mengalami defisit perdagangan nonmigas dengan beberapa negara seperti Tiongkok (1,11 miliar dolar AS), Australia (350 juta dolar AS), dan Thailand (195 juta dolar AS).

Defisit ini disebabkan oleh tingginya impor komoditas seperti mesin dan peralatan mekanis, plastik, serealia, serta kendaraan dari ketiga negara tersebut.

Kinerja Perdagangan Nasional Secara Umum

Pada Maret 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 4,33 miliar dolar AS, meningkat dari 3,12 miliar dolar AS pada Februari 2025.

Baca Juga:  Perundingan Tarif RI-AS Dibahas, Prabowo Ingin Solusi Win-Win

Nilai ekspor Indonesia mencapai 23,25 miliar dolar AS, sementara nilai impor tercatat sebesar 18,92 miliar dolar AS.

Surplus ini merupakan bulan ke-59 berturut-turut sejak Mei 2020 Indonesia mencatatkan surplus neraca dagang.

Dari total nilai ekspor tersebut, ekspor nonmigas mendominasi sebesar 21,80 miliar dolar AS, dengan sektor industri pengolahan memberikan kontribusi tertinggi.

Tiga komoditas nonmigas unggulan yang memberikan andil signifikan terhadap total ekspor adalah besi dan baja, CPO dan turunannya, serta batu bara.

Secara kumulatif, selama Januari hingga Maret 2025, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar 10,92 miliar dolar AS, meningkat 3,51 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Surplus ini didukung oleh kinerja ekspor nonmigas yang kuat, meskipun neraca perdagangan migas tetap mengalami defisit sebesar 4,84 miliar dolar AS.

Dampak Tarif Trump Terhadap Dinamika Perdagangan

Meski kebijakan tarif Trump diberlakukan secara luas, Indonesia mampu mempertahankan surplus perdagangannya, terutama terhadap Amerika Serikat.

Dalam kondisi eskalasi perang dagang, performa ekspor Indonesia ke pasar AS menunjukkan ketahanan, ditopang oleh permintaan tinggi atas produk industri pengolahan.

Sementara itu, importasi dari AS mencakup mesin dan peralatan mekanis, kedelai, serta produk migas seperti minyak mentah dan LPG, dengan nilai masing-masing mencapai ratusan juta dolar AS dalam tiga bulan pertama 2025.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending