Connect with us

Internasional

Dewan Keamanan PBB Gelar Rapat Darurat usai 3 TNI Pasukan Perdamaian di Lebanon Tewas

Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) tewas dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan.

Logompn

Published

on

Dewan Keamanan PBB Gelar Rapat Darurat usai 3 TNI Pasukan Perdamaian di Lebanon Tewas
Dewan Keamanan PBB Gelar Rapat Darurat usai 3 TNI Pasukan Perdamaian di Lebanon Tewas | Gambar: YouTube/United Nations

MPN Indonesia 1 April 2026 - Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) tewas dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan.

Kejadian itu mendorong Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat pada Selasa (31/3). Rapat ini diselenggarakan atas permintaan Indonesia dan Prancis.

Ketiga prajurit yang gugur berasal dari Indonesia dan merupakan bagian dari kontingen UNIFIL yang ditempatkan di sekitar perbatasan Israel–Lebanon.

“Izinkan saya memulai dengan menghormati kenangan para prajurit perdamaian yang gugur dengan menyebutkan nama-nama mereka di Ruang Sidang yang Terhormat ini,” kata Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, dilihat MPN Indonesia melalui YouTube United Nations.

“Zulmi Aditya Iskandar, Kapten Infanteri, berusia 33 tahun; Muhammad Nur Ichwan, Sersan Satu, berusia 25 tahun; Farizal Rhomadhon, Kopral, 27 tahun,” tambahnya.

Farizal tewas akibat ledakan proyektil di pos Indonesia di Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3), sementara Zulmi dan Ichwan gugur pada Senin (30/3) saat konvoi mereka diserang di wilayah Bani Hayyan.

Selain korban tewas, lima anggota TNI lainnya mengalami luka-luka, yakni Kapten Sultan Wiryan Maulana, Kopral Rico Pramudia, Kopral Arif Kurniawan, Kopral Bayu Prakoso, dan Kadet Denny Rianto.

Eskalasi Konflik di Lebanon

Rapat darurat Dewan Keamanan ini digelar di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, menjelaskan bahwa Hizbullah terus meluncurkan roket, rudal, dan drone ke arah Israel dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki.

Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) disebut-sebut telah memperluas operasi militernya dan memerintahkan evakuasi wilayah-wilayah operasional UNIFIL.

Baca Juga:  Benjamin Netanyahu Bersumpah Tidak Akan Ada Negara Palestina

Lacroix menambahkan bahwa IDF pada akhir Maret lalu melepaskan tembakan peringatan dan senjata utama ke arah patroli UNIFIL di pos pemeriksaan yang baru dibentuk.

“Kami mengatakannya dengan jelas, dan sudah terlalu sering perlu dikatakan. Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melalui laman resmi PBB.

Menurut data otoritas Lebanon hingga 30 Maret 2026, konflik tersebut telah menyebabkan 1.240 korban jiwa dan 3.680 luka-luka, serta memaksa lebih dari 1,1 juta warga mengungsi.

Tanggapan Internasional

Delegasi Prancis mengutuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian itu.

Menteri Eropa dan Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyatakan dalam unggahan media sosial bahwa ia telah meminta pertemuan darurat tersebut.

“Setiap hari, pasukan penjaga perdamaian UNIFIL menghadapi risiko penembakan, ranjau, dan IED,” ujar perwakilan Prancis.

Sementara itu, delegasi Israel menuduh Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian pasukan UNIFIL.

Mereka menyatakan bahwa ledakan di Bani Hayyan merupakan hasil dari alat peledak yang dipasang Hizbullah.

“Izinkan saya memperjelas… kami tidak memiliki keinginan untuk tetap tinggal atau beroperasi di Lebanon,” ujar delegasi Israel.

Israel juga meminta PBB untuk menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris dan menuntut pertanggungjawaban Iran.

Sementara itu, delegasi Amerika Serikat, yang menjadi Presiden Dewan bulan Maret, menyerukan penahanan penilaian hingga investigasi PBB selesai.

Ia menekankan bahwa Hizbullah memiliki “sejarah panjang menyerang pasukan penjaga perdamaian dan menembaki warga sipil Israel dari dekat posisi UNIFIL”.

RI Desak PBB Lakukan Penyelidikan

Delegasi Indonesia menolak klaim bahwa para prajurit TNI gugur karena berada di zona perang aktif.

“Beberapa pihak yang menentang berpendapat bahwa para tentara yang gugur ditempatkan di zona perang aktif, tetapi kerangka berpikir ini mengabaikan siapa yang bertanggung jawab atas terciptanya dan berlanjutnya permusuhan aktif ini,” ujar delegasi Indonesia.

Baca Juga:  Israel Dikabarkan Setuju dengan Gencatan Senjata selama 60 Hari dengan Hizbullah

“Kami menuntut penyelidikan oleh PBB, bukan alasan dari Israel,” sambungnya.

(ADN/NID/RAD)

Trending